Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Perintah Putri Arum.


Sesampainya dirumah Yusuf disambut oleh sang istri dengan senyuman manis di depan ruamh.


"Assalamualaikum." sapa Yusuf.


"Walaikum salam." Mas sahut Risa kemudian mencium punggung tangan suaminya.


Seorang gadis kecil berlari menghapiri Yusuf yang baru saja masuk rumah.


"Ayah....." seru Dewi dengan suara cemprengnya berhambur kearah Yusuf.


"Dewi apa Kakak yang membawa Dewi kesini?" tanya Yusuf sambil menggendong sang putri.


"Tidak Ayah, Dewi datang sendiri." sahut Abi yang berjalan dari arah dapur.


"Datang sendiri?" Yusuf mengulang ucapan Abi.


"Ya Ayah putri Ayah ini datang sendiri menyamar menjadi anak jalanan hanya untuk melihat Marcella." Jelas Abi sambil melihat sang Adik dalam gendongan Yusuf.


Risa sudah naik ke atas meletakan tas kerja Yusuf.


"Ayah mau minum apa biar Abi buatkan?"


"boleh, teh hijau tawar saja" sahut Yusuf.


"Nak, jangan membuat Ayah dan Bunda Khawatir, kamu bisa saja diculik orang bila pergi sendiri tanpa ada yang menemani." nasehat Yusuf.


"Siapa yang berani menculik Dewi." sahut Dewi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ayah bukan melarang kamu nak, Ayah hanya takut terjadi hal yang tidak diinginkan." ujar Yusuf sambil mendaratkan pantatnya di sofa ruang keluarga.


"Dewi bisa jaga diri sendiri." sahut Dewi sambil melihat Abi berjalan mendekati mereka.


"Ini Ayah tehnya." Abi meletakan teh di atas meja.


"Terimakasih nak."


"Dewi suka sekali bertidak sesuka hati Ayah, Abi sudah menesihati tetap saja Dewi tidak mau mendengarkan Abi." ujar Abi mengadu sembari duduk di sofa di samping Yusuf.


"Dasar tukang Adu." celetok Dewi sambil mencibir.


"itu karena kamu tidak mau lagi mendegerkan Kaka sudah berapa berkali kali Kakak melarang kamu." sahut Abi.


"Aku bosan Ayah aku hanya berteman dengan Kak laras dan Kak Wijaya." ucap Dewi teratai dengan wajah murung.


"jangan bersandiwara, Kakak serius Dewi ini semua demi kebaikan kamu." Tegas Abi.


"Mungkin Adikmu memang kesepian Abi, baiklah Dewi kesini saat Dewi ingin tapi jangan sendri nak telpon Ayah atau Kakakmu Abi." ujar Yusuf.


"Maaf bukan Kakak marah hanya saja kamu tidak boleh bertidak gegabah kakak tau kamu mengerti walau masih kecil otakmu cukup pintar mencerna setiap ucapan Kakak. meski kamu bukan anak biasa tatap saja kami Khawatir." kata Abi panjang lebar.


"apa yang Kakakmu katakan benar Nak, kami sangat sayang dengan Dewi."


"Maaf ka, Maaf Ayah." ujar Dewi teratai tertunduk sedih.


"hmmm jangan sedih nak, Ayah punya hadiah buat kamu, tapi tunggu selesai makan malam ayah Akan berikan disini kita berkumpul lagi sekarang Ayah mau mandi dulu" ujar Yusuf.


Dewi teratai segera turun dari pangkuan Yusuf ia menarik Abi untuk menemani bermain.


"Kakak Aku mencium bau tanaman obat dirumah ini, ayo tunjukan padaku." regek Dewi.


"hemmmmm, tidak ada yang menarik disana hanya ada berbagai jenis tanaman obat." sahut Abi.


"Aku ingin melihatnya Ka." regek Dewi teratai.


"baiklah, Ayo" ajak Abi.


"Ka aku punya teman ular di hutan wisa ular itu sangat bagus sebagai pelengkap membuat Racun, kita harus bersiap Ka, Kakek William pasti menuntut balas Ujar Dewi teratai." anak perempuan berjalan masuk keruang kerja sang Ayah.


"hemmmm, Kakak tau Dewi dan untuk itu Kakak sudah siap." sahut Abi tenang.


"waaahhh tanaman disini sangat subur, Dewi mau cari beberapa jenis tanaman disini." ujarnya segera menyisiri tanaman obat milik marcello.


"Kakak letak tanaman obat ini agak jauh dari ruamah sepertinya jalan menuju kesini juga belum lama dibuat?" tanya Dewi teratai.


