
Setelah dirasa Aman. tepat jam dua pagi Willem keluar dengan membawa koper jadul penuh emas dan permata ia mencari tak tau pic up yang bisa membawanya pergi kekota lain. Karena merasa tak mongkin naik Bus dan kedaraan umum lain.
Willem melihat pic up, membawa hasil karya tas terbuat dari rotan, serta beberapa snack sehat olahan kotanya yang akan dikirim keberapa kota besar. saat sang supir asyik mengobrol bersama seseorang untuk menanyakan kekota mana saja ia harus menagantar barang.
Willem mengendap-endap masuk kedalam pic up. ia berdesakan dengan kerdus-kerdus besar yang berisi barang Willem bersamdar pada sebuah kotak besar dihimpit oleh empat kotak yang lain.
Dirasa semua barang sdah masuk sang pemilik pic up menutup menggunakan terpal besar agar tidak basah jika terkena hujan. begitu selesai ia segera mengendarai mobilnya sambil mendengarkan musik.
Di tempat lain Hasan dan Ahmad diberi kabar oleh petugas Willem berhasil melarikan diri dengan cara memberi racun yang sudah disiapkannya sebelumnya ujar seorang petugas menjelasan untuk Ahmad via telpon.
"Hasan, Marcello tak memiliki sanak saudara lagi yang bisa membatunya untuk itu sebagai sahabatnya harus membatunya. jika Willem sebagai pelaku tidak ditemukan kita harus berada di samping Marcello memperjuangkan haknya untuk bebas." ungkap Ahmad.
"Aku setuju denganmu Bagaimana jika kita menjeguk Marcello." Ajak Ahmad sambil menatap layar ponselnya.
"Ya sabaiknya begitu, dia tak pantas mendapatkan hukuman atas kesalahan orang lain." jawab Hasan tenang
keduanya lantas kekentor polisi sesampainya disana Ahmad dan Hasan bergantian menemui Willem.
Semantara Ahmad sedang berbicara pada Marcello Hasan membicara pada seorang petugas bernama Budi.
"pak bagaimana hasil outopsi kedua korban?" tanya Hasan.
"Dugaan Willem memang benar korban tidak memiliki riwayat penyakit serius. tetapi satu bulan sebelum kejadian perkara menunjukan adanya pemicu semacam cairan yang menyebabkan korban mudah merasa lelah. Keterangan itu saya dapat dari dokter pribadi keluarga beliu." ujar Pa Budi menjelaskan pada Marcello dan Hasan.
"Dua temanmu sudah membawa dua saksi mata yang melihat dengan jelas kejadian perkara saat itu. jadi saya minta kamu berkata jujur tidak perlu takut. Apa sebelumnya kamu diancam?" tanya Pa Budi.
Marcello mengangguk membenarkan.
"Apa Kakakmu orang yang mengancammu?" Pa Budi kembali bertanya.
Lagi-lagi Marcello hanya mengangguk tanpa mau membuka suara.
"Apa benar semua berawal dari Tuan Wiraja memberikan sebuah buku peninggalan leluhurmu. Willem mulai iri hati padamu dan memberikan cairan obat pada kedua orang tuamu?" Ujar Pa Budi bertanya sambil menatap Marcello yang duduk dihadapannya.
"Saya tidak tau pasti." sahut Marcello tertunduk.
"Willem berhasil melarikan diri saat petugas sudah menangkapnya." Ungkap Pa Budi serius.
"Kamu akan saya bebaskan karna terbukti tidak bersalah kami sudah melakukan menyelidikan atas kasus ini. Selain itu kamu mendapat 4 orang yang menjaminmu dua orang saksi mata serta dua orang lain sahabat baikmu." Tukas Pa Budi.
"terimakasih pa bagaimna dengan Kakak saya apa saya harus menunggunya sampai tertangkap baru saya bebas?" tanya Marcello.
"Tidak perlu menunggunya tertangkap. karna kamu sudah terbukti tidak bersalah kamu bebas hari ini juga." Ujar Pa Budi.
"jujur saya masih terpukul dengan kejadian yang menimpa keluarga saya, apalagi harus kembali kerumah saya pak, kenangan bersama mereka akan menghantui saya. disamping itu saya juga tak sanggup melihat kembali tempat dimana kedua orang tua saya menghembuskan napas terahir dengan cara yang tak tak wajar." curhat Marcello.
