Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
ruang Rahasia


Gio memejamkan matanya menengkan pikiran sebelum menjawab pertayaan yang dilontarkan sang kaka.


"sepertinya hubungan Ibu dan Ayah tidak baik sejak kepergian kita dari rumah, meski Gio tak sempat bertanya banyak pada mbuk Asih dan pa Man, dari jawaban mereka saat Gio meminta mereka bekerja sama membantu ibu, Gio bisa meliat rasa kecewa mereka terhadap Ayah."


"apa maksudmu Gio?" belum selesai Gio bercerita Risa menyela.


"kakak tau, Ayah ada tadi siang di acara Resepsi kaka, bersama seorang wanita muda yang menagaku sebagai istrinya." ucap Gio


"jagan bercanda Gio." sentak Risa.


"itulah kenyataannya lelaki tua itu sudah mencampakan ibu, ia tau ibu sedang sakit tetapi ia tidak membawanya kerumah sakit, jusru asyik dangan wanita lain dan bisnisnya. suami macam apa itu " ucap Gio dengan nada marah.


Risa terdiam mendengar penuturan Gio.


tak....tak....tak suara langkah kaki seseorang seperti terburu-buru mendekat.


Yusuf masuk kedalam kamar Gio, dengan membawa tas jingjing berisi peralatan dokter.


setalah mengambil peralatan dokternya, Yusuf segera kembali kakamar yang ditepati Gio, untuk memeriksa Ratih.


"Ibu !!!" teriak Risa berhambur memeluk ibunya namun tak ada respon apapun dari Ratih.


"tenanglah Risa, Yusuf akan memeriksanya terlebih dahulu" ucap Umi yang baru saja masuk kekamar tersebut.


Yusuf segera memeriksa mertuanya, dengan keahliannya tak menunggu waktu lama Yusuf sudah tau apa yang terjadi dengan Ratih.


Yusuf memandang Risa dan Gio bergantiaan lalu herucap, barilah semangat untuk ibu, agar ia menyadari kalian berdua ada disisinya saat ini sesakali ajaklah berbiacara. ucap Yusuf


"saat ini ibu sedang koma ucap Yusuf aku akan memeriksa berapa peralatan untuk merawatnya dirumah ini." jelas Yusuf.


"apa ada penyakit yang diderita ibu mas?" tanya Risa.


"tidak ada penyakit yang serius, hanya asam lambung dan mag karna ibu mongkin tidak mau makan." jelas Yusuf.


"Gio ada disini bersama Risa bu kami tidak akan meninggalkan ibu lagi." isak Risa air matanya terus saja mengalir deras melihat wanita yang sudah melahirkannya terbaring lemah tak berdaya.


"bukalah matamu bu" ucap Gio menahann sesak didadanya


sebenarnya Gio ingin menanggis ia berhasil menahannya teteapi akibatnya adalah dadanya terasa sesak.


Yusuf pergi keruang kerja milik ayahnya yang seorang ilmuan Ahli kimia, disana ia membuka pintu lemari yang terbuat dari kayu jati.


setelah pintu dibuka, Yusuf menekat tombul kecil yang berada disamping kiri pintu, setelah tombol ditekan kayu jati yang menjadi memisah antara tembok dan lemari bergeser memperlihatkan sebuah ruangan besar lengkap dengan isinya.


#sedikit info tetang ayah yusuf marsello orlando.#


semua peralatan kesehatan lengkap ada disana, karna dulu Ayah Yusuf berkali-kali sakit dan nyawanya terancam bahaya, mau tidak mau ketika sakit ia harus dirawat dirumah, atau disembunyikan dilaburaturiumnya untuk dirawat.


Marsello adalah seorang ilmuan Ahli kimia dunia, ia juga sangat pintar ketika seseorang menyerah membuat permula obat-obatan maka marsello dangan sabar meneliti dan membuatnya.


karna keahliannya itu dia memiliki banyak musuh baik orang yang iri padanya ataupun orang yang ingin memanfaatkannya untuk tujuan tertentu.


karana itu berkali-kali nyawanya terancam bahaya, hingga berkali-kali pula ia sakit dan harus dirawat secara khusus, karana tidak memungkinkan membawanya kerumah sakit ia membuat sebuah ruangan khusus dirumahnya, lengkap dengan segela macam peralatan dokter.