"Dewi ternyata kamu menperhatikan sekali, mungkin khawatiran aku selama ini terlalu berlabihan, adik kecilku ini menutupi dengan tidakannya yang menurut aku selalu tanpa berpikir, ia justru memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, matanya sangat tajam melihat sesuatu yang ganjil." batin Abi.


Dewi tersenyum riang sambil sekali ia beryanyi tangan kecilnya memetik beberapa jenis tanaman obat.


Dewi teratai emas mengangguk mengerti


"Apa kamu ingin membuat racun lagi untuk Putri Lasmi?"


"tergantung jika diperlukan dengan senang hati Dewi membuatnya." Japan Dewi teratai.


"ayo cepat Dek, ayah pasti menunggu kita diruang keluarga." Abi berbicara sambil berjalan menuju pintu.


"Baiklah satu tanaman lagi aku akan berlari menyusul Kakak." tangannya masih saja tak berhenti memetik tanaman obat.


Di tempat berbeda William dan Putri Lasmi sedang mengobrol.


"William istrimu itu sudah bertidak gegabah ia menculik Ibu dari Cucumu tanpa perintah. bukan hanya itu ia bahkan mendatanggi rumah Cucumu. bukankah itu sama saja ia mengantar Nyawa." ujar Putri Arum


"Dasar Wanita bodoh." cicit William.


"Dia terperangkap dalam sebuah Batu." jelas Putri Arum.


"terperangkap?"


"seluruh tubuhnya menjadi Batu layaknya patung yang dibuat dari Batu. Apakah kamu berniat menolongnya Ayah mertua?" putri Arum melirik sekilas William yang sedang duduk menikmati pemandangan sore di kebun bunga milik Devan.


"William berpikir sejenak sebelum menjawab. Dimana patung Marcella sekarang?" ia bertanya balik.


"Didepan Rumah Dokter Yusuf."


"Biarkan Saja dulu, wanita itu terlalu menganggap dirinya hebat, bila kita membutuhkannya Baru pikirkan Cara menolongnya." Kata William.


"Kamu benar, Marcella tidak mau Kalah Dari aku obsesinya Ingin menjadi ratu dunia membuatnya mempelajari ilmu hitam dari Raja Iblis."


"apa langkah kita selanjutnya? Anak itu sudah berani mengancam Aku." tandas William.


"tenanglah William kamu ikuti saja perintah dariku"


"Bagaimana dengan Devan?"


"Devan biar menjadi urusanku!" Dia berada dibawah pengawasanku.


"Bagus sediaknya Anak itu tidak membuat Raja murka."


"Kamu harus waspada dengan Mars anak itu cukup berani mengajak Devan ikut bersamanya, mungkin saja Dia ingin mempengaruhi Devan untuk melindungi putranya."


"Apa?? anak harus diberi pelajaran. Apa dia bersekongkol dengan Abi?"


"Benar dia mendapat perlindungan dari Abi. Nanti malam kamu harus mengirim teloh untuk Mars sakiti dia." perintah putri Arum."


" Baiklah anak itu memang harus diberi sedikit pelajaran."


"Jangan hanya pelajaran bila perlu kamu habisi dia." perintah putri Arum membuat William menelan silvanya.


"William kamu bukan hanya sekali melakukan pembunuhan, kenapa begitu kaget? apa kamu masih memiliki balas kasih terhap sahabat anakmu itu?" tanya Putri Arum sambil tersenyum hambar.


Mendengar itu William segera menjawab.


"Tidak Tuanku Putri Arum, Dia tidak lebih dari sampah penganggu saja." sahut William Cepat.


"Jika begitu singkirkan dia dari jalanmu, jangan sampai dia membawa kehancuran bagi kita."


"Baik putri malam ini juga akan saya kerjakan." jawab William cepat.


"Bagus, ada dua orang yang akan membatumu menyiapkan dan mengerjakan pekerjaanmu. Aku ingin hasilnya memuaskan." Putri Arum berlalu meningalkan William.


"Baik tuan putri akan saya lakukan semampu saya." gumam William.


Di rumah Yusuf.


"Nak kemari duduklah ini untukmu." ujar Yusuf menyerahkan kotak kecil untuk sang putri.


"Jangan dibuka dulu nanti buka sama-sama okey"


"Ini untuk kamu Bunda dan yang kotak selver ini untuk Kak Abi." Yusuf menyerah dua kotak berbeda untuk Abi dan Risa.


"Apa ini Mas?" tanya Risa.


Bukalah bersama-sama.