
Roh Dewi teratai dan Ustadz Akbar sudah kembali kekamar yang Mars tepati.
"Mars bagaimana keadaanmu?" Ustadz Akbar bertanya ingin memastikan.
"Alhamdulillah sudah tidak lagi sakit kepala saya." Ustadz sahutnya.
"Alhamdulillah." ucap Zahra Ustadz Akbar dan Dewi serempak.
"Coba Om berdiri dan gerakan badan Om siapa tau ada anggota tubuh lain yang sakit." ujar Dewi teratai sambil menatap Mars.
Mars mengikuti perkataan Dewi ia baediri dan melangkah sekali ai memutar leher kiri kanan tak lupa mengerakan tangan kiri dan kanan.
" Auwwww." ucapnya saat tangan kanan ia gerakan ada rasa nyeri.
" Uluran sini tangan Om biar Dewi pijat." tawar Dewi teratai.
"JIka aku saja sudah Om Bilang menakutkan bagaimana dengan Ka Abi yang lebih tinggi dari aku." sahut Dewi.
Sematra Dewi memijat tangan Mars terdengar suara orang mengaummmmm marah diatas atap.
Zahra kamu diam disini Abuya yang akan periksa ucap Ustadz Akbar melihat gelagat anaknya ingin keluar kamar.
" Baik Abuya." jawab Zahra.
" Dewi mata tajammu pasti bisa menembus atap rumahku ini siapa diatas sana?" tanya Zahra penasan.
"Hanya beberapa siluman bertubuh besar tapi berkemampuan kecil." sahut Dewi santai.
"Siapa yang ingin meleyapkan aku?" tanya Mars pada Dewi teratai.
"Kakek tua William." sahut Dewi datar.
"Apa siluman yang datang itu suruhannya juga?" Zahra Bertanya penasaran.
"Iya benar Kakek sepertinya tidak terima matanya cacat karena olahku tadi maka dari itu mengirim siluman kepercayaannya untuk menghabisi aku." hahhahhahhah tawa Dewi teratai riang gembira.
"Maksudmu cacat bagaimana?"
"Dewi membuat Kakek buta sedengakan Baiyura membuatnya kehilangan aktivitas kakinya aliyas lumpuh." sahut Dewi sambil tersenyum.
"Astagfirullah kasihan sekali Ayah kamu Devan." gumam Mars.
Mata Dewi teratai tiba-tiba tajam mentap keatas pelapon rumah. datik berikutnya aura dingin menyeruak dari tubuhnya membuat Zahra dan Mars mengigil, dengan tangan mengepal kuat sekali hentakan kaki terdengarlah suara ledakan diatas rumah kentakan kedua suara ledakan semakin keras seiring dengan itu udara di kamar Mars kembali normal seperti sedia kala.
"Dewi kamu membuat napasku sesak." keluh Zahra sambil mengatur napasnya.
"Aku hampir saja tidak bisa bernapas Dewi kamu begitu menakutkan." ungkap Mars ikut menimpali.
"Maaf aku Hanya membatu Ustadz sedikit kerana kedua siluman itu bermain licik." sahut Dewi santai.
"Terimakasih Dewi kamu sudah membantu Abuya." ucap Zahra tulus.
Sama-sama ka sesama umat kita muslim harus saling tolong menolong sahut Dewi teratai.
"Tangan om gimana masih sakit?"
"Alhamdulillah sudah tidak lagi sakit, terimakasih Dewi." jawab Mars sambil tersenyum.
Karena semua sudah beres aku harus pulang pamit Dewi.
"Dewi terimakasih sudah menolong saya." ujar Ustadz Akbar sambil berjalan masuk memasuki kamar Mars.
"Sama-sama Ustadz, Allah yang menolong lewat perantara saya, saya tidak punya kemampuan jika bukan karenanya." Sahut Dewi merendah.
"Walaikum salam." sahut Mars, Zahra dan Ustadz Akbar bersamaan.
"Dewi bilang kita harus bersiap dalam waktu dekat kita akan." menemui Putri Arum.
"Kenapa Dewi masih kecil dan perlu banyak belajar lagi." sahut Mars sambil duduk di tepi ranjang.
"Kita bicara besok saja bersama kyai Hasan dan Kyai Ahmad, sudah terlalu malam istirahatlah." tukas Ustadz Akbar.
