
Zahra dan Dewi di roqyah oleh seorang Ustazah Yang biasa di panggil Ustazad Halimah. Keduanya dibawa masuk oleh Ustazah ke sebuah kamar yang sudah di siapkan Kyai Ahmad d sebelumnya.
Dengan di bantu dua orang santriwati proses Roqiyah di mulai. Ayat demi ayat Roqyah dibaca merdu oleh Ustadz halimah dan dua santrinya.
Dewi meresa mengantuk dan dari mulut kecilnya terucap. "Berhentilah membaca Aku ingin tidur kalian berisik sekali."
Ustadzah Halimah memberi isyarat pada santriwati yang membantunya agar memeganggi Dewi bacaan tetap di baca.
"Apa kalian tidak dengar aku mengantuk." tegas Dewi mulai muak
Tidak ada yang menghiraukannya mendapati hal ini Dewi berontak, ia ingin sekali pergi kekamar dan istirahat disana namun usahanya gagal kerena dua orang santri memeganggi tubuh kecilnya.
Semetra di sisi lain. Zahra mulai merasa kepala berat dan pusing perutnya terasa seperti di aduk-aduk kasar hingga tanpa menunggu waktu lama ia montah.
Belum selesai sampai disitu kedua kaki Zahra terasa sakit begitu pula tangannya.
" Zahra keluarkan Dia dari tubuhmu jangan biarkan dia merusak imanmu." tegas Ustadzah Halimah.
Dewi ingin mengunakan kekuatannya merapalkan sebuah Mantra, namun mulutnya tidak mampu mengucap sepatah kata pun mantra itu. tentu saja itu mengundang penuh tanya dalam benaknya.
" Jangan biarkan orang lain menguasai dirimu Nak." ujar Ustadzah Halimah lembut sambil memukul punggung belakang Dewi membuat sang pemilik tubuh terkejut dan memontahkan pasir bercampur batu.
Wajah Dewi pucat setelah memuntahkan pasir itu dan air berwna hitam ada pula batu-batu kecil dalam muntahnya itu.
Tak jauh berbeda Zahra juga montah. air yang ia muntahan berwarna kuning kental barbau busuk.
Ustadzah Halimah menatap Iba pada Dewi.
"Jangan takut nak, Kekuatan Allah jauh lebih kuat, Ayo dorong lebih banyak lagi benda-benda asing yang tidak seharusnya ada dalam tubuhmu." ujar Ustazah Halimah.
Dewi ingin sekali membaca mantra dan menghilang dari tempatnya, Lagi-lagi ia tidak mampu bahkan matranya saja dia lupa saat ini.
" Ini benar-benar gila. Aku menyesal ikut Roqyah ini, badanku rasanya sakit semua." umpet Dewi.
Ustadzah Halimah yang melihat tatapan Mata Dewi yang terlihat marah kecewa dan kesal bercampur jati satu memberinya senyuman, sembari meninggikan suaranya membaca ayat-ayat Roqyah tepat di telinga Dewi. hal itu menyebabkan Dewi panas dingin dadanya terasa penuh seperti ada dorongan kuat dari dalam perutnya sekali lagi Ustazah Halimah memukul punggung Dewi dengan mengucap nama Allah hingga terdengar suara teriakan Dewi yang merasa sangat kesakitan.
Detik berikutnya ia memuntahkan dua batu Mustika. Yang pertama batu berwarna Ping(batu Dewi Bunga) dan yang kedua batu Berwarna Kuning emas (batu teratai Emas)
"alhamdulillah." seru Ustadzah Halimah di ikuti dua santriwati yang membatu nya.
Dewi jatuh pingsan sedang Zahra terduduk lemas bersandar di dinding kamar.
Ustazah Memberikan Dua mustika milik Dewi pada Kyai Ahmad sementara Dewi dan Zahra di biarkan beristirahat.
Di Waktu yang sama Mars dan juga Abi di Roqiyah langsung oleh Kyai Ahmad dan dua santri pondoknya.
Tidak butuh waktu lama Mars dan Abi sudah mereda pusing dan lemas seluruh organ tubuhnya tidak mampu bergerak.
Wussssssssss bayangkan hitam keluar dari badan Abi.
Sedang dari badan Mars keluar Naga Baiyura.
Kyai berbicara dangan naga Milik Mars, naga berhasil di islamkan oleh Kyai. sementara kedua Satrinya yang membantunya tetap melanjutkan bacaan Ayat Roqyah.
