
hari berganti bulan demi bulan berlalu. Abi dan Mars sudah menimba ilmu selama tiga tahun. Mars baru seja kembali telah melakukan perjalan melintasi ruang dan waktu. Demi mendapatkan pelatihan dari sang Nenek moyangnya yaitu pangeran Diponegoro.
"Zahra, Om Mars Ayo kita ke Markas malam ini menemui Dewi teratai. Kakek terang terangan menyatakan permusuhan padaku." ujar Abi sore itu.
"Devan ingin menemui aku malam ini, entah untuk membicarakan apa." ujar Mars.
"Apa om Mars bertemu Ayah Devan?" tanya Abi.
"iya tadi pagi saat aku keluar bersepeda bertemu Devan yang melintas dijalan yang aku lewati ia berhenti dan mengajak aku bertemu malam ini." Ungkap Mars.
Zahra menggenggam tasbih ditangannya, ia memejamkan matanya mencoba melihat apa yang akan di terjadi jika Mars bertemu dengan Devan malam ini.
"beberapa saat kemudian Zahra membuka matanya menatap Mars dan berkata. Jangan pergi Om, sebaiknya ikut kita ke markas bertemu Kakek Raden Mas beliau ingin menyampaikan sesuatu pada kita." ucap Zahra di anggukki Abi.
"Baiklah aku percaya pada kalian." sahut Mars.
ketiganya berpisah mengerjakan aktivitas masing-masing.
Di markas milik Abi, Dewi Teratai emas yang baru berumur dua tahun setengah mengubah bentuknya menjadi anak berumur sekitar delapan tahun.
"Hey Dewi teratai, aku sudah katakan padamu jangan mengubah bentuk sesuka hatimu bagaimana jika orang lain tau, mereka bisa berpikir yang tidak-tidak." tegur Wijayakusuma.
"Kaka Wijaya jangan khawatir mereka tidak akan bisa melihat aku dengan bentuk seperti ini. hanya orang yang hendaki yang mampu melihatku begini." sahut Dewi teratai emas.
"Anak ini selalu saja menjawab dengan banyak alasan." gumam Wijayakusuma.
"Dewi ayo berlatih." ajak Putri Larasati.
"beri aku makan yang enak nanti, ka Wijaya memasak untuk kami. Ka Abi akan datang bersama yang lain malam ini. masak yang banyak." perintah Dewi teratai sambil berlari menghampiri putri Larasati.
"Ahhhhh aku lagi yang kena." Cicit Wijayakusuma.
"Ayo Ka Laras kita berlatih di sungai." ajak Dewi teratai.
"terlalu berbahaya berlatih di air, jika terjadi sesuatu padamu apa yang akan aku jelaskan pada Abi." tolak putri Larasati.
"Aku ini berasal dari tumbuhan air Ka Laras, aku tau bagaimana mengatasinya bahkan jauh lebih hebat dari Ka Laras." ungkap Dewi teratai.
Baiklah aku akan mengawasi kamu. jangan terlalu banyak bermain, kakamu Abi akan melihat kemampuan kamu sesuai dengan janjinya jadi bersiaplah." kata Putri Larasati tegas.
Abi memang selalu memeriksa hasil latihan Dewi Teratai setiap satu Minggu sekali.
putri Yusuf Dan Risa ini diberi nama Dewi Cynthia namun Abi dan beberapa orang terdekatnya tetap memanggil Dewi teratai karena sudah terbiasa.
Dewi teratai berlatih dengan baik didalam dan di atas Air, ia bahkan bisa menumbuhkan teratai kecil sendiri namun sayang masih tidak bisa membuatnya besar dan berbunga hal itu membuatnya kecewa.
"sudah cukup Dewi, jangan memaksa suatu hari kau pasti akan bisa melakukannya." ucap Putri Larasati hati.
"Aku pasti bisa melakukan." cicit Dewi teratai
Dewi teratai berkonsentrasi sambil memejamkan matanya wajahnya yang cantik dan putih tampak berkilat terkena sinar matahari. Dewi teratai mengayunkan tangannya berdiri di atas permukaan air seperti seorang yang sedang menari. dengan kegigihannya ia mampu mencapai tujuannya bukan hanya satu tapi tiga sekaligus, bunga teratai mekar dengan sempurna tak lama menutup kembali menjadi kuncup.
"teratai ini akan aku jadikan teratai beracun aku akan mengirimkan nanti untuk seseorang." hehehehe tawa renyah terdengar ditelinga putri Larasati.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Dewi?" tanya putri Larasati sambil mendekatinya.
"Hanya rencana kecil. Ayo Kak bertarung denganku." minta Dewi teratai.
