
"Dunia di dalam cermin ini sangat menakjubkan." batin Dewi seraya melihat sekeliling.
"ikuti aku." ucap suara seekor ular kobra berwarna emas lalu memimpin jalan.
Rasa takut Dewi perlahan mengendur tapi tidak dengan kewaspadaannya Dewi tetap berhati-hati dalam langkahnya.
Seperti tau apa yang di pikirkan Dewi ular kobra itu mendesis sambil berkata.
"Jika aku ingin membunuhmu sudah kulakukan sejak kau tertidur tadi." ketusnya.
"benar juga apa yang di katanya akan sangat mudah membunuhku saat aku tidur pulas." batin Dewi.
"Maaf Nek jika aku berpikiran buruk tentangmu sebelumnya aku hanya tidak ingin terjebak untuk itu aku masih menjaga kewaspadaan ku apalagi di tempat ini aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri." jawab Dewi sembari melangkah mengikuti sang Ular.
"Anak ini masih kecil tapi cara berpikirnya benar-benar seperti orang dewasa." batin ular jelmaan sang Nenek.
Dewi di bawa ke tempat air terjun yang sangatlah indah.
"bila kamu bisa melewati air terjun tiga warna itu maka kau memanglah orang yang aku tunggu." kata ular kelamaan itu mengejutkan Dewi.
sebenarnya saat Dewi menyebut namanya Dewi teratai emas dan mana musuhnya adalah putri Arum, Dewi sudah membuat terkejut Nenek tua itu karena jawaban itu sama dengan petunjuk Sang guru namun ia masihlah ragu karena umur Dewi yang terlalu kecil untuk itulah ia membawa Dewi ke air terjun tiga warna di Dunia cermin miliknya. bila mana Dewi bisa Melawati air tiga warna dengan manipulasi air dan masuk kedalam goa yang tersembunyi di dalamnya maka tidak ada lagi alasan Nenek itu untuk tidak mempercayai nya.
Dewi melihat kerah air terjun yang airnya berwarna hijau, jingga dan biru membuatnya terpana dalam hati ia mengucap subhanallah karena ciptaan Allah sangatlah indah.
bagaimana cah ayu? tanya Nenek menatap Dewi untuk membaca pikiran namun ia di buat terkejut karena tidak mampu membaca isi pikiran Dewi.
Dewi tersenyum manis ke arah Nenek yang masih berwujud ular di sampingnya berdiri. kemudian ia memejamkan matanya berdoa pada Allah untuk meminta petunjuk agar bisa melewati Air terjun tiga warna itu.
sebuah suara berbisik di telinga Dewi. "Berpasrahlah kamu pada sang pemilik Alam semesta ini dan mulailah mengucapkan Bismillah sembari melangkah dengan kaki kanan terlebih dahulu insyaallah atas kehendaknya kamu mampu melewatinya" ucap suara berat laki-laki ditelinga Dewi.
terimakasih batin Dewi kemudian mengikuti petunjuk yang baru didapatnya. terjadilah sebuah keajaiban Dewi dengan mudahnya berjalan di atas air tanpa basah sama sekali. menuju ke arah air terjun tiga warna sesampainya di depan air terjun Dewi kembali berdoa meminta perlindungan dari sang pencipta dari segala keburukan dan kebaikan dari air tiga warna itu.
sekali lagi keajaiban terjadi Air terjun yang terus mengalir itu tiba-tiba berhenti mengalir menciptakan sebuah pintu besar tiga warna sesuai dengan warna air terjun Tersebut.
Assalamualaikum salam Dewi sembari mendorong pintu di hadapannya yang dengan mudah di buka oleh Dewi perlahan Dewi masuk kedalam yang ternyata adalah sebuah Goa.
