
Suara burung berkicau riang diatas dahan sebuah pohon dintara barisan pohon menuju gunung.
"Tuan sepertinya pertanda bahaya?" telepati Rubah.
"Bahaya batin apa coba kau periksa segera?" perintah Abi.
"Bagaimana dengan Anda Tuan?" tanya si Rubah masih bertelipati.
"Aku akan baik-baik saja Aku bisa menjaga diriku sendiri." tukas Abi melalui batinnya sambil memasukan bajunya kedalam tas.
Di sisi lain Stive bertanya pada Jene dimana Rara.
"Jane kau melihat Rara?" tanya Stive sambil menatap Jane inten.
"Rara aku tidak melihat Rara sama sekali setelah kegiatan berkompul tadi pagi?" sahut Jane.
"Apa dia tidak datang membentumu memasak sarapan untuk peserta?" Stive kembali bertanya
"Tidak sama sekali terahir aku bicara padanya saat membagunkannya tidur!" ungkap Jane.
"Apa dia mengatakan sesuatu saat itu?"
"tidak hanya menanyakan jam saja." sahut Jane melirik sekilas wajah Stive.
"Aku sudah mencari dan bertanya pada teman-teman kita mereka tak ada yang melihat Rara." ungkap Stive dengan wajah frustasi.
"kita cari sama-sama."' Sergah jane tak tega melihat rawut wajah frustasi Stive.
"serimakasih Jane kau memeng sehabat terbaik." kata Stive sambil mengacak kepala Jane.
"Ka Jane mau kemana tanya tenda kita sudah selesai dibereskan." lapor Abi sambil berjalan mendekat.
"Kaka dan ka Stive mau cari Ka Rara tidak terlihat sejak kita senam tadi." ungkap Jane.
"Ka Rara tadi pagi sempat bepapasan dengan Abi ketika Abi selesai mandi. Ka Rara menuju air terjaun katanya mau membersihkan diri." cerita Abi.
"Astaga jangan-jangan terjadi sesuatu pada Rara di air terjun itu." pekik Jene dengan wajah jelas terlihat khwatir.
"Maksudnya?" kata Abi dan Stive besamaan.
"Ayo kita kesana sekarang aku tak ingin apa yang sedang kupikirkan terjadi." tegas Jane mengajak keduanya.
Jane melangkah meninggalkan Abi dan Stive yang masih terlihat bingung tak mendapatkan penjalasan.
Abi dan Stive saling pendang tak lama mereka saling mengangguk lantas mengikuti Jane menuju Air terjut di gunung tersebut.
"Jane katakanlah apa kamu mengatahui sesuatu?" tanya Stive sambil mencekal lengan Jane.
Jane memandang sekilas mata Stive dan wajah yang terlihat khawatir membuatnya menghela napas detik berikutnya ia berucap.
"Rara sedang kedatangan tamu bulanan aku takut ia melanggar pantangan." jelas Jane dengan raut wajah cemas.
"Lalu jika ia melanggarnya apa yang akan terjadi? bukannya ia terpaksa karna karna cuma disana tempat untuk membersihkan diri jika darah kotornya menetes di air yang mengalir bukan salahnya." tandas sekaligus tanya Stive.
"Mbah kasiman hanya melarang membuang bekas pembalut kotorkan? jika dibersihan kemudian di buang aku rasa tidak masalah." kilah Stive
Jane menepuk jidatnya sambil menggeling. "gunakan otakmu dodol." tandasnya lalu melangkah kembali menuju air terjun.
Abi yang mendengarkan percakapan keduanya mengangguk mengerti.
dengan secepat kilat ia berlari mendahului Jane hingga membaut Jene binggung dan memanggilnya.
Sesampainya di Air terjun Abi melihat handuk baju serta sepatu milik Rara masih lengkap.
"Kaka bembinamu itu melakukan sebuah kesahan ia mencuci bekas bembalutnya disini hingga membuat penghuni tempat ini marah kerna tempatnya dikotori." jelas Rubah
"kemana mereka membawa Ka Rara?" Abi kembali bertanya sambil memindai sekeliling.
"Kedunia mereka Tuan aku bertanya pada burung disana katanya Kaka pembina Tuan akan dijadiakan pengantin Wanita untuk anak dari penghuni air terjun." Cerita Rubah.