"Iya Abuya, Zahra pamit." sahut Zahra melangkah keluar dari kamar Mars.
"Kamu sholatlah nak Mars Allah melindungi kamu berterimakasihlah padanya." ucap Ustadz Akbar.
Baik Ustadz akan saya laksanakan secepatnya jawab Mars.
Ustadz Akbar meninggalkan Mars seorang diri ia juga ingin melaksanakan sholat tahujud dalam kamarnya.
DI dalam kamar Abi menatap sang Adik yang diam tanpa kata.
" Dewi kenapa kamu selalu tidak sabaran dalam bertindak?"
"Aku hanya ingin membuat Kakek jera Ka, Dewi rasa itu hukaman yang pantas untuk Kakek. Dewi sejujurnya sedih mengatahui Kakek memiliki ilmu hitam yang lumayan tinggi, bukan Dewi bermain licik dengan mencederainya lebih dulu sebelum perang, Dewi takut jiwa iblisnya bangkit, bila hal itu terjadi maka dia jadi banteng kuat yang akan menghalangi kita memusnahkan Putri Arum dan putrinya." jelas Dewi teratai.
" Bisa saja itu hanya ketakutan mu, bagaimana kamu tau sesuatu yang belum tentu terjadi Dewi." sahut Abi.
"Tak ada salahnya kita sedia payung sebelum hujan ka." tukas Dewi.
"Kaka walaupun Mata Kakek buta bila jiwa iblisnya bersatu dengan jin yang mendiami tubuhnya ia akan tetap sulit kita kalahkan. Mata iblis dan mata jin nya tidak buta." terang Dewi sambil duduk di tepi ranjang.
"Ya kamu benar, Kaka hanya takut Kakek manutut balas padamu." ungkap Abi.
"Jangan takut Ka, makhluk yang hidup pasti akan mati hanya caranya yang berbeda-beda sesuai janjinya." sahut Dewi sembari tersenyum penuh Arti.
"Dewi Kakak belum siap bila hal buruk terjadi padamu." ungkap Abi menatap sang Adik penuh kasih.
"Jangan menjadi buta karena cinta Ka, Dunia ini hanya tempat Dewi sementara. Dewi selalu berdoa semoga kita dikumpulkan kembali ditempatnya yang indah."
"Kamu membuat Kaka semakin takut Dewi, bukan Kaka Buta tapi Kaka sangat sayang padamu. bila hal buruk terjadi padamu Kaka bersedia menggantikannya."
"Tidak bisa Ka itu sudah menjadi janjiku padaNya, aku diberi kesempatan hidup yang kedua kalinya hanya untuk menolong Kaka, Bila tugasku selesai mungkin aku harus kembali. Dewi tidak akan menyalahkan Kaka tenanglah." Tukas Dewi sembil tersenyum dan duduk di pangkuan Abi.
" Apa indra keenam Kaka menunjukan hal buruk yang akan menimpa Dewi?" Tang Dewi sambil memainkan jari tangannya.
" Iya Dewi, karena itulah Kaka sangat takut, Bunda dan Ayah akan sangat terluka bila hal itu terjadi terlebih melihatmu mengorbankan diri untuk menyelamatkan Kaka. ungkap Abi.
Sudah ka jangan dipikirkan Sebaiknya kita istirahat besok Dewi harus menemani Ayah ujarnya.
"Baiklah, ayo tidur bersama Kaka." sahut Abi
Hemmmm, Dewi segara berbaring di atas kasur Abi menutupi selimut hingga sebatas dada ia juga berbaring di samping sang Adik.
tanpa menunggu lama keduanya sudah tertidur mungkin karena terlalu lelah.
Di Rumah William mencoba membuka matanya namun tetap saja hanya kegelapan yang ia lihat.
"Apa yang terjadi padaku kenapa mataku tidak dapat melihat cahaya." batinnya.
Apa mataku buta, tidak mungkin ini pasti salah ujarnya sambil mengocek kedua matanya tetap saja yang dilihatnya hanya gelap.
William meraba dinding ia ingin berdiri tetapi ia kembali dibuat kesal kerana kakinya tidak bisa berfungsi lagi.
" Anak perempuan itu lihat saja aku akan membuatmu menjadi Abi aku akan membakar kamu hidup-hidup." seringai William sambil meringis menahan sakit di kakinya.