
Dewi teratai menatap mata ular kobra di sampingnya begitu pula sebaliknya.
Dewi melihat Leni membaca surat yang berisi perintah agar anggota Sakte mau mendoakan kesehatan Marcella beserta suaminya. tak lupa sebagai ucapan terimakasih dan permintaan maaf tidak bisa berkumpul para anggota Sakte diperbolehkan memakan cap cake yang dikirim ketempat tersebut.
Leni dan anggota yang lain segera berdoa untuk Marcella dan William, selanjutnya mereka memakan cap ceke dengan suka cita.
Dalam keadaan masih sadar Mata Leni tiba-tiba mengkap keberadaan ular di tempat itu, ia segera meminta bantuan beberapa anggota untuk membunuh ular itu. Ia mendapat bisikan jika ular itu Mata-mata.
"Ayo bunuh ular itu, Tuan kita akan marah jika ular itu berhasil kabur, Dia mata-mata yang dikirim musuh." sentak Leni memerintahkan.
Ular itu terus saja lari menghindar, para anggota mulai merasa pusing tidak dengan Leni dan Desy keduanya masih dalam setangah sadar tak mau mengambil risiko Ular itu menggigit kaki Leni, tentu saja hal itu membuat Desy marah ia menggabil tasnya melempar kearah ular tetapi tidak berhasil mengenai tubuh sang ular, dengan gesit mencari kesempatan untuk menggigit Dasy.
"Tolong telpon ambulans Desy aku tidak kuat menahannya wisa Ular ini." Minta Leni
"Ada apa dengan teman kita yang lain? kenapa mereka terlihat bingung ditempat?" tanya Desy sambil mengeluarkan ponselnya.
Saat Desy sibuk menelpon Ular itu menghampirinya dan menggigit kakinya.
Leni sudah berusaha mengingatkan tapi Desy tidak mendengarnya Leni akhirnya pingsan dalam hitungan detik.
Tiba-tiba saja sebuah cahaya merah mengejar Ular rupanya Tuan yang mereka puja sedang Marah. ular terus berlari hingga sampai kesebuah tempat ibadah kecil iapun tanpa ragu bersembunyi disana, benar dugaannya cahya merah yang mengejarnya tidak mampu masuk kesana.
Dewi menarik napasnya perlahan lalu mengucapkan terimakasih kepada ular disampingnya.
"Apa yang kamu dapatkan Dewi?" tanya Abi.
"Aku berhasil membuat mereka memakan kue buatan Kaka dan ular ini menggigit tangan kanan Marcella." jelas Dewi.
"Kenpa harus di gigit bagaimana jika mereka mati dan kejahatannya belum terungkap?" tanya Abi.
"Tidak masalah Ka, dua orang itu yang bisa memimpin doa untuk pemujaan dan persembahan, dua orang itu pula yang selalu menggantikan Nenek Marcella jika ia tidak ada. Dewi rasa jika keduanya tidak ada perkumpulan Sakte itu mungkin akan bubar."
"Ya kamu benar, tapi bagaimana jika kakek William sembuh dan mengambil alih menjadi pemimpin mereka, aku yakin putri Arum tidak akan membiarkan usaha Marcella sia-sia."
"Kita pikirkan itu nanti Ka, aku sudah sangat siap untuk mematahkan kaki Putri Lasmi dan ibunya." kata Dewi menggebu-gebu.
" Besok malam kita berkumpul semua." ujar Abi diangguki oleh Dewi.
Keduanya segera naik keatas kasur dan tertidur lelap tidak sabar menanti hari esok.
Beberapa orng perkumpulan Sakte keluar berjalan sempuyungan sesakali bergumam entah apa yang mereka bicarakan tidak jelas.
Seorang pejalan kaki menghampiri dan membantu. "Ia mendengar perempuan yang ditolongnya berkata aku orang jahat aku seorang pemuja setan, kami akan membunuh Abimanyu." teriaknya.
"Bukan perkataan orang mabuk adalah perkataan yang jujur." batinnya.
"Bisa saja begitu aku harus menyerahkan wanita ini ke pihak berwajib." lanjutnya
Laki-laki pejalan kaki itu segera meminta tolong petugas mengamankan wanita yang ia tolong.
"orang ini sepertinya mabuk?" gumam seorang petugas.
