
"om Bara lihatlah kesana?" ucap Abi menunjuk seorang wanita tua yang sedang sedang kesusahan berjalan membawa sebuah tas besar entah apa isinya.
mata bara Bara mengikuti arah telunjuk Abi.
"ada apa dengan wanita tua itu?" ucap bara penuh heran.
ternyata yang dipikirkan Abi sedari tadi adalah untuk menolong seorang wanita tua yang sedang kesusahan untuk berjalan, rasa empati dan simpati Abi terhadap sesama manusia memang sangatlah tinggi, pantaslah Abi disebut sangat cerdas karena dia memiliki rasa terhadap sekitarnya.
"gendonglah nenek tua itu sepertinya kakinya terkilir!" ucap Abi.
"menggendongnya untuk apa, dia masih bisa berjalan, walaupun sambil tertatih sih." jawab Bara.
"hai Bara, maksud Abi adalah bantulah wanita tua itu, gendonglah kalo perlu dan antarkanlah ketempat tujuannya." sahut ustad Yusuf.
"aku kemari ingin memanjakan mataku dengan melihat lukisan-lukisan indah disini, bukan untuk menggendong nenek-nenek." ucap Bara sewot.
"cepatlah om Bara, bantu wanita tua itu kasihan, tempat ini akan semakin banyak orang yang akan datang, sedangkan nenek itu masih terperangkap di tengah-tengah keramaian, dia akan kesuliatan nanti." ucap Abi.
"lalu hubungannya denganku apa?" ucap Bara masih saja acuh.
"ayolah Bara, apa yang diucapkan Abi benar." ucap ustad Yusuf.
"huft." ucap Bara mendengus kesal tapi tubuh bara yang tinggi besar itu melangkahkan kakinya bergerak pergi menuju wanita tua itu.
"ayo om Bara, semangat." ucap Abi dengan suara cempreng khas anak kecil kemudian ia tertawa senang.
"apa yang lucu Abi?" tanya ustad Yusuf bingung.
"tidak ada pa ustad, Abi hanya senang melihat om Bara membantu menggendong wanita tua itu dan dia terlihat sangat terbantu oleh om Bara." ucap Abi.
kemudian Bara menggendong wanita tua itu kepinggir menghindari kerumunan, setelah selasai membantu, Bara langsung angkat kaki dari hadapan wanita tua itu.
Bara pergi ketempat panitia penyelenggara acara untuk memberitahukan bahwa persiapan Abi untuk tampil sudah selesai.
sementara ditengah-tengah kerumunan Abi dan ustad Yusuf.
"sambil menunggu Bara kembali, ayo kita berkeliling sebentar untuk melihat beberap lukisan yang ditampilkan." ucap ustad Yusuf mengajak Abi.
"yeey, ayo pa ustad." ucap Abi senang.
mereka berdua berkeliling melihat berbagai macam lukisan dari seluruh penjuru dunia yang dipamerkan dengan mata takjub, termasuk disana terpampang lukisan dan kaligrafi indah karya Abi yang ikut dilombakan.
"apa semua orang yang ikut serta pameran ini juga hadir?" tanya Abi penasaran.
"entahlah Abi, pa ustad sendiri baru pertama kali ikut ke acara pameran internasional seperti ini." ucap ustad Yusuf.
"coba nanti tanyakan sama Bara." tambah ustad Yusuf.
detik dan menit berlalu tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 malam lewat 15 menit, Bara yang meninggalkan mereka berdua belum kembali.
"Abi apa kamu ingin makan sesuatu?" ucap ustad Yusuf menawarkan.
"iya pa ustad, Abi mau." ucap Abi.
"sini ikut pa ustad." ucap ustad Yusuf membawa Abi kesebuah stand yang menjual kebab dari daging onta.
"Abi apa kamu pernah makan kebab daging onta?" tanya ustad Yusuf.
"daging onta? Abi belum pernah makan itu, apakah enak?" sahut Abi polos.
"ya Abi, rasanya enak." ucap ustad Yusuf.
"baiklah pa ustad, Abi mau mencobanya." ucap Abi yang masih ragu dengan rasanya.
ustad Yusuf tersenyum melihat ekspresi wajah Abi yang masih ragu-ragu untuk mengkonsumsi daging kebab tersebut.
ustad Yusuf lalu menggendong Abi dan membawanya ke stand penjual kebab daging onta, sesampainya disana ustad Yusuf memesan satu bungkus kebab daging onta.
lalu ustad Yusuf memesan Hawasy (adalah sejenis hidangan roti panggang yang terbuat dari adonan roti pipih yang di isi dengan sapi cicang lalu dimasak dioven hingga kulitnya berwana coklat keemasan dan disajikan dengan acar) disebelah stand kebab tersebut.
setelah mendapatkan pesanan, ustad Yusuf mengajak Abi untuk duduk dikursi dekat stand penjual makanan tersebut.
