Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
menuntut balas jasa


Suara-suara ambigu memenuhi sebuah kamar yang di hias bagaikan kamar pengantin. Dua insan yang berbeda jenis tak henti-hentinya melakukan pergulatan di atas ranjang, ******* kenikmatan dari mulut Devan saat melakukan pelepasan sudah berkali-kali terdengar.


Beberapa mahluk astral, dan juga abdi dari putri Arum setia berjaga diluar kamar, meski mereka tau apa yang dilakukan oleh dua insan didalam kamar, tak satupun berani mengganggu apa lagi menembus dinding untuk sekedar mengintip.


"Aku rasa ini sudah cukup, waktuku bersamamu sudah hampir habis." cicit putri Arum dengan nafas tak beraturan.


"Aku masih belum puas menikmati tubuhmu sayang." Racau Devan.


"kau bisa melakukannya dilain waktu. Aku harus pergi." kata Putri Arum, sambil melihat sebuah benang yang terikat ditangannya percaya merah, pertanda gerhana Balan merah hampir usai.


"berikan aku alamat rumahmu, aku akan mencari kamu lagi besok, aku sungguh tergila-gila dengan kenikmatan yang kamu berikan, tubuhmu yang putih, wajahmu yang cantik." ujar Devan meminta.


putri Arum tak menjawab. ia mendrung paksa dada Devan yang terus mencium leher jenjangnya.


"HENTIKAN !!" seru putri Arum lantang sambil menyeringai, udara di sekitar seketika berubah dingin, membuat bulu kuduk Devan merinding, nafsunya seketika menghilang matanya menatap wajah cantik sang putri dengan tatapan takut.


"Kau berada disini atas keinginanku, kau bisa menikmati tubuhku atas izinku, maka menurutlah dengan ucapanku." ucap Putri Arum sembari menjentikan jarinya, membuat selendang merah miliknya yang berserakan di lantai kembali ketangannya, saat selendang itu berada ditangannya maka kembalilah semua pakaiannya kebuhnya. membuat Devan terperangah karena takjub.


melihat Devan menatap dangan mata membulat, membuat putri Arum ingin sedikit memberikan pertunjukan.


Angin tiba-tiba berhembus menerbangkan semua pakaian milik Devan, pakaian itu terpotong kecil-kecil seperti di cincang oleh benda benda tajam, detik berikutnya pakaian yang hancur itu menempel di badan Devan kembali normal seperti semula. lagi-lagi Devan menganga melihat kejadian diluar nalarnya.


Cahaya merah datang entah dari mana menarik putri Arum kembali menjadi sebuah batu.


kepala Devan pusing, pandangannya berkunang-kunang. dalam kesendiriannya tubuhnya Ambruk tak sadarkan diri. rupanya ia baru saja merasakan leleh yang luar biasa, akibat penyatuannya dan sang putri yang berkali-kali tanpa jeda.


flashback of


"ahhhhh sialnya kenapa perempuan itu tak memberiku alamat rumah atau nomor ponsel." umpet Devan sambil menunju kepala ranjang.


Di dalam sebuah ruang kerja. ka,ntor milik Devan Willem menatap tajam Mars yang sedang duduk di depannya.


"kau tau ini perusahaan milikku, jangan seenaknya kau keluar masuk tanpa ijin dan datang tidak tepat waktu." ucap Willem.


"Anakku memang bersahabat denganmu. bukan berarti saat dia tak ada kamu menjadi bos disini, bisa bertidak semaumu. kau itu orang luar jika bukan karena putraku kamu bahkan tidak bisa kuliah." tandas Willem.


"Maaf pa, kemaren Devan tidak datang sedangkan rekan bisnis kita ingin bertemu jadi saya mewakilkan kehadiran Devan bertemu dengan beliau." sahut Mars jujur.


"Atas perintah siapa kamu melakukan itu. Semua kacau mereka membatalkan kerjasama. entah apa yang kamu katakan pada mereka." tukas Willem.


"Aku tidak mengatakan hal buruk apapun. biasanya Devan selalu menunjukku mewakilkannya saat ia berhalangan hadir, aku sudah menelponnya berkali-kali namun tak juga ada jawaban, untuk itulah aku memutuskan menemui rekan bisnisnya." jawab Mars.