" Tidak masalah bawa saja dulu lagi pula dinegara kita tidak diperbolehkan seseorang mengkonsumsi minuman keras apalagi hal itu meresahkan masyarakat." petugas yang lain menjawab.
"Baik bu kami memang berniat membawanya kekantor bila wanita ini gila kami akan mengirimnya kerumah sakit jiwa." Sahut polisi.
"Pak sekitar satu meter dari ini ada wanita gila berteriak-teriak ingin membunuh, ia berada ditengah jalan mencegat setiap pengendara." ujar seorang pengendara melapor.
"Terimakasih laporannya kami akan segera kesana." jawab petugas polisi.
Setelah memasukan wanita itu kedalam mobil patroli, kedua polisi itu segera menjemput wanita yang dilaporkan pengandara motor sebelumnya.
Di markas Abi wijaya kusuma segera meluncur ke tempat perkompulan Sakte, tidak lupa ia meminta beberapa polisi ikut bersamanya sesuai perintah Abi.
Tidak perlu waktu lama Wijaya kusuma beserta polisi sampai di tempat namun bukan rumah yang mereka lihat melainkan lahan kuburan umum. Polisi yang dibawa Wijaya sempat marah karena merasa dipermainkan.
"Tunggu sebentar pak, pemimpin mereka mengunakan ilusi untuk mengelabui kita, rumah itu jelas sekali ada disini tapi kita tidak dapat melihatnya." Jelas Wijaya kusuma
"Jagan asal bicara, disini jelas sekali hanya kuburan umum, kami masih ada urusan lain hanya membuang waktu saja." kata seorang petugas.
Etah kebetulan lewat atau sejaga dikirim untuk membatu Wijaya kusuma seorang pengendara menghentikan motornya lalu bertanya.
" Assalamualaikum pak, ada apa ini?" tanyanya.
Merasakan aura yang tenang dan ilmu dari aliran putih, Wijaya kusuma tersenyum sebelum menjawab.
"Saya membawa polisi kemari ingin menangkap anggota Sakte sesat yang ada diruamh itu, tetapi mereka tidak bisa melihat disini ada rumah bertingkat dua." tunjuk wijaya kusuma menjelaskan setelah menjawab salam dari pria paruh baya.
Lalaki paruh baya yang mengunakan gamis berwarna putih itu segera turun dari kendaraannya ia berjalan ke tempat yang di tunjuk wijaya.
" Pemuda ini hanya ingin mempermainkan kami disini jelas hanya ada kuburan." ketus salah seorang petugas polisi.
Kaki paruh baya itu semakin maju kedepan Wijaya diam memperhatikan tiba-tiba ia terpental kebelakang seperti mendapatkan durungan yang sangat kuat. Tentu saja itu membuat lima orang petugas yang dibawa Wijaya terkejut.
"Ah pasti laki-laki ini komplotan pemuda ini juga pikir." seorang petugas.
"Maaf kami tidak ada waktu menonton drama kalian." tegas seorang polisi bergegas melangkah ingin meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu." ucap Lalaki paruh baya.
"Kemarilah salah satu di antara kalian." ujarnya memerintah. "ayo berjalan kemari majulah ketempat saya tadi."
"Ayo lekas bukankah kamu mengatakan saya hanya drama." tukasnya
Tanpa ragu dua orang polisi maju kedepan dan mereka juga terpental bahkan lebih jauh dari lelaki paruh baya tadi.
"Sekarang bacalah dua kalimat syahadat insyaallah atas ijin nya kalian akan melihat yang tidak dapat kalian lihat." terangnya.
Dua orang itu tidak bisa membantah, seperti terkena hipnotis segara membaca dua kalimat syahadat sambil memejamkan matanya, begitu mata keduanya terbuka, wajahnya jelas terkejut melihat rumah ber cat hitam berdiri kokoh didepan matanya ada pula beberapa mobil terpakir didepan rumah itu.
"Tangkaplah mereka semua yang berada didalam perintah lelaki." paruh baya.
Sesampainya didepan gerbang tangan keduanya berniat membuka pagar tapi naas mereka terkana tersengat aliran listrik.
Wijaya kusuma dan Lelaki paruh baya segara menolong begitu pula tiga orang berseragam polisi yang lain.