
siang telah berganti malam namun enam orang yang berada disebuah kamar perawatan VIP sebuah rumah sakit dikairo mesir mesih saja terus mengobrol.
Bara dan Abi yang terus bertanya jawab membuat empat orang yang lain hanya mendengarkan, sesekali mereka berdecak kagum dengan sosok kecil Abi yang sangat pintar.
"jika dia seorang raja maka dia akan memerintah parajuritnya untuk maju terlebih dalu kemedan pertempuran, jika satu parajurit itu tewas maka ia akan mengirim parajuridnya yang lain, begitu seterusnya sampai tak terisa satupun barulah ia mucul, itupun kemungkinannya tidak seratus persen." jelas Abi
"Kenapa bisa begitu ?" tanya pa Ahmad.
"karena jika dia belum siap ia bisa menacari seaeorang yang bisa dijadiakan sebagai kambing hitamnya." ucap Yusuf
Abi menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Yusuf.
"saya yakin musuh pa Adam orang pintar dan cerdik terlihat dari bagaiamana ia merencanakan penembakan dikota ini." sahut Abi.
"jika seperti itu memerlukan waktu lama untuk mengungkap kasus ini." ucap pa Ahmad setelah terdiam beberapa saat.
"apa tidak ada petunjuk sama sekali selain buku kecil itu?" tanya Yusuf.
"saat ini buku kecil itu serta sebuah pistol bulum ada yang kami temukan, kami akan terus melakukan penyelidikan." sahut pa Ammar yang diangguki oleh pa Ahmad.
"informasikan saja kepada media jika kasus ini selesai karna orang yang melakukan penembakan itu melakukan bom bunuh diri hingga tak bisa diminta keterangan lebih lanjut." perintah Abi.
saya yakin setelah itu, musuh utama pa Adam yang di cari polisi saat ini akan merasa tenang, dan membuat rencana baru lagi untuk tuan Adam. saat ia menjalankan rencana itu menargetkan tuan Adam atau keluarga tuan Adam saat itulah pihak kepolisian harus mencari bukti kembali.
"ohhhhh astaga Abi kau membautku menjadi orang bodoh disini" ucap Bara.
"tidak om Bara tidak bodoh om banya hanya sedikit lambat berpikir." sahut Abi sambil tersenyum manis.
"sudahlah Abi, perutku rasanya lapar apa ada yang ingin makan aku akan keluar membeli makanan." ucap Bara.
"belilah untuk semua yang ada diruangan ini kami akan menemanimu makan." sahut Yusuf.
bilang saja jika kalian juga lapar ucap Bara berlalu pergi di ikuti oleh pa Ammar.
"aku akan mengantarmu." ucapnya
"terima kasih" sahut Bara senang.
"bagaimana kedaanmu nak?" tanya pa Ahmad.
"sudah lebih baik pak, karna ayah saya yang tampan disamping bapa itu merewat saya dengan penuh kasih." sahut Abi sambil tersenyum kearah Yusuf.
"oh ya saya dengar bapa sendiri yang melakukan oprasi untuk anak Abi?" tanya pa Ahmad.
"ya saya melalukannya dengan bantuan beberapa suster yang bekerja dirumah sakit ini." sahut Yusuf.
Adam mendekati Abi sambil berucap" saya ingin berpamitan pada kalian karna orang tua saya mendadak masuk rumah sakit." ucap Adam.
"apa anda akan pulang malam ini juga?" tanya pa Ahmad dengan wajah serius.
"ia saya harus kembali malam ini," sahut Adam.
"berhati-hatilah pa Adam" ucap Abi mengingatkan.
"terimakasih nak bagaimana dengan kalian kapan kalian akan kembali ke indonesia.?" tanya Adam.
"dua hari lagi." ucap Yusuf dan Abi hampir bersamaan.
"kompak sekali." ucap Adam sambil tersenyum dipaksakan semburat kesedihan tampak jelas diwajahnya.
"apa ibu pa Adam menderita suatu penyakit." tanya Abi.
"kangker darah." jawab pa Adam.
Abi terdiam beberapa saat sebelum berucap "mongkin Ayah bisa membatu memberikan obat kangker ucap Abi" menatap Yusuf.