Pa budi terlihat herpikir lalu bertanya.
"Apa maksudmu kau tak ingin pulang kerumah untuk saat ini?"
"Ya pak, saya takut sekali semua itu menghantui saya. belum lagi mulut tetangga dan padangan sinisnya." Ucap Marcello.
"isyaAllah saya mau pak." Sahut Marcello bersyukur.
"Alhamdullah bila kemu bersedia nanti ikut saya pulang." jawab pa Budi.
"Siap komandan." Sahut Marcello memberi hormat.
Bertahun-tahun berlalu kini Marcello dan anak perempuan pak Budi sudah menikah dan hidup terpisah dari kedua orang tuanya.
Hari-hari berlalu cepat Marcello menjadi seorang ilmuan terkenal ia banyak ia banyak membantu orang lain dengan hasil kerjanya dengan bermacam-macam obat herbal tanpa efek samping membuat hanyak orang iri padanya termasuk Willem.
Willem yang semula tenggelam bak ditelan bumi muncul kembali menggangu Willem ia berkali kali ingin menjatuhkam Marcello dari pangkatnya sabagai salah satu orang ilmuan hebat dunia.
marcello terus bangkit meski berkali-kali tumbang. ia juga tau jika salah seorang diantara musuhnya adalah Adiknya sendiri.
Karena terus gagal membuat Willem tak bisa mengontrol dirinya iblis telah merasuk dalam dirinya. ia datang pada seorang dukun Wanita yang hidup sebatang kara di pinggiran kota. dengan tekad kuat Willem mengutarakan maksudnya. Dukun wanita itu menyanggupi asal Willem berani membayarnya mahal.
Dukun Wanita yang terlihat tua itu berjanji akan menghabisi Marcello setelah meminta nama lengkap serta foto Marcello.Willem membayar seperempat dari harga yang dijanjikan jika semua beres ia akan melunasinya.
"Kau tunggu saja kabar baiknya. aku akan menyerangnya malam ini juga." ujar Dukun tua itu mantap.
"Terimasih nek tapi jika kau gagal aku akan melenyapkanmu." sahut Willem mengancam.
Tibalah waktu malam. Sang dukun sudah menghubungi seseorang untuk membatunya melenyapkan Marcello dan juga seorang lagi mengawasi Pergerakan Willem nenek itu rupanya takut Willem tak menepati janjinya.
Marcello yang saat itu baru saja pulang dari prancis dijemput oleh supir serta anak istrinya dalam perjalanan menuju rumah.
Ditengah perjalanan Marcello mendapat firasat aneh matanya terpejem meminta penjuk hingga sebuah kejadian mengerikan terlihat jelas oleh indra keenamnya.
Sebulum sampai ketempat yang sudah ia lihat Marcello meminta sang supir berhenti untuk membeli air minum serta beberapa roti atau snack untuk menganjal perutnya yang lapar. Marcello meminta Yusuf serta istrinya turun dan memilihkan roti untuknya sedang ia akan menunggu dimobil.
"Ayah Yusuf mau Ayah juga ikut." ucap Yusuf kala itu.
"Ayo Nak pergilah segera bersama ibu Ayah lapar sekali." sahut Marcello berbohong.
Ada apa Mas ujar Umi Salamah bertanya ia melihat raut wajah suaminya terlihat khawatir.
"Pergilah." Usir Marcello dengan nada membentak.
Yusuf bersikeras ingin ayahnya ikut tetapi Marcello tak mau menderngarkan.
Umi segera menggendong Yusuf dan membawanya pergi meski dalam hati bertanya-tanya. "mongkin efek lapar." fikir Umi kala itu.
Umi dan Yusuf berjalan menuju mini market yang berada diseberang jalan Yusuf masih saja menanggis dalam gendongan Ibunya.
"Eko saya titip anak dan istri saya bawa mereka pergi jauh dari kota ini." ujar Marcello menahan sesak didadanya.
"Apa maksud bapak?" tanya Pa Eko sang supir.
"keluarlah Eko susul istri saya tenangkan anak saya. saya harus mengurus sesuatu biar saya menyetir sendiri." kata Marcello memerintah tanpa mau dibantah.