"kau, ingin mengajak aku berduel, apa kau yakin?"
Di lain tempat Devan sedang bermain dengan seorang anak kecil. Putri kecilnya bernama Putri Lasmi hasil dari permainan panasnya bersama Putri Arum.
Putri Arum kini terbebas dari kutukan dan menjadi istri Devan. semua sesuai rencana Willem ia ingin anaknya itu membenci Abi melupakan Risa.
"Dev, ikutlah denganku ada yang ingin aku katakan padamu." ujar Putri Arum.
"Sayang kamu tunggu disini Deddy ingin berbicara sebentar dengan Mommy oke." ucap Devan memberi pengertian pada putrinya lalu menyerahkan Putri Lasmi pada pengasuh.
Devan mengikuti Sang istri masuk kesebuah kamar Khusus.
"Kenapa kau membawaku kemari bukankah hanya setiap malam Jum'at Kliwon kita melakukannya disini?" tanya Devan heran.
Putri arum tersenyum lantas ia duduk di tepi ranjang sambil berucap.
"Apa aku tak boleh memintanya saat aku menginginkannya?" putri Arum balik bertanya.
"Bukan begitu hanya saja aku takut kita melanggar pantangan." elak Devan.
"Benarkah, jangan membohongiku Dev, Kamu tanpa aku akan hancur, jangan sekali-kali kau bermain dibelakang." ancam Putri Arum dengan mata berkilat merah.
"Aku tidak mengerti maksudmu siapa yang bermain dibelakang?"
"kau ingin menemui sahabat lamamu bukan?, kau ingin ia membantumu terbebas dari perjanjian kita jangan bermimpi." ujar Putri Arum.
Devan tersentak, bagaimana putri Arum tau niatnya.
"Dev, kita sudah melakukan perjanjian saat menikah, ingatlah kembali ucapanmu, kau harus mengabdikan dirimu pada raja Jin. maka aku putrimu dan ayahmu tidak akan pernah dihina, direndahkan, serta karir kami akan maju pesat. kekayaan yang tak akan habis meski tujuh turunan. kau juga akan dilindungi dari orang- orang iri ingin menghancurkan perusahan milikmu.
"ingat Devan, ayahmu juga terlibat." kata Putri Arum menyeringai.
Devan tak menjawab ia menarik nafasnya kemudian menghembuskan kasar.
"Ingat Devan, kau tak sendiri pikirkanlah kami." kata Putri Arum dengan nada suara melunak.
"putri Arum kenapa kau mau menjadi pengantin jin itu apa kau tak ingin bebas hidup tanpa harus tunduk pada keinginan jin tersebut ia hanya akan menghancurkan kita dikemudian hari." kata Devan.
"Aku tidak punya pilihan Dev, kau tak atau apa yang aku alami sebelumnya jadi jangan menesehati aku. ingat Devan kau selalu dalam pengawasan di manapun kamu berada jangan sekali-kali berhianat." lanjut putri Arum.
Devan mendengus kesal ia memilih berlalu meninggalkan putri Arum didalam kamar khusus tersebut.
sementara didalam hutan Dewi teratai meminta ijin memetik buah apel yang tumbuh liar di hutan tersebut. walau berat tapi Wijayakusuma akhirnya mengijinkan karena mengingat semua penghuni hutan berada dibawah kendalinya.
Dewi teratai melihat sebuah gua tersembunyi ditutupi oleh batu besar didepannya.
dengan kekuatan yang ia miliki batu itu bisa bergeser tak menyia-nyiakan kesempatan Dewi teratai masuk dan mendapati banyak ular yang bersembunyi didalamnya.
"Ular maaf jika aku mengganggu kalian aku ingin meminta wisa ular kalian bolehkah." ujar Dewi teratai.
ratu ular menajamkan pandangannya terlihatlah aura Sang Dewi teratai emas. ia lantas segera menundukkan pandangannya setengah membungkuk sembari berucap. "Dewi sungguh kehormatan bagi kami dapat membantu anda."
"Masukan Wisa kalian kedalam botol ini." minta Dewi teratai sambil menyerahkan sebuah botol kaca seperti botol obat.
"Terimakasih semua jika kau memerlukannya lagi aku akan datang." ujar Dewi teratai ia bergegas keluar dari gua menurut pintu batu seperti semua. dengan ukuran badannya yang kecil seekor harimau hutan memintanya segera naik dan mengantar pulang.
Didalam kamarnya Dewi Teratai mengubah bentuknya menjadi anak berumur lima tahun. wajahnya terlihat polos auranya tak dapat dibaca, sambil sembawa sebuah mawar merah ia tersenyum membuka portal gaib untuknya bertemu dengan putri Devan dan putri Arum.