Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
penjelasan


Defvan membeku di tempat saat menyadari pelurunya salah sasaran ia begitu kesal, hingga satpam dan penjaga parkir datang dan mencekal lengan Devfan.


"anda ikut kami ke kantor polisi pak." ajak Satpam sekolah.


tidak !! ini salah paham. Saya hanya salah menembak, ada seorang pengemis yang ingin mencelakai anak laki-laki disana mengunakan belati lantas saya bermakaud menembak orang itu. jelas Defvan


"anda Bisa menjelaskannya di kantor polisi nanti pak." ucap Satpam sekolah.


setelah berfikir Defvan mau mengikuti saptam sekolah Abi membawanya ke kantor polisi.


semantara Abi dan Risa serta beberapa wali murid segera membatu Yusuf masuk kemobil dan membawa kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.


saat peluru masuk kelengan Yusuf. Risa sempat melihat dari kejauhan Defvan memengang sebuah pistol dan mengarah ke Yusuf. seketika amarahnya membuncah. Abi yang meliahat wajah Bundanya memerah segera menarik tangan Ibundanya yang ingin meluapkan amarahnya. "Bunda selamatkan Ayah terlebih dahulu." ucap Abi dengan raut cemas.


Risa segera membuang napasnya kasar dan menatap nanar lengan Yusuf tertembak. "Baiklah." ucapnya Singakat.


beberapa wali murid membantu Risa memasukan Yusuf kemobil setelah mengucapkan terimakasih kepada beberapa orang yang membantu Risa, Abi dan Yusuf menuju kerumah sakit.


"Usahlah, aku Yakin Defvan tak segaja melakukannya, dia juga berniat melindunggi Abi tapi Aku yang kena." Ucap Yusuf sambil meringis.


"tetep saja dia harus mempertangung jawabkan perbuatannya Mas." sahut Risa sambil menyetir.


"tak baik menyelesaikan masalah dengan Amarah redam Amarahmu sayang jangan ikuti *****." nasehat Yusuf.


"bagaimana kamu bisa setenang itu." Mas ucap Risa.


"segala sesuatu itu tidak akan terjadi jika yang kuasa tak menghendakinya." ucap Yusuf lemas, sambil memejamkan matanya.


"Ya aku tau itu, tetapi tetap saja aku kesal jangan-jangan Defavan sengaja melakukannya agar bisa menggapai tujuannya." Ucap Risa berperangka Buruk.


Yusuf tak lagi menjawab pertanyaan Risa kesadarannya mulai menghilang ia mendengar apa yang di ucapkan sang istri tapi tak lagi bisa menjawab hingga ahirnya tak sadarkan diri.


"Mas." panggil Risa.


"Biarkan Ayah istrhat bu Ayah leleh baru selesai melakukan oprasi pada Oma tanpa istrahat Ayah menjemputku karna khawtir sekarang biarkan Ayah istrahat nanti setelah pelerunya di keluarkan Abi yakin Ayah akan baik-baik saja." ucap Abi sambil menatap wajah Yusuf yang terpejam.


"Ayah maafkan Abi." ucapnya Lirih sambil mencium punggung tangan Yusuf.


Risa tak menjawab Ucapan sang putra ia mempfokuskan dirinya menyetir menambah kecepatan mobil agar cepat sampai kerumah sakit tempat Umi di rawat.


Abi membuka ponselnya dan mengirim pesan untuk Mars agar membatu Ayah kandungnya yang dibawa ke kantor polisi.


"Abi menyayangkan tidakan Defvan yang menolongnya dengan menembak. Ayah aku tau kamu begitu menyanggiku tapi tak seharusnya kamu melakukan itu untukku, sabagimana Ayah Yusuf melindunggiku selama ini kamu bisa melakukan hal yang sama." Batin Abi sambil menatap kosong kedepan.


Abi melepas jaket yang ia pakai dan segera membersikan Darah dari lengan Yusuf menggunakan jaket miliknya.


semapainya dirumah sakit Yusuf segera ditangani oleh dokter dan perawat diruamah sakit tempatnya bekerja.


"Risa, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Ratih penasaran.