"nanti akan saya kirimkan ke alamat pa Adam." sahut Yusuf.
"terima kasih banyak, kalau begitu saya pemit dulu." sambil melangkah pergi.
waktu terus berjalan orang yang mereka tunggu Ahirnya datang membawa beberapa kantung makanan.
Bara meletekan semua makanan di meja sedangkan Yusuf mengambil beberapa botol meneral untuk teman makan.
Yusuf mengambil makanan yang tidak pendas dan boleh dikonsumsi oleh Abi saat ini.
"baiklah Abi akan makan banyak biar cepat sembuh dan bertemu bunda lagi" sahut Abi penuh semangat.
waktu cepat berlalu hari pun berganti kini Abi, Yisuf, dan Bara sedang mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Abi senang sekali melihat berbagai makanan berwarna warni yang terpajang di rak sebuah toko oleh-oleh.
"apa yang kamu mau Abi?" tanya Yusuf
"Abi tidak tau rasa makanan disini, jika mengandalkan warna Abi takut rasanya tak sesuai yang kurapkan." ucap Abi polos.
"biar saya tanyakan pada pramuniaga yang menjaga." sahut Yusuf.
Yusuf miminta Abi menunggunya bersama Bara.
beberapa saat kemudian Yusuf kembali dangan dua kantong penuh belanjaan.
"oh astaga Yusuf kenpa tak kau borung saja sekalian semua isi toko ini" ucap Bara.
Yusuf tak menanggapi ucapan Bara ia mengajak Abi untuk segera pulang.
Yusuf membawa Abi untuk segera masuk kedalam sebuah taxi yang mengantarkan mereka kembali kehotel.
Bara menggikuti masuk kedalam mobil sambil merangut.
"Ada apa dengan mulut dan wajah om Bara." tanya Abi.
""nehhehe seperti donal bebek" ucap Abi
karna tak mendapatkan pembelaan dari Bara Abi memandang keluar jendela mobil taxi, Abi senang sekali melihat gedung-gedung yang berhias lampu yang cantik.
sesampainya dihotel yusuf meminta Abi untuk istirahat terlebih dahulu sebelum mereka kemabali ke indonesia.
di kediaman Umi salamah tampak sibuk menyiapkan penyambutan kecil untuk Abi yang sudah sembuh dan bisa kembali.
"Umi dimana meletakan puding ini?" tanya Risa sambil membawa puding coklat.
"apa mejanya sudah penuh?" tanya balik Umi samabil membaut makanan kesukan Yusuf udang asam manis.
"kalau begitu letakan saja dikulkas kembali nanti selesai makan baru kita sajikan." sahut Umi.
Risa kambeli memasukan puding yang dibawanya kembali kekulkas.
"berapa lama lagi mereka akan sampai?" tanya Umi
"duapuluh lima menit lagi." Umi sahut Risa setelah melihat jam di ponselnya.
"sebaiknya kamu mandi dulu nak Risa dan pakailah baju yang Umi belikan untukmu." perintah Umi.
"sebentar lagi Umi" tawar Risa.
"tidak bisa harus sekarang" ucap Umi
"nanti biar bibi yang menyelesai pekerjaanmu,."ucap Umi
"baiklah" ucap Risa sambil melangkahkan kakinya meninggalkan dapur.
Berapa menit kemudian Risa sudah mengeringkan rambutnya, sambil bersanandung riang.
selesai mengeringkan rambutnya risa memakai baju gaun semata kaki berwana pink, Risa merias wajahnya dengan make up sederna membuat wajahnya terliat berbeda dari biasanya.
Risa memang jarang sekali memakai make up ia lebih suka wajahnya yang natural tanpa olesan bedak dan liptik.
tig tog.....
Bi irah segera berjalan terburu-buru kepintu depan.
"Assamuaikum" ucap Yusuf dan Abi bersamaan.
"waalaikum salam den, ayuuu masuk ibu sudah menunggu dari tadi." ucap Bi irah.
Risa berjalan kearah pintu menumui sang putra tercintanya.
Abi ucap Risa sambil berhambur kearah Abi.