"lancang sekali. sebaiknya kamu tinggalkan kantor ini, tidak perlu kembali bekerja. kau hanya akan menghancurkan perusahan bila terus dipertahankan." bentak Willem.


"baiklah jika itu yang bapak inginkan tapi ijinkan aku berpamitan dengan Devan." kata Mars sambil berdiri dari tempatnya duduk.


"Aku tidak tau, Devan pergi kemana." sahut Willem Datar.


Wajah Mars terkejut mendengar jawaban Willem. ia menatap wajah Willem mencari kebohongan Dimata Ayah dari sahabatnya itu.


"jangan menemui anakku lagi. Aku tidak ingin kamu membawa pengaruh buruk untuk Devan. tinggalkan rumahmu. kau hanya boleh membawa pakaianmu. rumah itu aku anggap sebagai bayaran aku membiayai pendidikanmu, hingga lulus kuliah." Tegas Willem.


"Rumah itu peninggalan orang tuaku, aku akan membayar dengan tabunganku." sahut Mars kesal.


"tabunganmu tidak akan mampu membayar jasaku untukmu, tinggalkan tabunganmu itu disini sebagi penebus kesalahan yang kamu lakukan."ujar Willem menatap tajam.


"Bagus Bila kamu tau diri, pergilah secepatnya, Jagan kau perlihatkan wajahmu dihadapan aku atau putraku." usir Willem lantang.


Mars pergi dengan tersenyum masam langkahnya cepat meninggalkan ruangan tempat Willem berada.


Di tempat lain. Abi telah sampai di markas tersembunyi yang ia siapkan bersama Laura.


"bagaimana kamu suka tempat ini bos?" tanya Laura.


"Hemmmm, bagus sesuai dengan gambar yang aku buat bahkan Ka Laura begitu teliti dengan bagian-bagian kecil." puji Abi menatap puas bangunan yang ada di hadapannya.


"jangan memuji berlebihan Bos, Sebaiknya lihat dulu bagian dalam." sahut Laura sambil mempersilahkan Abi masuk kedalam.


Dengan langkah pasti Abi masuk sembari mengucap salam.


"Assalamualaikum" ucapnya.


Abi melihat semua bagian ruangan yang ada didalam markas,. bibirnya tak berhati tersenyum.


"Kaka memang bisa diandalkan." puji Abi.


"terimakasih pujiannya. apa ada yang perlu di tambahkan?" tanya Laura.


"buatlah tempat khusus untuk beribadah." ujar Abi.


"baik Bos." jawab Laura dengan cepat.


"Abi sudah katakan berapa kali jangan panggil Bos, kita sama-sama manusia Ka, jangan membuat Abi menjadi seakan derajatnya Abi tinggi dari Kaka." tandas Abi.


"Maaf, Kaka tidak enak kamu itu anak dari atasannya Kaka pemilik toko bagaimanapun juga kamu harus di hormati juga."


sahut Laura.


"Abi tidak minta di hormati apa lagi di pandang tinggi."


"baiklah. apa masih ada yang perlu di tambahkan?" tanya Laura ia tak ingin memperpanjang obrolan tadi.


Abi membuka kulkas melihat banyak bahan makan semua lengkap tersusun rapi.


Aku rasa ini cukup untuk saat ini.


"Dimana letak Sumbar air terdekat?" tanya Abi.


"Ada sekitar tiga meter dari sini." sahut Laura.


"Ka Laura belilah pakaian untuk laki-laki dan perempuan, sebentar lagi dua orang temanku akan datang kemari, mereka yang akan menjaga markas kita." ujar Abi.


"pakaian, bagaimana bisa aku membelikan pakaian tanpa tau ukuran baju mereka." protes Laura.


"tunggu di sini. Abi akan menjemput kedua teman Abi dulu." cicit Abi sambil berlalu meninggalkan Laura yang menatap bingung.


sekitar dua meter lebih Abi berjalan ia mengambil bulu burung milik Pangeran Wijayakusuma lalu keniupkan ke udara dalam hitungan menit Seekor burung yang di tunggangi dua orang berbeda jenis mendarat tepat dihadapan Abi.


"Turunlah, tempat tinggal kalian sudah siap, ayo bergegas." ujar Abi begitu melihat pangeran Wijayakusuma bersama putri Larasati.