Abi duduk di ruang tunggu tak jauh dari Bunda dan Grandmanya mengobrol wajahnya terlihat sedih dan cemas dengan bersadar pada kursi Abi memejamkan matanya hingga terlelap.


Di dalam mimpinya ia bertemu lagi dengan kakek tua berbaju serba putih, laki-laki itu mendekati Abi yang duduk dibawah pohon di tepi danau.


kakek itu meminta Abi membuat obat untuk mempercepat kesembuhan Umi dan Juga Yusuf.


Abi menganggukan kepalanya lantas kakek itu menghilang dan ia terbagun dari mimpinya.


Abi segera mengkit dari tempatnya dan menghampiri Bundanya.


"Bunda apa boleh Abi pulang mau mandi ganti baju dan sholat." regak Abi dengan wajah memelas.


Risa yang sudah selesai menceritakan kejadian yang mereka alami di sekolah segera menatap wajah memelas yang putra.


"#pulanglah bersama Grandma, biar Bunda yang jaga Umi dan Ayah." ucapnya sambil menatap Ratih meminta persetujuan.


"ya Grandma akan menemanimu pulang nak," Ucap Ratih menimpali.


"oh ia bu nanti ibu buatkan Umi bubur bisakan?" Minta Risa.


"Ya nanti akan Ibu buatkan untuk Umi dan Yusuf." sahut Ratih sambil beranjak dari tempat duduknya. Ratih mengampiri Abi lalu berpamitan dan pergi meninggalkan Rumah sakit.


Di kantor Polisi Defvan sedang di introgasi olah seorang anggota polisi maski Defvan sudah memberikan penjelasan jika ia tak sengaja melukai Yusuf polisi disana masih engan melepaskan Defvan.


"maaf pak kita tunggu kelurga korban terlebih dahulu semantara anda harus tetap disini." jelas Polisi dihadapan Defvan.


Mars datang kekantor polisi dengan langkah terburu-buru.


"Apa lagi ini Def kenapa kau bisa berada disini?" tanya Mars.


"Aku menembak Yusuf tanpa segeja." ucap Defvan menatap Mars yang berdiri di sampingnya.


"menembak apa kau sudah tidak waras Def kau mengunakakan sejata untuk melindunggi putramu itu?" tanya Mars.


"orang itu ingin menikam Abi dangan sebuah belati mana mongkin aku diam saja jarakku jauh darinya jadi satu-satu cara cepat menolongnya mengunakan senjata itu." sahut Defvan.


"pak saya ini sahabatnya Defvan, saya yakin jika yang terjadi memang benar salah sasaran." ucap Mars pada polisi yang duduk di depan Defvan.


"sebelum keluarga korban datang kemari kami tidak bisa melepaskan pak Defvan begitu saja. "ucap Pa Roy( polisi)


Mars menganguk mengerti.


"kamu tunggu saja Def istri Dr Yusuf pasti datang kemari." ucap Mars sambil menepuk Punggung Defvan.


Risa masuk kekantor polisi bersama salah seorang anggota polisi yang menjemputnya di rumah sakit.


"silah duduk Bu" ucap Pa zaki ramah.


Defvan yang berada di tak jauh darinya melirik sekilas wajah Risa yang tertutup hijab ia berharap Risa tak menuntutnya.


"pa saya tidak bisa lama di sini suami saya sedang dan mertua saya sedang di rawat jadi kedatangan saya kemari hanya ingin memberitahukan jika saya menuntut tuan Defvan yang melakukan penembakan pada suami Saya." ucap Risa.


"pelaku mengatakan jika itu salah sasaran bu niatnya ingin melindunggi putra Ibu dari tikaman seseorang yang ingin mencelakakannya." jelas pa Zaki


"Apapun alasannya suami Saya terluka karnanya saya tetap munutut hukuman pada pelaku." tegas Risa.


Mars yang mendengar aura permusuhan dari memandang Iba pada sang sahabat.


"baik Bu, sebaiknya ibu tenangakan diri Ibu dulu jagan terbawa emosi kami memang akan meberikan hukuman pada pa Defvan akan tetapi tidak maksimal karna unsur ketidak sengajaan." ucap Komandan Zaki