 


setelah memastikan semua peralatan diruangan itu berpungsi dengan baik Yusuf segera kembali kekamar Gio.


sesampainya disana ia segera berucap.


"Gio bantu mas memindahkan ibu dari sini ia harus medapatkan perawatan khusus." ucap Yusuf.


Gio segera menganguk dan membantu Yusuf membawa ibunya.


"Ayo masuk." ucap Yusuf ketika melihat Gio berhenti melangkah didepan pintu.


"bukankah seharusnya kita kerumah sakit?" tanya Gio.


"ayoooo kita tidak punya waktu kerumah sakit lagi." sentak Yusuf.


mendengar itu Gio dengan cepat kembali melangkahkan kakinya membawa ibunya masuk kedalam ruang karja milik Marsello.


Abi masuk mendahuli Ayah dan Omnya.


"Ayo Om semuanya sudah lengkap." teriak Abi


dengan ragu Gio melangkah masuk dan sesamapainya disana matanya menatap takpercaya dengan apa yang dilihatnya.


Begitu pula dengan Risa yang berada dibelangnya.


Gio meletakan tubuh lemah Ratih keranjang pasen dangan hati-hati.


"Ruangan ini seperti sebuah ruangan VIP disebuah rumah sakit besar bahkan ini jauh lebih bagus." gumam Gio.


Yusuf segera memasang semua peralatan yang diperlukan Ratih dengan cepat.


Abi melihat sekeliling matanya dengan awas memindai setiap tempat.


sepersekian detik kemudian mata Abi berbinar bahagia, seakan ia menemukan sesuatu yang ia cari.


Abi memdekati sebuah meja kono yang berada disudut ruangan, ia perlahan membuka laci itu dan menemukan sebuah kotak kecil berwana keemasan.


Abi membuka kotak kecil itu perlahan-lahan dan betapa terkejutnya ia meliahat 7 jarum emas ada disana.


ini seperti yang aku mimpikan tiga hari yang lalu ucap Abi dalam hatinya.


badan kecil Abi berjalan mendekati grandmanya yang terbaring lemah di ranjang pasen.


sesampainya disana Abi membuka selimut yang menutupi kaki Ratih.


secepat kilat Abi menusukan jarum emas itu ketitik-titik tertentu di kaki grandmanya.


Yusuf Gio dan Risa terkejut melihat apa yang dilakukan Abi, namun entah kenapa mereka tidak bisa mencegahnya.


Ayah gumam Yusuf yang melihat kedalam mata Abi, apa kau memilih Abi untuk menjadi penerusmu dan mewariskan seluruh ilmu kimia milikmu. ucap Yusuf dalam hati.


Abi mencabut jarum-jarum yang ia tusukan untuk memancing fungsi urat saraf milik Ratih.


setelah jarum itu dicabut sebuah keajiban terjadi badan yang semula kaku melemah, Ratih juga dapat menggerakan tangannya.


Abi sudah mengembalikan jarum itu ketempatnya dan berdiri disamping Yusuf.


"Abi," ucap Risa melirik Abi yang berada disamping Yusuf.


"jagan memarahinya ia tak salah apapun" sahut Yusuf.


Ratih perlahan membuka matanya dan kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah nama Anak-anaknya.


"Risa, Gio."


"Ibu." ucap keduanya segera berhambur mendekati ibunya.


Yusuf membelai kepala Abi dengan panuh Cinta.


"nak apa ada yang kamu sembunyikan dari Ayah dan Bunda?" tanya Yusuf.


"Abi menagguk baiklah ceritakan nanti sekarang kamu mandi dan beristiratlah" perintah Yusuf.


Abi mengangguk kemudian pergi dari kamar itu menuju kamarnya.


disebuah Rumah Besar milik ortua Defvan


"coba jelaskan dengan deddy apa maksudnya ini tanya willem ( ayah Defvan) sambil memengang surat hasil tes DNA.


"Itu hasil tes DNA Amira dan Defvan ded." sahut Defvan.


"Apa Amira ! dan Kau? hasilnya tidak cocok? Apa Amira bukam putrimu?" tanya willem beruntun.


"tepat sekali Ayah Yana dan keluarganya menipu kita" sahut Defvan.


"kuarang ajaaarrr berani sekali dia menipuku." geram willem sambil berdiri dari duduk dengan kilatan mata marah.