Nenek yang masih berwujud ular benar-benar tercengang jika bukan dengan kepala sendiri melihat itu pasti ia tidak mempercayainya. Hal yang mustahil benar-benar terjadi di hadapannya. Dalam pikirannya Dewi pasti akan mengunakan kekuatan yang menguras energi untuk dapat memasuki air terjun tiga warna yang mana tiga air itu memiliki kandungan racun mematikan jika terkena kulit sudah pasti kulit orang tersebut akan melepuh, gatal, dan juga membusung dalam kurun waktu hari jika tidak mendapatkan pertolongan maka bisa dipastikan orang itu akan meninggal.
ular itu kemudian menghilang dari tempatnya dan muncul didekat Dewi yang sedang menyusuri goa yang memiliki dinding sangat indah dimana dinding goa itu terbuat dari batu tujuh warna batu itu juga menyala hingga keadaan didalam goa menjadi terang mengerang.
"Goa ini adalah Goa pelangi tujuh Warna di sinilah tempatmu untuk berlatih Dewi eyangmu Ratu Bidadari sengaja mengutukku agar aku bisa masuk kedalam hutan milik Kakek Han dan dapat melatih salah satu keturunannya yaitu kamu." jelas ular kobra berwarna emas.
"Berarti Nenek bidadari..?"
"benar Eyangmu adalah guru sekaligus ratu bagiku." sahut sang Ular.
"sebelum lelaki tua itu menyadari kamu menghilang dari hutan miliknya cepatlah berlatih." kata ular sembari memasang dinding gaib.
"Nek memangnya siapa sebenarnya Kekek Han..? tanya Dewi penasaran
"Maaf cah Ayu saat ini yang lebih penting adalah keselamatan kalian semua untuk itulah kamu harus berlatih agar bisa keluar dengan selamat dan membawa bekal untuk melawan iblis." jawabnya tanpa menjelaskan siapa Kakek Han.
"Baiklah Nek aku tidak akan memaksa Nenek tapi ilmu apa yang sebenarnya ingin Nenek ajarkan padaku...?" sembari melihat ular kutukan itu merayap menuju sebuah batu berbentuk kubus.
"Kemari Lah dibawah batu ini ada sebuah kitab tehnik pengendali Air, tumbuhan dan es tingkat Dewi yang cocok mu."
Dewi segera mendekat dan melihat ular kutukan memindahkan batu dengan kekuatannya hingga teihatlah sebuah kitab bersempul emas.
"berapa lama waktu kita berlatih disini?" tanya Dewi.
"tiga hari dari sekarang untuk itu janganlah membuang waktu segeralah lakukan sebelum kita berdua tertangkap dan bila itu terjadi bisa di pastikan teman-temanmu dalam bahaya." tegas Ular kutukan serius.
"baiklah Nek bila begitu aku akan mencari tempat berlatih di sekitar sini." jawab Dewi seraya mengambil kitab bersampul emas kemudian berjalan mencari tempat yang cocok untuk berlatih.
Di lain tempat Larasati dikirim kedalam sebuah perkampungan yang di namakan kampung mati artinya semua penghuni yang ada di kampung tersebut adalah manusia yang sudah mati kecuali Larasati menyadari itu Larasati segera menyembunyikan aura kehidupan miliknya dengan kalung pemberian ibunya untung saja kalung itu masih berfungsi dengan baik tidak seperti cincin demensi milik Abi yang bisa berfungsi.
seorang Kakek berpakaian cumpang camping melihat ke arah Putri Larasati sejak tadi ia terus mengawasi Larasati hingga wanita itu di buat risih karenanya.
Laras beranjak pergi namun dengan cepat Kakek tua itu menabraknya hingga Laras terjatuh dan saat mata Kakek itu menatap ke arah bola matanya Laras menajadi takut terlebih Kakek itu memegang pergelangan tangan Larasati.
tanpa bicara Kakek membawa Laras pergi dari perkampungan penduduk menuju hutan.
Badan Larasati lemah ia tidak bisa melawan setelah bola mereka saling tatap Putri Laras menjadi seperti kerbau ia mengikuti kemana Kakek itu melangkah membawanya.
begitu mereka sudah jauh masuk kedalam hutan Kakek berkata membuat putri Larasati terkejut.
" Putri Larasati disini bukan tempatmu kembalilah...!! ujar Kakek tua itu seraya melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Larasati.