"Abi duduklah disini dan makanlah dulu, saya mau membeli minum sebentar." ucap ustad Yusuf.
tak membutuhkan waktu lama, ustad Yusuf kembali dengan dua botol air mineral dingin ditangannya.
"kenapa belum dimakan nak?" tanya ustad Yusuf.
"Abi menunggu pa ustad, biar bisa makan bersama." ucap Abi.
tiba-tiba suara yang tidak begitu asing terdengar telinga mereka berdua.
ustad Yusuf dan Abi menoleh setelah mendengar suara itu.
lalu tanpa permisi tangan Bara langsung mengambil hawasy milik ustad Yusuf yang masih ada di meja.
ustad Yusuf yang melihat itu hanya bisa pasrah.
"Bara, apa kamu tidak mencuci dulu tanganmu dan berdoa sebelum makan?" tegur ustad Yusuf.
"karena aku sudah sangat lapar aku lupa, hehe." sahut Bara dengan mulut penuh makanan.
"om Bara, kata bunda kalau tangan yang belum dicuci itu penuh kuman, om Bara nanti bisa sakit perut." nasihat Abi.
"yaa yaa, terserahlah, aku sudah sangat lapar." ucap Bara.
"jika kamu lapar pesanlah makanan yang kau inginkan Bara." Ucap ustad Yusuf.
"jika aku memesan dan menunggu pesananku, maka bisa-bisa pengunjung pameran sudah pada pulang." sahut Bara.
"aku membantu memakan makanan kalian saja agar cepat habis, lagi pula sebentar lagi Abi akan tampil, kita harus cepat." ujar Bara.
ustad Yusuf menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
setelah semua hidangan habis, ustad Yusuf dan Bara mengajak Abi kembali karena sebentar lagi Abi harus tampil.
mereka bertiga kemudian sudah berada diposisi, dimana di tempat itu Abi akan tampil menunjukan bakatnya membuat karya seni kaligrafi.
"tunggu sebentar pa ustad, Abi boleh meminjam yasin yang ada disaku baju pa ustad?" ucap Abi.
"untuk apa Abi?" ucap ustad Yusuf sambil mengerutkan keningnnya.
"Abi mau melihat huruf-hurufnya agar nanti tidak salah tulis." ucap Abi.
"ini!" ucap ustad Yusuf menyerahkan yasinnya kepada Abi.
"pa ustad, Abi memerlukan waktu sebentar." minta Abi.
lalu Abi membuka yasin tersebut dan entah apa yang dia lakukan akan tetapi Abi benar-benar terlihat serius, dia tidak menghiraukan lagi ustad Yusuf dan Bara yang ada disampingnya.
"Baiklah aku akan membeli minum saja, sambil menunggu bocah ini selesai." ucap Bara sambil beranjak meninggalkan ustad Yusuf dan Abi.
setelah beberapa waktu, Bara kembali dengan sebuah minuman kaleng ditangannya, lalu dia memperhatikan Abi yang nampak sangat serius.
"yeea sudah selesai, ini pa ustad aku kembalikan yasin milikmu." ucap Abi sambil menyerahkan kembali yasin milik ustad Yusuf.
ustad Yusuf menerimanya dan memasukan kembali ke saku bajunya.
tak... tak... !
terdengar suara langkah kaki seseorang sedang mendekat menuju ke arah mereka bertiga.
"permisi, perkenalkan saya Jaffar, saya salah seorang panitia dan juga akan menjadi MC dari acara ini, apa benar ini Abi." ucap Jaffar.
"iya benar?" sahut ustad Yusuf.
"dua menit lagi diakan tampil." ucap Jaffar singkat.
"Baiklah!" sahut Bara yang tiba-tiba membuat pecah suasana.
"ayoook Abi saatnya beraksi." teriak Bara penuh semangat.
kemudian Jaffar dengan sebuah microphone di tangannya, dia mengumumkan bahwa ditengah-tengah aula akan ada seorang anak yang akan mempersembahkan penampilannya untuk membuat sebuah karya kaligrafi dengan sangat cepat.
"para pengunjung segeralah merapat ke aula tengah untuk melihatnya." teriak Jaffar dengan microphonenya.
tanpa waktu lama, para pengunjung dan juga kontestan yang hadir disana berbondong-bondong ke aula tengah gedung itu.
Abi yang melihat kerumunan masa sebanyak itu sontak kaget sekaligus mendadak demam panggung karena grogi.
mata ustad Yusuf mengarah ke arah Abi.
"Abi, jika kamu gugup itu wajar, karena ini kali pertama kamu tampil di depan umum." ucap ustad Yusuf.
Abi hanya terdiam.
"pa ustad ada suatu rahasia, coba Abi tutup mata dan bayangkan orang-orang yang ada disini hanyalah sebatang kayu." ucap ustad Yusuf membantu menstabilkan psikologi abi.
Abi menutup matanya dan mengikuti saran ustad Yusuf.
beberapa saat kemudian, bibir Abi mengluarkan sedikit senyuman dan gigi mungilnya.