
Zahra terdiam sembari menatap tajam ke mata lelaki tua dihadapannya saat ini.
oke bagini saja nak biar kamu percaya saya akan tunjukan semua pesan dan keinginan dari Leluhur kamu ucap Sang Kakek segera memengang pundak Zahra.
Keduanya menghilng bangai asap dan muncul kembali dimana sang Kakek Zahra sedang bersandar di sebuah pohon kapuk yang cukup besar sambil berzikir dengan tasbih yang di wariskan pada Zahra.
"Iihatlah apa kamu kenal orang itu?" tanya Kekak tua.
"Apa itu Kakek saya....?"
Benar itu Kakek kamu ia sedang kelelahan dan beristirat memulihkan energi yang terkuras akibat pertarungan.
"Pertarungan apa maksudmu.....?"
Tanpa menjewab Kakek tua kembali membawa Zahra ke tempat dimana sang Kakek Zahra sedang bertarung melawan seorang raja dari kerajaan gaib.
"Apa maslahnya mereka bertarung?"
"raja itu Marah pada Kakekmu membawa ajaran baru dan banyak dari rakyatnya yang tertarik lalu ikut menyembah tuhan yang satu." jelas Kakek tua.
"Kakekku menyebar luaskan agama islam pada mahluk-mahluk tak mata itu....??"seru Zahra bertanya.
"Iya Nak agama islamlah yang di ajarkan oleh Kakekmu namun jalannya tidaklah mulus banyak orang yang memusuhinyaa bahkan berani menyerangnya tidak sedikit ornag yang ingin membunuhnya." Cerita Sag Kakek tua.
"Tapi Kakekmu tidak pernah menyerah ia berjanji bila ia gugur berhasil di bunuh oleh musuhnya maka anak,cucu, atau cicitnya akan meneruskan perjuangannya." Lanjut Kakek tua sembari menatap pertarungan yang sedang berlangsung.
Terlihat sakali Kakek Zahra bukan lelaki lemah ia menangkis semua serangan yang di tujukan padanya dengan gesit ia bahkan bisa menghilang dan berpindah tempat secepat kilat.
Zahra terpana melihat sang Kakek yang begitu hebat dimatanya.
Kakek tua melihat ke arah Zahra sambil terkekeh pelan.
"Kenapa Kakek tertawa...? Zahra binggung mendapati si Kakek tua Alias Jin qorin tertawa dampingnya kerena menutnya tidak ada yang lucu.
"Kamu akan mendapatkan semua ilmu aliran putih yang dimiliki Kakekmu dan leluhurmu bila kamu berhasil menyelasai ujianmu Nak." kata Kakek tua penuh mesteri.
"Ujian apa....?"
"Sebagai bekal aku akan memberikan sedikit energi putih yang di tinggalkan lelihurmu dengan sedikit energi itu kau bisa berlatih dan mengunakannya untuk membatu menyesalaikan tugas yang di emban oleh teman lelakimu." cicit Kakek tua di samping Zahra.
"Bila kamu berhasil menyalahkan iblis itu bersama temanmu maka kau akan lulus dan mungkin semua energi atau ilmu aliran putih yang di tinggalkan oleh Lulurmu akan memilihmu untuk melanjutkan perjuangannya." penjelasan Kakek tua itu membuat Zahra bungkam tanpa sedikitpun Suara.
"maksudmu iblis yang dilawan oleh Abimanyu...? tanya Zahra setelah berhasil mengusai dirinya dari rasa terkejutnya.
"Iya benar temanmu sedang menghadapi iblis wanita yang juga salah satu iblis yang manjadi musuh Kakekmu." ungkap sang Kakek tua.
"Kenapa bisa dia jadi musuh Kakek?"
Zahra terkejut karena kini ia berpidah tempat lagi. Yang terlihat Oleh Zahra adalah Kakeknya sedang berhadapan dengan seorang wanita yang tidak lain dalah putri Arum.
Keduanya melihat pertarungan dan obrolan Kakek Zahra sengan musuhnya.
"Arum berhenti dengarkan aku...?" teriak Kakek Zahra.
"putri Arum menghentikam serangannya. baik akan aku dengarkan ucehanmu sebelum aku mengirimmu ke neraka." kata putri Arum seraya terkekeh.
"Kau salah paham Arum aku tidak pernah memaksa sedikitpun semua orang yang ikut ajaranku murni karena keinginan mereka. Aku mohon jangan siksa mereka kerena mengikuti ajaranku."