"Tidak bisa aku harus menyelamatkan Ka Rara semantra kamu penggilah Mbah Kasiman ceritakan semua yang kamu ketahui padanya." perintah Abi.
"Aku sebenarnya tak ingin berususan dengan lalaki tua itu karna tak tau dia berada di pihak mana." geruntu Rubah pelan akan tetapi masih dapat didengar oleh telinga Abi.
"Lakukan sekarang" Herdik Abi dengan mata menatap tajam Rubah berekor sembilan dihadapannya.
"Baik Tuan." Sahut Rubah gugup lantas segara berlari turun gunung.
Abi menatap sekitar air terjut dengan seksama ia melangkahkan kakinya mendekati air terjun, berdiri pada salah satu batu berada disana Abi berjungkuk tangannya terulur menyentuh air dibawahnya sambil bergumam beri aku pentunjuk ra Rabb.
Sebuah kejadian beberapa saat lalu terlihat dengan jelas di mata Abi.
Abi segera membuka matanya manakala mendenger suara seseorang memanggilnya.
"Dek apa yang kamu lakukan disana berbahaya batu itu licin kamu bisa terjatuh." ucap Jane memperingatkan sambil melihat Abi yang berjungkuk diatas batu.
"kemarilah." perintah Stive sambil melambaikan tangannya.
Abi meliahat sebuah pohon besar diserada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tunggulah disana kak, Abi akan menjemput Ka Rara dan membawanya kembali. sebentar lagi Mbah Kasiman akan datang." ungkap Abi.
"Rara dimana dia mari kita menjemputnya bersama-sama." sahut Stive menatap sorot mata Abi dari tempatnya berdiri.
Abi tersenyum kecut sambil mengelingkan kepalanya.
"Terlalu barbahaya untuk kalian." kata sebari melangkahkan kakinya menuju sebuah pohon besar tempat dimana Rara menghilang.
Sesamapai di depan pohon besar itu Abi segera mengetok dan berkata ."keluarlah kembalikan temanku." perintahnya.
"jika tidak mau aku akan membakar rumahmu ini." tukas Abi lantang.
"Dengan siapa anak itu berbicara apa dia kerasukan." ucap Stive yang meliahat mulut Abi bergerak dan dipastikan ia sedang berbicara.
Jane yang sejak tadi diam tiba-tiba menyerigai kepala miring kekiri ia mendorong Stive sambil terkikik.
Stive yang berdiri di tepi air terjun terjatuh ia tak sempat menghindar. Mbah Kasiman segera berlari menyelamatkan Stive yang hampir terbarbawa Arus deras air terjun.
"Nak Stive kamu baik-baik saja nak?" tanya Mbah Kasiman setelah membantu Sitve duduk di salah satu batu berada disana.
Stive mengatur napasnya sambil mentap Jane yang berdiri di atas tebing bersiap melompat tangan Stive menunjuk ke Arah Jane.
Pandangan Abi dan Mbah kasiman tertuju pada Jane.
"Wanita tua itu apa dia Penghuni air terjun ini." gumam Abi.
"Nak Abi Ambilah selamatkan temanmu. Biar Aku yang mengurus Wanita itu." Ucap Mbah Kasiman melempar sebuah bambu kuning runcing pada Abi yang bejalan mendekati Stive.
"Ayo Tuan kita akan pergi bersama tancapkan bambu itu pada sisi kiri pohon besar itu waktu kita tak banyak sebelum kaka pembina Tuan dijadikan pengantin kita masih bisa menyelamatkannya, jika ritual pernikan selesai kita tak akan dapat membawanya kembali." Ungkap Rubah menceritakan apa yang disampaikan Mbah Kasiman padanya.
Tak ingin waktu terbuang Abi melangkahkan kakinya kembali menuju pohon besar tempat sebelumnya ia berdiri.
sesampainya disana ia menancapkan segera bambu Runcing tepat di sisi kiri pohon. sedangkan Mbah Kasiman terlihat merapalkan sebuah manta hingga membuat pohon besar itu berunbah menjadi pohon apel berbuah lebat dan jelan setapak disisi kirinya.