
Setelah berpamitan dengan Ratih. Risa dan Yusuf segera pergi dari rumah sakit untuk menjeput Abi ke sekolah.
"ada apa mas, kenapa wajahmu terlihat sangat khawatir?" tanya Risa sembil melirik sang suami menyetir mobil.
"Entahlah, aku selalu kepikiran Abi sejak tadi untung saja aku masih bisa menyelesaikan oprasi untuk Umi." sahut Yusuf.
"Abi !! abi bercerita sesuatu sebelumnya padamu mas hingga menbuatmu begitu cemas?" tanya Risa.
"tidak Abi hanya Bilang hari ini ulangan terahirnya dan meminta maaf tak bisa menemeni di rumah sakit menjaga Umi." ujar Yusuf.
drettttt....dret..... ponsel milik Yusuf segara melihat dan membaca nama penelpon "Bara" batinnya.
"Assalmuaikum Bara." Sapa Yusuf menyapa melalui sambungan ponsel mahalnya.
"Walaikum salam Yusuf,
aku sudah menemukan pelakunya di batam. Ia melarikan diri untungnya anggota kepolosian di sana cepat bergerak setalah mendapat laporan." sahut Bara cepat
"apa kau sudah bertanya siapa orang yang menyuruhnya?" tanya Yusuf sambil menghentikan mobilnya di pinggir jalan
"pelaku bilang disuruh mengantar makanan setiap hari jam sembilan pagi untuk Umi Salamah, dengan bayaran mahal melalui pesanh dan menerima kiriman uang yangY tidak sedikit. hanya itu saja dia tak berani berkata banyak " cerita Bara.
"nanti aku akan menemuinya saat ini aku sedang menjemput Abi. terimakasih kau sudah membatuku Bara berapa yang kamu minta untuk jasamu ini?" tanya Yusuf.
"tidak perlu Yusuf, Umi udah ku anggap seperti ibuku sendiri, sudah ku katakan tak perlu sungkan meminta bantuanku aku ini sahabatmu terbaikmu." sahut Bara dari sebrang telpon sambil tersenyum.
"Baiklah sekali lagi terimaksih Bara.
Maaf jika aku membuatmu repot, jika suatu saat kau perlu bantuanku jangan pernah sungkan memintanya." ucap Yusuf.
"Ya...ya... aku akan ingat itu !! Lanjutkan saja perjalananmu, aku hanya memberikanmu kabar agar kamu sedikit tenang." Sahut Bara
setelah mengucap Salam Yusuf memutuskan sambungan ponselnya kembali menatap jalan menyalakan mesin mobil dan kembali melanjutkan perjalanan menunju sekolah Abi.
Risa melirik sekilas suaminya, ia sebenernya penasaran tapi tak berani memulai obrolan karna sejak tadi melihat wajah cemas Yusuf.
Yusuf menarik napasnya perlahan dan membuangnya kasar, sebelum memulai obrolan. "Bara mengatakan jika pelaku yang mengantar bubur setiap hari untuk Umi sudah ada di kantor polisi berasamanya." jelas Yusuf sambil menyetir.
"Bara mas meminta batuan Bara sebelumnya?" tanya Risa.
"ia kepalaku begitu sakit saat itu, mengetahui pertumbuhan kanker rahim begitu cepat, aku tak mongkin meninggalkan dan memperyakan pada dokter lain sedang aku sediri adalah dokter penyakit dalam yang menangani panyakit tersebut. Apa lagi setelah tau jika itu adalah akibat kelalaianku menjaga Umi. Entah mengapa tanganku dengan cepat menghubungi Bara menceritakan masalahku dan meminta bantuanya untungnya Bara tidak menolak hingga aku bisa bernefas lega." cerita Yusuf.
"apa mas berniat ke Kantor polisi?" tanya Risa.
"iya mongkin, setelah menjemput Abi dan mengantar kalian kerumah dengan selamat aku akan menemui Bara di kantor kepolisian." ucap Yusuf Ragu.
"kenapa Mas? kenapa Ragu tanya Risa aku dan Abi akan baik-baik saja tenaglah." tukas Risa yang melihat ke cemasan di wajah sang suami.
"entalah, seminggu yang lalu saat aku tanpa segaja membuka foto galeri di ponselku aku melihat fotoku bersama Abi saat di Kairo, tiba-tiba saja sekelabat bayangan hitam muncul di belang foto Abi entah dari mana datangnya itu hanya sekejap mata setelahnya menghilang." jelas Yusuf sambil menghentikan laju mobilnya di lampu merah.
