Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Sebuah Virus


Kyai Hasan berjalan degan langkah cepat di ikuti oleh Ustazd Akbar.


seorang perawat keluar dari kamar Umi sambil menutup kembali pintu kamar pasien


"Maaf pak jika ingin menjenguk mungkin bisa nanti saja pasien sedang istrahat." tegurnya Ramah.


"saya hanya ingin melihat sebentar tanpa mengganggunya." sanggah Kyai Hasan.


"baiklah tapi hanya sebentar saja." sahut Suster yang bernama Eva berdiri diadepan kamar perawatan Umi.


tak mau membuang waktu Kyai Hasan masuk kelam kamar Rawat Umi.


"aku Bisa meresakan jika dinding pembatas yang kamu buat rusak." Ucap Kyai Ahmad melalui sambungan Ponsel.


"Sudah jelas ada yang merusaknya." ucap Ustzd Akbar menimpali.


"cepat periksa Umi sekarang!!" perintah Kyai Ahmad tegas.


Kyai Hasan segera mendekat dan menajamkan pendangannya pada Umi salamah yang terbaring layaknya seperti orang tidur.


"minta Yusuf segera memeriksa Umi Akbar." perintah Kyai Hasan sambil memejamkan matanya.


Yusuf,Abi dan Risa masuk kekamar Umi karna melihat wajah cemas kyai Hasan saat keluar kamar tempat perawatan Yusuf membuat mereka bertiga penasaran.


"Ada apa ini?" tanya Yusuf sambil berjalan mendekati Umi.


Yusuf menyentuh pergelangan tangan Umi lalu beralih membuka mata umi dengan tanganya. lantas setelehnya ia menghembuskan nafas kasar.


"kanap Mas?" tanya Risa.


tiba-tiba angin berhembus lembut masuk melelui jendela menerpa badan Abi yang sedang berdiri tengak menatap Umi tanpa berkedip.


Abi memejamkan matanya menikmati hembusan Angin yang begitu lembut seakan berkeliling diseluruh badannya.


tak lama Abi membuka matanya menatap tajam Umi salamah ia lantas mendekati Umi yang masih belum juga membuka matanya.


Abi menotok titik titik tertentu bagian badan Umi salamah tak lama sebuah pergerakan terjadi.


badan Umi memberi Reaksi menegang di sertai kejang namun matanya masih setia terpejam.


hal itu tentu saja membuat bingung Risa beserta Kyai Hasan dan ustazd Akbar.


Yusuf segera mengabil tidandakan ia dengan cepat pergi keruang kerjanya mengabil peralatan dokternya tak lupa ia meminta sahabatnya Nicolas membatunya karna kundisinya lengan kirinya masih terasa sakit saat melakukan pergerakan cepat.


Yusuf dan Nicolas bejalan tergesa-gesa menuju kamar rawat Umi salamah.


sesampainya disana ia masih melihat Abi berada disisi Umi tanpa berpindah sedikitpun.


dengan teliti Nicolas memeriksa ibu dari Sahabatnya.


"Kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut." tukas Nicolas.


Yusuf mengangguk setuju.


Ratih terkejut saat sampai di kamar rawat Umi mana kala mendapati Anak mantu serta doa Orang Ustazd berada disana.


"Kanapa ini Risa?" tanyanya pada sang putri.


"Kami juga masih menunggu hasil pemeriksaan dokter." tegas Risa.


"Lo dimana suster yang tadi menjaga Umi?" tanya Ratih.


"Suster menjaga Umi?" tanya Risa mengulang ucapan ibunya.


"iya tadi Ibu menitipkan Umi pada perawatan yang mengantar makanan kemari." cerita Ratih sambil menegok keluar kamar.


"siapa nama suster itu Bu." tanya Yusuf yang mendengar cerita mertuanya.


"indah!" jawab Ratih dengan kening berkerut binggung.


"sebaikanya periksa rekaman cctv." perintah Ustazd Akbar.


tanpa mereka sadari semua obrolan itu si dengar oleh Kyai Ahmad melalui sambungan ponsel yang lupa di matikan oleh Kyai Hasan.


Abi berjalan lemas dia mendekati Bundanya pandangannya tiba-tiba kabur dan Brukkkk Abi terjatuh tepat di bawah kaki Risa.


