Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
kembali


Malam yang gelap menjadi saksi perjalanan Zahra serta para santri tak lupa juga tiga tamu Ayahnya yang sedang menginap.


perlahan Zahra dan Mars membuka mata terdengar ditelinga keduanya beberapa orang mengucap syukur padaNya.


"Alhamdullilah." begitulah ucapan para Santri yang mengelilingi Mars serta Zahra.


Hal yang sama juga dirasakan Abi didalam sebuah kamar Abi membuka mata ucapan syukur terdengar dari mulut Mang Antok bersama Kyai Ahmad.


"Nak Abi." sapa Kyai Ahmad.


"Pa Kyai kenapa badan Abi rasanya sakit semua." keluh Abi.


"Ini Den Abi minum dulu pasti tenggorokannya kering." Ujar Mang Antok sambil memberikan satu gelas air putih yang sebelumnya sudah di bacakan Doa oleh Ustadz Akbar.


Kyai Ahmad membatu Abi untuk bersandar pada bantal. "minumlah Nak." ucapnya.


Abi mengambil air ditangan Mang Antok perlahan ia minum setelah sebelumnya ia mengucap Bismillah.


"Sudah lebih enakan nak Abi?" tanya Kyai Ahmad.


"Alhamdulillah mendingan Kyai." sahut Abi.


"lebih baik kamu istirahat kembali nak besok biar Mang Antok dan Ustadz Akbar menceritakannya padamu." kata Kyai Ahmad.


"iya benar Den Abi istirahat dulu biar besok pas bangun sakit di badannya hilang." sahut Mang Antok.


Zahra dan Mars masuk ke kamar tempat Abi berbaring.


"Assalamualaikum." ucap keduanya.


"Alaikum salam nak Zahra Nak Mars." sahut Kyai Ahmad sembari tersenyum.


Mars melirik Abi yang kembali berbaring di kasur.


sebelum Mars menanyakan keadaan Abi Kyai Hasan terlebih dahulu berucap.


"Nak Mars biarkan Abi beristirahat ia begitu lelah sebaiknya kalian juga istirahat besok kita bisa saling bertukar cerita." ujar Kyai Hasan.


"Baik Kyai." sahut Mars Zahra tersenyum dibalik cadarnya ia kemudian pamit ke kamarnya setelah mengucapkan selamat malam dan salam.


Kyai Ahmad juga pamit undur diri setelah mengucap salam. Ia berjalan meninggalkan Kamar tamu di rumah sahabatnya itu.


Langkah Kyai Ahmad lantas terhenti melihat adik seperguruannya sedang duduk bersila di atas kursi ruang tamu. perlahan Kyai Ahmad duduk di samping sang sahabat sambil menepuk pelan bahu kanannya.


Bersamaan dengan itu roh Ustadz Akbar dan Ki Maung kembali ke raga masing-masing.


"Alhamdulillah." gumam Ustadz Akbar sambil membuka matanya perlahan.


"Akbar apa yang terjadi?" kata Kyai Ahmad mengagetkan Ustadz Akbar.


"Kakek membuatku kaget saja." sahut Ustadz Akbar.


"Maafkan aku Akbar. Aku hanya penasaran dengan apa yang terjadi denganMu." jawab Kyai Ahmad.


"Abi diserang oleh seorang dukun yang mengaku mendapat bayaran tinggi dari seseorang untuk membuat Abi terluka." jelas Ustadz Akbar.


"Kau tau siapa orang yang dimaksud Dukun itu?" sambil menatap Akbar.


"Tidak, aku lupa menanyakannya Kakak." sahut Ustadz Akbar sambil tersenyum kecut.


"Akbar, segala sesuatu yang terjadi pasti pasti ada sebabnya. Apa ada yang tidak aku ketahui?"


"Ya Kak, Abi datang kemari karena ada sedikit kesalahan pahaman dengan Willem." cerita Ustadz Akbar.


"Salah paham?, bisa ceritakan lebih jelas." minta Kyai Ahmad.


"Akbar menceritakan apa yang sebelumnya diceritakan Mang Antok serta Abi pada Kyai Ahmad membuat Kyai Ahmad mengerti sambil menghela napas Kyai Ahmad berucap.


"Apa kita harus menceritakan pada Keluarga Abi masalah ini?" tanya Ustadz Akbar.


"Ia Ayah dan ibu perlu tau, Jika seseorang mata hatinya sudah dibutakan iblis ia tak akan memiliki balas kasih meski itu darah dagingnya sendiri." Ungkap Kyai Ahmad.