"apa mas pernah mengelami hal yang sama sebelumnya?." tanya Risa.
"iya dulu aku melihat Fotoku bersama sama Ayah saat itu usiaku baru 7 tahun aku melihat bayangan hitam di belakang foto ayah, hanya sepersekian detik lalu menghilang tak lama Ayah mengelami kecelakan hingga membuat nyawanya tak bisa terselamatkan." Cerita Yusuf.
Yusuf lantas mengenggam tangan Risa berharap bisa sedikit memberi ketenangan. "tenaglah kita hadapi bersam-sama." tukas Yusuf sambil menjalankam kembali mobilnya menuju sekolah Abi.
Di tempat lain Defvan yang sedang melakuakan rapat bersama rekan bisnisnya tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Mars.
Defvan mengeryitkan dahinya melihat Mars masuk begitu saja tanpa kengetuk pintu.
" Tuan Defvan Abi dalam bahaya cepat kau selamatkan anakmu." pekik Mars.
"apa maksudmu Mars, jaga sikapnu aku sedang Rapat disini" sahut Defvan Sambil menatap tajam Mars.
"saya tidak akan menganggu anda jika ini bukanlah hal penting, sebaiknya anda selamatkan calon perawaris anda sebelum terlambat." tukas Mars serius.
"apa maksudmu Mars bicara dengan benar?" tanya Defvan.
"seseorang baru saja mengirimkan pesan peringatan pada anda cobalah buka ponsel anda.7" perintah Mars
Defvan membuka segera pesan di ponselnya benar saja ada nomor yang tidak ia kenal mengirim sebuah pesan siangkat.
nyawa putra Anda dalam Bahaya cepat jemput ia dari sekolahnya dan pastiakan ia aman bersamamu tulis pesan tersebut.
tuan-tuan rapat akan dilanjutkan oleh orang keperyaan saya Mars. saya harus pergi dulu." ucap Defvan segera berlalu pergi dari ruang Rapat wajahnya mendadak cemas.
"Siapa yang berani mencelakai putraku." guamam Defvan sambil memasuki Lip khusus.
sesampainya di lantai dasar ia berjalan cepat menuju parkiran mobilnya dan memasukinya dengam kecepatan tinggi Yusuf segera membawa mobilnya menuju sekolah Abi.
dalam waktu 10 Menit yusuf sdah sampai Ke sekolah Abi ia segera memarkirkan mobil kesayangannya di area yang sudah dosediakan oleh pihak sekolah.
Defvan keluar dari mobilnya mencari sosok anak kecil yang ia rindukan keberadaanya.
"andai aku tau kelas Abi dan tempat duduknya aku akan mengendongnya samapai ke mobil." batin Defvan. matanya masih saja bergerak kesana sini mencari keberadaan Abi.
Akhirnya setelah beberapa menit Defvan menunggu sambil berdiri samping mobilnya yang terparkir di area parkir guru ia meliahat Abi berjalan keluar dari kelasnya.
Abi panggil Risa yang tak berdiri tak jauh dari kelas sang putra.
"Bunda." teriak Abi sambil berjalan cepat menghampiri ibundanya.
"Abi kamu baik-baik saja?" tanya Risa dengan raut wajah Kwhatir pada anaknya.
Abi mengerutkan keningnya sebelum menjawab pertayaan ibunya.
"Ayo bunda, tidak ada yang perlu dikhawirkan Abi baik-baik saja." Sahut Abi sambil memperlihatkan gigi kecilnyam
lantas keduanya berjalan menuju mobil putih milik Yusuf. masih dengan tersenyum Abi mengikuti langkah Ibundanya.
sesampainya di samping Mobil Yusuf segera keluar membukakan pintu mobil untuk Abi dan istrinya belum sampai Abi masuk tiba sak seseorang berbaju seperti pengemis membawa sebuah belati ditangannya ia berusaha menikam Abi mengunakan belati di tangannya Yusuf tiba-biba saja menarik Abi kesampngnya hingga belati itu mengenai kaca mobil. Defvan yang melihat itu dari tempatnya berdiri segera melepaskan peluru ke Arah orang yang ingin mencelakai Abi akan tetapi hal tak terduga terjadi.
Dor.....!!
bukan mengenai Pengemis peluru itu mengenai tangan kiri yusuf yang sedang menarik Abi sedang pengemis itu berlari menjauh.