Bayangan yang keluar dari badan Abi teryanta mata-mata yang di kirim Putri Arum dan mencari tau Kelemahan Abi.
Begitu selesai di ruqiyah badan Abi Mars sama-sama terasa lemas kukudanya di persilahkan oleh Kyai untuk istirahat.
Kurang Dari setengah Jam Ustadzah Halimah masuk kedalam Kamar Dewi dan Zahra. ia membawa jus daun kelor dan air putih masing-masing satu gelas, tidak lupa bubur Asyura yang sudah di bacakan doa oleh Kyai berikan untuk keduanya.
Dewi yang melihat kedatangan Ustazah Halimah membondongnya dengan pertanyaan.
"Ustadzah di mana dua mustikaku?".
"Dewi...." tegur Zahra.
"Pasti Ustadzah mengambil mustika milikku Ka Zahra ia pasti tau mustika itu Sakti." tuduh asal Dewi dangan ekspresi kesal.
"Silahkan diminum dan di makan dulu buburnya Jika kamu ingin saya menjawab pertanyaan kamu." tegas Ustazah Halimah.
"Apa yang kamu masukkan di makanan itu. "selidik Dewi menunjuk bubur di atas Nakas.
"Itu hanya bubur Asyura biasa yang istimewanya adalah bubur itu hanya dibuat satu tahun sekali disini, tahun ini kamu berkesempatan memakannya maka makanlah tidak perlu banyak tanya bubur itu di makan oleh semua santri dan guru disini." ungkap Ustazah Halimah.
Zahra mengambil mangkuk bubur miliknya lalu memakannya lahap tanpa takut.
Benar bubur ini tidak memiliki efek apapun bila aku makan batin Dewi terlihat ragu memakan Bubur miliknya.
" Kau ingin aku menjewab pertanyaanmu Dewi, tentang mustika milikmu. makanlah dan minuman sampai habis aku akan menjelaskan di mana aku menyimpan mustika itu." bujuk Ustazah Halimah.
"sial wanita ini memaksaku dengan caranya lihat saja nanti aku beri kamu pelajaran begitu mustikaku kembali." batin senyum Dewi penuh Arti menatap wajah Ustazah Halimah.
Dengan pelan Dewi memakan bubur hingga habis, begitu pula minuman jus daun kelor yang terasa sangat tidak enak di indra perasanya namun tetap ia minun. karena mata Ustadzah Halimah tidak berhenti mengawasinya sejak suapan pertama bubur kedalam mulutnya.
"Sudah habis." ujar Dewi "katakan dimana mistika itu"
"Aku berikan pada Kyai Ahamad." Kata Ustazah Halimah membuat Mata Dewi membolat sempurna.
Dewi ingin skali menyerang Ustazah Halimah untuk memberikannya sedikit pelajaran. Tapi ia justru mendapati kenyataan beberapa memori ingatannya tentang Beberapa Mantra hilang.
" Kau menghilangkan kekuatanku." Hedik Dewi dangan nada lantang.
"Tanah Nak Dewi, saya sama sekali tidak bisa menghilangkan kekuatan seseorang, dan tidak memiliki kemampuan untuk itu. begitu pula mustika yang keluar dari dalam tubuhmu, bukan kehendak saya nak tolong mengertilah." pinta Ustazah Halimah.
"Kau_" terpotong oleh ucapan Ustazah Halimah.
"Aku manusia biasa nak, aku tidak mengerti dengan ilmu sihir dan kekuatan yang kamu miliki aku tidak tau, Aku hanya diberi tugas Kyai Untuk meRoqiyah kalian." jelasnya.
Sudah Dewi kamu temui saja Kyai Ahmad minta penjelasan Dengannya." ujar Zahara.
Dewi segera berjalan melewati Ustazah Halimah yang misih setia berdiri. Tanpa mengucap salam Dewi mencari Kyai Ahmad dirumah tersebut.
Sesampainya di teras Rumah Dewi melihat Kyai sedang duduk di kursi anyaman Rotan sambil menikmati secangkir Kopi matanya lurus kedapan tangannya tidak berhenti mengurutkan tasbih.
Dudulah Nak Dewi ujarnya tanpa melihat Dewi.
"Bagaimana Dia tau aku disini matanya saja tidak melihat kesini." batin Dewi sambil berjalan menghampiri Kyai.
.