"Apa mungkin hal ini Ada hubungan dengan Willem." gumam Ustadz Akbar yang di dengar oleh Kyai Hasan.


"jangan berprasangka buruk Akbar, berprasangka baiklah pada siapapun meski ia musuh mu sekalipun. Iblis sangat suka manusia beriman yang selalu berprasangka buruk karena dengan begitu orang tersebut tak sadar melalukan dosa." nasehat Kyai Ahmad.


"Astaghfirullah." gumam Ustadz Akbar pelan.


"Jagalah hatimu agar selalu bersih Akbar." kata Kyai Ahmad sambil tersenyum.


"Insyaallah Kak."


"sebaiknya kau periksa keadaan putrimu Zahra ia ikut menyelamatkan Abi masuk ke alam yang sengaja dibuat oleh Dukun itu." ujar Kyai Ahmad.


"Apa Zahra bagaimana mungkin." ucap Ustadz Akbar.


"Jangan terkejut Akbar Putrimu itu memiliki kelebihan tersendiri. meski kamu berhasil menutup mata indigonya bakan berarti Allah tak bisa membukanya. apalagi kemampuannya tak hanya sebatas itu saja." Kata Kyai Ahmad.


"Apa maksudmu kemampuannya tak sebatas disitu apa yang aku tidak ketahui tetang putriku itu?"


"Akbar putrimu dapat merakit mesin yang telah hancur atau tak lagi terpakai keputusan Almarhum ibunya memasukan Zahra ikut belajar otomotif bukan tanpa alasan." ungkap Kyai Ahmad.


"Zahra itu memiliki riwayat penyakit Asama Ka. Ia tak bisa terlalu lelah. merakit mesin itu bukan waktu yang singkat." Sahut Ustadz Akbar.


"Jangan berkata begitu. Kau tau Akbar jiwa raganya hanya milikNya yang Maha Kuasa. percayakan segalanya padaNya. Zahra hanya dititipkan padamu kau tidak bisa mengatur apa yang sudah ditetapkan Allah padanya." Tukas Kyai Ahmad.


"Tugasmu mendidik membimbingnya Agar selalu berada dijalan lurus. Ingat Akbar anak adalah tanggung jawab orang tuanya. jika ia berbuat dosa kau mengetahuinya tapi kau mendiamkannya maka kamu ikut menanggung dosanya." ujar Kyai Ahmad kembali mengingatkan sang Sahabat.


"Ia Kak, aku tau." sahut Ustadz Akbar.


"Dan satu lagi Akbar jangan terlalu larut dalam kesedihan mendalam ikhlaskan ia agar tenang disisinya. jangan biarkan kesedihanmu itu membawa pasukan iblis membangun rumahnya kembali di dalam dirimu." lanjut Kyai Ahamad.


"terimakasih Ka atas segala nasehatmu. Jujur saja hatiku merasa tak tenang semenjak ibunya Zahra tiada Aku selalu menyalahkan diriku yang lalai menjaganya hingga menyebabkan ia pergi untuk selamnya." ungkap Ustadz Akbar.


"Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja. bukan kamu yang lalai Akbar itu memang sudah kehendaknya."


"Istirahatlah, periksa terlebih dahulu putrimu aku pamit Assalamualaikum." ucap kyai Ahmad sambil berlalu meninggalkan Ustadz Akbar yang terpaku di kursi ruang tamu.


Beberapa menit berlalu Ustadz Akbar tersadar dari lamunannya. menyahut salam kyai Ahmad. kemudian berjalan menuju kamar sang putri.


tok...tok....


"Zahra kamu sudah tidur nak?" ucap Ustadz Akbar di balik pintu.


Zahra membuka pintu kamarnya sambil melempar senyum pada yang Ayah.


"Ada apa Abuya?"


"Zahra kamu baik-baik saja nak?"


"tentu saja, Abuya bisa lihat sendiri tak terjadi apapun pada Zahra." sahut Zahra dimuka pintu kamar.


"Baiklah jika begitu kamu istirahat saja nak, jangan banyak pikiran." ujar Ustadz Akbar. sambil mengacak rambut sang putri yang tertutup hijab.


"Abuya juga istirahatlah. jangan memikirkan Umi terus. Umi sudah mendapat tempat disisinya biarkan Umi pergi dengan tenang." Sahut Zahra sambil tersenyum simpul.


"Baiklah nak, terimakasih mengingatkan Ayah."


"sama-sama Abuya." sahut Zahra.


Di tempat lain Risa sudah terbangun ia menceritakan apa yang ia alami bersama sang putra pada suami tercinta.