"Hanya itu permintaanmu sebelum ku kirim keneraka...?"
"Itu bukan permitaan untuk kematian, kapanpun dan dimanapun aku siap untuk menemui penciptaku yang kupuja siang dan malam, hanya saja hatiku sangat sakit melihat sesama mahluk yang memuja tuhan yang sama denganku harus mendapat siksaan darimu setiap hari." keluh Kakek Zahra.
"Sakit kau bilang...? Disini akulah yang lebih sakit, aku memberikan mereka tempat tinggal di wilayahku peternakan perkembunan untuk usaha mereka meskipun hasilnya di bagi dua denganku mereka hidup makmur tanpa kekurangan. Mereka hormat padaku apapun yang aku suruh mereka turuti, sampai kau datang datang membawa ajaran baru merusak semuanya hasil usahaku selama berpuluh-puluh tahun merusut drastis. Kau mengejari mereka sholat lima kali dalam sehari membuat meningalkan pekerjaan saat waktu panggilan sholat pada mereka datang. Itu semua merugikan aku....!!! Teteriak putri Arum marah.
"Itulah awal mula siksaan mereka dapatkan. di tambah kau mengajari mereka tidk boleh tunduk pada sesama mahluk tidak boleh mengormati dan memuji secara berlebihan meski itu pada seorng pemimpin, hingga siksaan terus mereka dapatkan dariku...!!" Lanjut putri arum dengan nada suara lantang menyuarakan isi hatinya.
"Benar kita tidak boleh memuja berlebihan pada siapapun kerena dipuji, di hormati berlebihan akan mendatang sifat sombong itulah yang harus di hindari sifat itu milik iblis musuh manusia." jelas Kakek Zahra.
Zahra yang mendengar menganguk membenarkan ucapan sang Kakek.
"Iiblis dimana orang yang sebut sebagai iblis itu. Aku ingin melihatnya ???"
"Hanya orang-ornag yang Allah kekendaki yang bisa melihat keberadaan mereka." sahut Kakek Zahra.
"Ha....ha......ha......ha.....ha....ha. hai Kakek tua aku adalah pemimpin di wilayahku ini sudah sepentasnya aku di segani di hormati dan di puji oleh rakyatku. Kau itu hanya pembual ucapanmu tidak bisa dibuktikan kebenarannya." Ucapan putri Arum di sertai sembemberan petir yang diba-tiba menggelegar.
Melihat pemena alam Kakek Zahra tersenyum sambil meliat ke langit awan mendung pertanda sang pencifta juga marah mendengar ucapan wanita di hadapannya.
"Hai semua Rakyatku kalian semua dengarkan Aku lelaki tua ini hanyalah lelaki gila semua yang dia katakan hanyalah kebohongan. Ajarannya juga tidak bisa dibuktikan kebenaranya jadi untuk apa kalian ikuti yang memberikan kehidupan pada kalian itu aku bukan sang pencifta seperti yang di ucapkan lelaki tua ini. lihatlah buktinya nyatanya akulah yang memberiakan pekerjaan peternakan perkebunan dan rumah yang kalian tinggali. Aku harap jangan ada yang berhianat tetaplah menganggap AKU orang yang patut kalian hormati dan junjung tinggi namanya." pidato Putri Arum dintengah warga yang sedang berkerumun menyaksikan obrolannya dengan Kakek Zahra.
Kakek Zahra menetiskan air matanya dalam hatinya ia berdoa untuk semua orang yang berada di sana agar segara mendpatkan hidayah dari sang pencifta.
"Lebih baik kamu pergi dari kekek tua ucap salah satu Warga."
Putri arum yang mendengar Saran dari dari warganya segara mendekat dan mencekik leher orang tersebut.
Ampun Tuan kata warga tersebut mengiba
"lapaskan dia Arum...!!!" perintah Kakek zahra dengan sorot mata tajam.
"Aku akan melapasnya sebagai gantinya kaulah yang akan kukurim pada penciftamu yang selalu kau agung-agungkan itu." tawar putri Arum.
'Baiklah jika memang sudah kehendaknya aku pasti akan mati, namun ingatlah Arum saat aku tiada pasti akan ada yang melanjutkan perjuanganku nanti. bila kau ingin kelihat iblis maka lihatlah dirimu sediri sifatmu sudah hampir sama persis dengan iblis." ucap kakek Zahra tanpa rasa takut.