
"Bila kamu tidak mau di atas pohon bagaimana bila di atas batu yang berada di air terjun." sela kyai Ahmad.
Willam terdiam ia terlihat berfikir, bila menolak akan di tertawakan dan bila menerima maka nyawa menjadi taruhan nya.
"Aku mengijinkan Kekek membawa pasukan." celetuk Abi tiba-tiba.
"Baiklah, aku akan memanggil mereka sekarang dan menerima tantangan bertarung di bawah air terjun." jawabnya cepat seakan takut bila Abi berubah pikiran.
Abi tersenyum tipis sembari berjalan mendekati Raden Mas yang memanggilnya dengan bahasa isyarat.
begitu Abi sampai, Raden Mas membuka portal gaib lalu mengajak masuk menuju Air terjun.
Suara air terdengar memecah kesunyian di tempat tersebut, tempat itu sunyi sepi. Sinta sudah dibawa ke kerajaan milik Dewi sekar untuk diberi pengobatan sedang mayat tujuh Dukun yang berhasil terbunuh sudah dibereskan oleh prajurit istana Dewi sekar.
Cincin milik Abi bersinar pertanda sang Naga. emas sudah terbangun dari tidur panjangnya.
"Naga tunggu perintahku, diam dan dengarkan saja." telepati Abi.
Sang Naga tidak menjawab membuat Abi ragu apa naga Emasnya mendengar perintahnya.
Di sisi lain Willim sedang bersemedi ia membaca mantra untuk memanggil pasukan gaib yang berada di bawah kepemimpinannya.
Tidak lama buluhan pasukan gaib berpakaian serba hitam datang berdiri mengelilingi Willim hal itu dilihat langsung oleh Devan.
Devan tidak bicara ia hanya tersenyum sinis.
Abi melompat kesalahan satu batu untuknya berpijak. sedang Willim yang masih duduk diatas batu membuka matanya melihat gerakan Abi.
"Ayo Majulah." ujarnya.
Abi berbekal ilmu bela diri berusaha menyerang Willam tapi dihadang oleh pasukan Willim mereka menyerang balik Abi dengan kemampuan masing-masing.
Yusuf mendekati Devan dan menyerahkan sebuah belati kecil ke tangan Devan sambil berbisik.
" Bantulah Abi. " ujarnya.
Devan berlari kearah Abi membatunya melawan Pasukan Willim.
"Devan apa yang kau lakukan kau harusnya berada di pihak ayah! Devan kau tidak mendengar aku lagi!" seru Willim terlihat menahan amarah.
Devan yang mendengar seruan Willim tidak menggobris, ia tetap membatu Abi melawan pasukan berpakaian serba hitam dan wajah buruk itu.
BRUK......!!!
BRUK.....!!!
Abi terkejut, dua tendengan yang cukup keras di kepala serta dadanya. fokus Abi terganggu melihat Devan yang turun tangan membatunya tanpa persiapan yang cukup.
Sebelum sempat badan Abi terlempar menyentuh air Redan Mas melempar jaring tak kasat mata hingga Abi seperti melayang diudara mata Willim membulat melihat pemandangan itu.
Willam masih belum turun tangan, ia melihat dan memerintah anak buahnya sambil sesekali tersenyum bila mana anak buahnya dapat membuat musuh nya terluka.
Devan menerima serangan demi serangan namun ia tatap tegak sebuah kekuatan cinta kasih pada sang Putra membuatnya menjadi sulit untuk dikalahkan.
Setttttttt...... Tangan Devan tergeres oleh kuku tajam milik salah satu pasukan Willim melihat Devan terluka hati Willim terasa sakit.
"Dev, berhentilah melawan Ayah! aku tidak akan menyakiti kamu bila kamu mau menurut." kata Willim berseru.
Devan berfikir sejenak ia kemudian menemukan sebuah ide sembari tersenyum tipis ia menatap Willim.
"Maaf Ayah aku salah melawanmu yang sudah banyak berkorban untukku seharusnya aku menolongmu. Aku benar-benar manusia tidak tau balas budi." jawab Devan dengan wajah menyesal.