"Abi!" Pakik Risa dan Ratih.


Nicolas sudah mengambil sempel darah Umi dan pamit pada Yusuf untuk segera mengecek sempel darah Umi.


"Yusuf kau bisakan mengurus anakmu sendiri." celetok Nicolas didepan pintu sambil berbalik menatap Yusuf.


"Yaaa Abi hanya pingsan." sahut Yusuf sambil berjungkuk memeriksa Abi.


Kyai Hasan dan Ustazd Akbar segera mengangkat Abi dan memberingkannya di samping Umi salamah.


Sukma Abi dintarik oleh seseorang gumam Kyai Ahmad pelan.


"aku harap orang itu baik dan mau membatu Abi batinnya. lalu mematikan sambumbungan ponselnya.


Di tempat lain Abi membuka kedua matanya perlahan sambil menyesuikan cahaya yang masuk melalui matanya.


"Abi kemarilah nak." panggil Raden Mas


"kakek." sahut Abi sambil berjalan menghapiri Raden Mas yang berdiri di salah satu batu yang berada di tepi air terjun.


"Abi selamatkan nenekmu Umi salamah." minta Raden mas sambil menatap penuh harap pada Abi.


"bagaimna cara Abi menolongnya kek?" tanya Abi.


"Virus itu berhaya sekali nak, apa lagi nenekmu masih dalam masa pemulihan dari penyakit yang dideritanya membuat Virus itu semakin cepat bereaksi." ungkap Raden Mas menatap sadih.


"kakek hanya bisa memberikan obat untuk memperlambat virus itu bereaksi untuk menyembuhkannya kakek tidak memiliki tanaman obatnya." jelas Raden mas.


"Apa tanaman obat yang bisa menyembuhkan nenek dari virus berbahaya itu ada kek?" tanya Abi polos dengan wajah serius.


"tidak mongkin tidak ada kamu percayalah pada keyakinan yang kamu anut tak ada didunia ini yang bisa melawan kehendaknya. bahkan rumput yang kita anggap tak bergunapun bisa jadi obat yang ampuh jika ia menghendaki." jelas Raden Mas.


"kekek benar, jika begitu Abi akan mencari tanaman obat itu." Ungkap Abi penuh semangat.


"Lihatlah ini nak 7 lembar daun ini tumbuklah bersaman dengan tanaman obat berwana merah ini lalu peras airnya dan saring setelah itu boleh diminumkan untuk nenekmu." jelas Raden Mas.


"kekek kenapa kakek tidak memberikan saja ramuan yang sudah jadi, jika menunggu waktu membuatnya mungkin akan lama sedang Oma pasti merasa sakit akibat virus berbahaya itu." tutur Abi penuh harap sambil mencelupkan kakinya kedalam air.


"hmmmm baiklah akan kuberikan kali ini." ucap Raden mas memberikan obat yang sebelumnya ia buat dan di masukan dalam botol terbuat dari bambu kemudian beri tutup dengan daun.


"terima kasih." ucap Abi sambil mengambil botol bambu dari tangan Raden Mas.


"baiklah kek, antar Abi kembali Abi harus menolong Oma segera." regek Abi.


Raden Mas tersenyum lalu mulutnya merapalkan mantra wusssssss sebuah pusaran angin membawa Abi kembali masuk kedalam badannya.


Abi membuka matanya pelahan sambil memadang sekitar nampak jelas wajah-wajah cemas menjadi pemandangan utamanya.


"Abi kamu tidak apa nak." Seru Risa.


hhehehhehee Abi nyengir memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi. "Abi tidak apa-apa." sahutnya sambil bangun dari pusisi tidurnya ia lantas mengambil botol bambu yang didapatnya dari Raden mas dan meminumkan perlahan ke mulut Umi setelah dirasa cukup ia melapas totok yang sebelumnya ia lakukan.


Yusuf memeriksa cairan yang di berikan Abi pada Umi detik berikutnya ia mengangguk paham.


"Dari mana Obat ini Abi?"tanya Yusuf.


"Dari kakek buyut Ayah." sahut Abi sambil tersenyum.


Di lain tempat Defvan keluar dari sel tahanan dengan Wajah berbinar ia tak sabar ingin mengucapkan terimaksih pada Risa dan Yusuf yang telah mencabut tuntutannya.