
sepasang suami istri sedang berbicara didalam kamar.
"bagaimana pekerjaanmu hari ini di toko?" tanya Yusuf.
"pekerjaan di toko tidak ada masalah mas, kue yang aku dan Abi buat juga semakin hari semakin bertambah jumlahnya dan selalu habis." sahut Risa sambil tersenyum.
"Alhamdulillah." ucap Yusuf.
"mas tadi Devan mengajakku mengobrol lagi, ia ingin meminta Abi ikut dengannya." cerita Risa.
"lalu kamu jawab apa?" tanya Yusuf sambil melirik sang istri tercinta.
"aku menolaknya dengan alasan aku lebih berhak darinya." sahut Risa sambil mengingat kembali pertemuannya beberapa waktu lalu bersama Devan di sebuah cafe.
"sepertinya dia tidak menerima penolakanku, ia tetep bersikeras akan mengambil Abi dariku, dangan alasan ingin memberikan pendidikan yang layak dan memberikan kasih sayangnya apa Abi." lanjut Risa
"ia bahkan menawarkan ide gila agar aku dan Abi tetep bersama." ucap Risa menjeda ucapan ragu ingin kengatakannya pada sang suami.
Yusuf memberikan senyumnya pada Sang istri sambil berucap. "lanjutkan saja tak apa-apa." minta Yusuf matanya lekat memandang wajah sang istri yang nampak ragu dan cemas.
"Ia mengajakku menikah." ucap Risa dengan sekali tarikan napas ia mempu mengatakan permintaan Devan yang menurutnya sangat gila.
"yusuf meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya sambil bertanya. "Apa kamu menyukai Devan dan ingin membina rumah tangga dengannya?" tanya Yusuf.
"tidak." sahut Risa mantap
"kau yakin tak ingin menyatukan Abi dan ayah kandungnya?" tanya Yusuf hati-hati.
"jika Abi ingin bermalam satu atau dua malam di rumah Devan aku tidak masalah tapi jika ingin mengambilnya untuk selamanya aku tak rela, apalagi menikahiku aku tak mau" sahut Risa.
tanpa mereka sadari dari tadi Abi berada di dekat pintu mendengar semua percakapan kedua orang tuanya.
awalnya Abi ingin menemui kedua orang tuanya karena ingin ditidurkan oleh Bundanya sambil mendengar dongeng sebelum tidur.
kaki kecil Abi melangkah kembali kamarnya, dan menutup pintu kamarnya setelah masuk.
Abi merebahkan dirinya divatas kasur empuknya, setelah membaca doa sebelum tidur.
tiba-tiba sebuah ide muncul di di kepalanya.
detik berikutnya Abi tersenyum membayangkan idenya untuk mengerjai Ayah kandungnya itu.
aku akan menelponnya, dan mengajaknya bertemu. batin Abi.
malam semakin larut ditambah suasana larut sedang turun hujan membuat Abi mengantuk ia segera memejamkan matanya, tak perlu waktu lama ia terlelap.
keesokan harinya Abi meminta ijin pada bundanya untuk bertemu dan mengobrol bersama Devan.
setelah dapat ijin dari Bundanya Abis segera keluar dari toko menemui Devan yang menunggunya di mobil.
"Ayo masuk." ucap Devan sambil membukakan pintu mobil di samping kemudi.
didalam mobil sesekali Devan mengajak Abi mengobrol ringan.
"apa makanan yang paling kamu sukai Abi?" tanya Devan.
"makanan yang paling Abi suka adalah masakan Bunda rasanya tiada duanya karena ia membuatnya dengan penuh cinta." sahut Abi seperti orang dewasa.
"oh, ya apa Bundamu sering memasak untukmu?" tanya Devan.
"setiap hari Bunda memasak, walau sibuk Bunda tetap meyempatkan diri memasak untuk Abi makan meski hanya masakan yang simpel." cerita Abi sambil mengingat Ibunda tercintanya, yang seperti wanita tak kenal leleh.
"Betapa beruntungnya Aku jika memilikinya suatu hari nanti." pikir Devan.
"Berarti kau sangat beruntung memiliki ibu yang begitu memperhatikanmu." sahut Devan.
"kau mau kemana?" tanya Devan.
