Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kemarahan Baiyura


langit berselimut awan mendung, selesai berbicara dengan Raden Mas Abi dan Dewi teratai sedang berada diatas kasur, keduanya berjaga takut jika William tidak berhasil melukai Mars akan menargetkan yang lain.


"Ka, bagaimana jika kita ketempat Om Mars." ajak Dewi teratai.


"Siapa yang akan menjaga disini bila kita pergi?" sahut Abi tak habis pikir dengan jalan pikiran sang Adik


"Tenang Kak hanya sebentar saja." Regek Dewi teratai dengan raut wajah penuh harap.


"Tidak bisa Kakak tidak mau menanggung resiko." jawab Abi tegas.


"Kak Abi enggak Asyik, hanya sebentar siapa tau om Mars butuh bantuan." ujar Dewi teratai masih memelas.


"Kau saja pergi sendiri aku harus menjaga Bunda dan Ayah." kesal Abi datar.


"Oke baiklah aku akan pergi sendri, Kakak liat saja akan aku buat Kakek menyesali perbuatannya malam ini." Tukas Dewi teratai sambil membuka portal gaib ke Rumah Ustadz Akbar.


"Dewi tunggu." teriak Abi sayangnya sudah terlambat, Dewi teratai sudah masuk kedalam portal gaib detik berikutnya portalnya menghilang di pandangan mata Abi.


"Dewi, ahhhh bagaimana bisa aku mengijinkannya, kenapa dengan mulutku ini, anak itu sangat pandai merengek." gumam Abi ia segera mengambil ponsel dan menelpon Zahra.


selesai memberitahu Zahra Abi menarik napasnya perlahan dan menghambuskannya kasar.


"untung saja Zahra tidak keberatan membantu mengawasi Dewi di sana." monalog Abi.


Di tempat berbeda.


Dalam sebuah kamar, William sudah membakar dupa, ia duduk bersila terlihat tiga boneka sudah siap didepannya ada pula paku, palu, tali, serta kawat dan jarum berbeda ukuran.


"Tamatlah riwatmu Mars." gumam William nenyerigai. Sambil mengambil satu boneka di hadapannya.


Di Rumah Ustadz Akbar.


Zahra segera membuka selimutnya dinginnya malam tidak membuat Seorang Zahra takut untuk keluar dari rumah mencari Dewi teratai.


Zahra mengambil hijab syar'i lengkap dengan cadar nya, tidak lupa ia mengambil tasbih peninggalan Kakeknya untuk di bawa keluar rumah.


Dengan langkah pelan Zahra keluar dari kamar, ia menutup pintu dengan pelan takut Ayahhya terbangun dan menghalanginya keluar rumah.


dalam hatinya Zahra meminta maaf pada Sang Ayah.


Zahra tidak berniat keluar tanpa ijin Abuya, Zahra takut menganggu waktu istirahat Abuya, Zahra akan kembali setelah menemukan Dewi. ujarnya membatin.


begitu sampai di depan pintu Zahra membuka perlahan dengan mengucap bismillah, Zahra melangkahkan kakinya keluar kemudian menutup pintu pelan.


Zahra melihat kiri kanan tidak juga terlihat Dewi teratai ada disekitar rumahnya.


"Jika dia mengunakan portal gaib seharusnya dia sudah ada disini." fikir Zahra masih menindai sekeliling.


"Hehehehehehe,...." suara tawa mengikik terdengar jelas ditelinga Sahra.


Sepasang kaki menjutai di atas pohon mangga depan rumah Zahra.


bulu kuduk Zahra berdiri ada rasa takut menyeruak dalam dirinya, ia mundur perlahan kembali kedepan pintu...


"Hehehehehehehehehe...." sekali lagi suara terdengar mengikik seakan menertawakan ketakutan Zahra.


Tangan Zahra sebelah memengang gangang pintu. sedang matanya melihat sekali lagi kiri, kanan, tidak lupa keatas pohon matanya jelas melihat kaki menjutai dengan rambut kusut wajahnya tidak terlihat jelas tertutup rambut. Melihat itu Zahra terkejut ia segera memejamkan matanya membaca ayat pelindung.


Saat Zahra sedang membaca ayat kursi dan beberapa ayat suci untuk memusnahkan kunti yang duduk berjuntai dipohon Mangga terdengar suara orang memekik keras.


"Astagfirullah aku belum selesai membaca Doa kenapa kunti itu berteriak." batin Zahra. Ia terpaksa mengulang kembali bacaannya mendadak terhenti oleh suara itu.


"Ka Zahra jangan mengusirku, bacaanmu tidak mempan untukku." ujar suara seorang perempuan di samping Zahra.