Willam tersenyum meski jiwa iblisnya meragukan penyesalan Devan namun ia tidak memperdulikan baginya Devan adalah putranya maka ia akan selalu memaafkan setiap kesalahannya.
" Willam jangan Willim! jangan mudah percaya." teriak jiwa iblis Willim.
"Dia putraku aku yang lebih mengerti dia bukan kau meski kita berbagi tubuh tapi akulah Ayahnya!!" seru Willim melalui batinnya.
Willam memerintah pasukannya untuk fokus melawan Abi dan jangan melukai sang Putra lagi. Dengan langkah pasti Willim mendekati Devan.
Ayo nak, kau adalah putraku tersayang kau satu-satunya penurusku, harataku akan menjadi milikmu seluruhnya ayo kita bersama melawan mereka. Kata Willim sambil merengkul sang Putra.
Abi kembali melawan anak buah Willim yang samakan tidak memberinya kesempatan untuk lolos.
Suara Yusuf dan dua tokoh agama yang terus membaca kalam illahi membuat hati Willim was-was pasalnya anak buahnya pasti akan melemah seiring berjalannya Waktu.
sembari Memapah Devan wajah Willim jelas sekali terlihat tidak tenang.
begitu Devan duduk dialah satu batu ia meminta Sang Ayah menemaninya duduk dan membersihkan luka dilengannya.
"Willam cepat jauhi Devan, ia punya niat buruk terhadapmu." Kata jiwa iblis dalam tubuh Willim.
"Tidak, putraku tidak pernah menyakiti aku bila ia sudah meminta maaf ia akan bersungguh-sungguh. aku meneganalnya bukan satu atau dua hari." batin Willim menyahut.
Tidak menunggu lama saat Willim asyik membersihkan luka di lengan Devan menyelusupkan sebuah belati kecil tepat di bawah ketiak Willim seketika terkejut.
" Willam aku sudah memberimu peringatan kanapa kau tidak percaya." jiwa iblis Willim murka dengan segera ia mengambil alih raga Willim sepenuhnya dan membawanya melompat mencari ke atas dan dapat menginjak tanah, namun sayang Raden Mas sudah mampu terbaca gerak geriknya, bersama Abi ia bekerja sama menghentikan Willim untuk menginjak tanah.
Abi memasasukan kakinya kedalam air yang dibawahnya masih ada batu batu kecil sebagai pijakan ia bersenandung merdu membaca Sholawat seketika semua aktivitas musuh terhenti.
air yang semula sejuk tiba-tiba saja membentuk sebuah pusaran air yang siap menelan benda apa saja yang berada disekitarnya. Hanya dalam hitungan detik saja semua makhluk gaib yang tunduk pada Willim terhisap habis tanpa sisa.
Abi masih saja terus bersholawat merdu seakan ia sedang bersenandung untuk orang terkasih, suara itu sangat indah air disekitarnya kini kembali tenang dengan gerakan seperti seorang penari Abi meminta sebuah pedang dari air dan dikabulkan seketika hal itu tentu saja menarik perhatian Willim yang masih kaku ditempat.
Pedang air yang bertuliskan Laillahaillah itu terbang cepat lalu menancap tepat di ubun-ubun Willim yang tidak mampu bersuara sepatah katapun apalagi bergerak matanya merotot marah melihat Abi dan juga Devan.
Raden Mas dengan cepat membuat jaring gaib untuk menggantung tubuh Willim yang sudah serakat di atas pohon agar tidak menyentuh tanah dan membuatnya hidup kembali.
Devan meringis geri merilihat Pedang yang terlihat panjang itu menusuk ubun-ubun sang Ayah diperkirkan olehnya pedang itu pasti sampai ke leher Ayahnya. Meski begitu tidak ada penyesalan sedikitpun di hati Devan karena sudah membatu Abi membunuh Sang Ayah.
Abi mendekati Devan lalu mengoleskan sebuah cairan ajaib yang membuat Luka Devan lenyap dalam sekejap mata.
Bersamaan dengan itu Tubuh tanpa nyawa milik Willim terbakar sendri tanpa ada yang tau sebab akibatnya dan anehnya api itu hanya membakar tubuh Willim sedang pohon tempatnya digantung tidak terbakar sedikitpun.