"terserah Ayah ingin membawaku kemana." sahut Abi santai
"baiklah aku akan membawamu sesuatu saat nanti." ucap Defvan.
dua puluh menit berlalu kita mereka sudah sampai disebuah sebuah restoran berbintang bergaya eropa.
"silahkan duduk dek. ucap pelayan menarik sebuah kursi untuk Abi.
"terimakasih" ucap Abi.
waiters itu tersenyum pada Abi sambil berucap "sama-sama."
setelah memesan makanan Abi dan Devan saling mengobrol.
"Abi Ayah ingin kau tinggal dengan Ayah apa kamu mau?" tanya Devan mengutarakan keinginannya.
"kenapa Ayah ingin memisahkanku dengan Bunda?" tanya Abi sambil melihat aktivitas orang yang ada di lestoran super mewah ini.
"Bukan memisahkanmu sayang Ayah justru ingin mengajak serta ibumu juga tinggal bersama." ucap Devan.
"Bunda tidak akan mau Ayah" sahut Abi.
"aku akan mencobanya lagi nanti." ucap Devan sambil meminum air yang sudah diantarkan waiters.
"aku sudah memutuskan sesuatu." ucap Abi sambil mengaduk minuman coklat miliknya.
Devan mengerutkan kening mendengar ucapan putranya.
"Ayah Abi mau tinggal dengan Ayah, asalkan Ayah bisa merawatku seperti Bunda merawatku." ucap Abi sambil meminum es coklat miliknya.
"benarkah." ucap Devan senang.
"tapi dengan syarat Ayah bisa merawatku seperti Bunda merawatku." ucap Abi.
"seperti apa Bundamu merawatmu setiap hari?" tanya Devan antusias karena ia yakin ia bisa melakukannya bahkan lebih baik dari pada Risa.
Bunda memberiku makan, makanan yang ia masak sendiri terkadang ia juga menyuapiku makan, Bunda membaca cerita pengantar tidur untukku saat aku ingin tidur, ia melindungi saat ada orang lain yang melukaiku, bunda juga bekerja agar bisa memberikanku kehidupan yang layak, Bunda mencuci baju-baju kotorku setiap hari, Bunda juga terkadang memandikanku agar bisa menggosok punggung belakangku. disela kesibukannya ia juga membersihkan rumah yang berantakan karena olehku bermain. ia melakukan semuanya tanpa mengeluh ungkap Abi sambil melihat Ekspresi terkejut dari wajah Devan.
"Apa ayah Bisa melakukan itu semua untukku tanpa bantuan pengasuh dan pembantu." ucap Abi.
"Di rumahku ada pembantu jadi aku hanya akan menyuapimu makan, bekerja, dan mendongeng sebelum kamu tidur." sahut Devan merasa ia begitu beruntung.
"jika Ayah meminta bantuan pada pembantu maka Abi tidak akan mau tinggal bersama Ayah." sahut Abi.
"kenapa?" tanya Devan.
"karena Ayah tidak memenuhi syaratnya." sahut Abi.
"yang lain tetep dikerjakan pembantu." ucap Devan.
"Pembantu tidak boleh ikut membantu, karana Bunda melakukan semuanya tanpa pembantu, Ayah juga tidak bisa meminta bantuan pembantu agar adil." jelas Abi.
"tapi Abi Ayahkan laki-laki mana bisa Ayah memasak dan mencuci baju." ucap Devan.
"hehehehe, itu urusan Ayah, yang Abi mau semua dikerjakan Ayah sendri. sebagaimana Bunda juga mengerjakannya sendiri. masih beruntung Abi tak meminta Ayah bekerja seperti Bunda dulu, setiap hari berkeliling dibawah terik matahari untuk menjual kue hasil buatannya, kadang jika kuenya tak laku, kami hanya bisa memakan kue itu sebagai penganjal perut, meski tinggal di panti asuhan untuk biaya hidup dan makan Bunda mencari sendiri." cerita Abi.
Devan menelan ludah dengan susah, mendengar cerita dari anak semata wayangnya, ia membayangkan apa yang diceritakan Abi padanya saat ini.
"Bagaimana kalian mampu bertahan hidup dengan keadaan seperti itu, kenapa ibumu itu tak datang padaku menceritakan segalanya padaku, aku pasti akan membantumu, apalagi kau adalah darah dagingku Abi, massa kecilmu seharusnya tak sesakit itu." ucap Devan.