Zahra tetap berkonsentrasi membaca ayat suci ia ingin mengusir Kunti di pohon mangga.


"Ka Zahra tidak ada waktu lagi, ayo selamatkan Om Mars." pekik suara cempreng Dewi teratai.


Zahra tetap meneruskan bacaannya.


Zahra membuka matanya perlahan melihat Ke arah Dewi teratai yang memakai baju serba putih dan rambut yang sengaja di biarkan terurai dan berantakan. tertunduk menyesali perbuatannya.


Anak ini niat sekali mengerjai aku. Batin Zahra.


Dewi teratai dengan cepat mengganti bajunya, hanya dalam hitungan detik kini ia menjadi anak berumur lima tahun dengan wajah yang terlihat imut memakai baju berwarna silver.


Zahra yang melihat itu hanya bisa menarik napasnya sambil menatap takjub.


"Ahkkkkkkkkkk...." terdengar kembali suara jeritan dari dalam rumah Zahra.


" Om Mars." seru Zahra hampir bersamaan dengan Dewi.


Kedua segera menuju kamar Mars.


Ustadz Akbar sedang memejamkan sama sembari memegang pundak kanan Mars.


Zahra bersama Dewi masuk sembari mengucap salam.


Naga yang menjaga Mars keluar dari kerisnya menembus dinding terbang Mencari William.


William yang sedang berfokus menusuk bagian kepala boneka dengan jarum tidak menyadari kedatangan tamu.


"Hentikan perbuatanmu." perintah Ustadz Akbar yang ternyata sampai lebih dulu.


"Hehehehehe ada tamu rupanya selamat datang Tuan." sapa William masih tidak melepaskan boneka yang berada ditangannya.


"William sekali lagi aku minta hentikan perbuatanmu!!" seru Ustadz Akbar.


"Nikamti saja Ustadz anak itu memang pantas mendapatkannya." Balas William dengan nada datar sambil menusuk satu jarum lagi kekepala bonaka.


Naga yang sejak tadi diam menahan amarahnya segera menyemburkan Api amarahnya melalui mulutnya mengenai tangan baju hitam William namun hanya membakar sedikit lengan bajunya.


" Kurang Ajar Naga sialan berani sekali kamu menyerang Aku." dengan nada emosi membentak.


Setelah membentak William tiba-tiba tersenyum penuh arti. Ia memutar tangan boneka dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Kamu tidak bisa diajak biacra baik-baik ternyata." tegas Ustadz Akbar sambil mengangkat kedua tangannya berdoa meminta pertolongan yang maha kuasa.


Naga putih mengibakan ekornya ke arah William tetapi berhasil dihindari William degan cara melompat.


"Sekarang giliranku naga." ucap William ia melempar boneka yang berada ditangannya ke tungku pembakaran tentu saja itu membuat naga sangat marah.


Naga mengamuk menyerang membabi buta hal itu tentu membuat William kewalahan. Sementara ustadz Akbar menyelelamatan boneka yang dilempar William kedalam tungku.


Dengan pertolongan Dewi teratai ustadz Akbar berhasil menyelamatkan boneka itu tanpa terbakar.


"Kali ini Kakek harus mendapatkan hukuman yang setimpal." maki Dewi teratai tersenyum miring.


Dewi teratai mengangkat tangannya membaca do'a selanjutnya dari kedua tangannya mencul cahaya menyilaukan ia mengerahkan cahaya itu tepat kemata William. "nikmatilah hari gelapmu tuan William yang sombong." teriak Dewi teratai.


William yang fokus melawan Naga tidak dapat menghiadar cahaya silau yang mengarah kewajahnya. Ia berteriak marah cahaya silau itu membuatnya tidak dapat melihat siapa yang menyerangnya.


Naga tidak menyia-nyiakan kesempatan didepan mata, ia menyemburkan api pada kedua kaki William.


"Baiyura kembalilah biar ini jadi urusanku." kata Abi entah kapan ia sudah berada di delakang Dewi da Ustadz Akbar.


Baiyura mengangguk patuh segera kembali menemui Mars.


"Dewi sudah hentikan ayo kembali." ajak Abi.


"Kaka aku belum selesai biarkan aku melakukannya sampai akhir." sahut Dewi.


"Kamu sudah membuat Mata Kakek terluka besar kemungkinan dia tidak bisa melihat. Untuk kakinyapun sudah terluka cukup parah. Biarkan Kakek menikmatinya. Jangan menuruti nafsu Dewi kendalikan dirimu." ujar Abi.


"Benar kata Abi, sebaiknya kita kembali melihat keadaan Mars semoga ia tidak terluka parah." Ajak Ustadz Akbar.