Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Marcella


Dewi teratai kembali membawa sang Bunda kesebuah toko kue brownis milik pelanggannya yang ingin memesan kue di tokonya.


Risa melihat semua kue yang terpajang semua sama seperti kue yang ia jual begitu pula harganya.


Roh Risa kembali ditarik kesebuah ruangan di toko kue itu sebuah kamar rahasia dilantai tiga ada tempat altar pemujaan lengkap dengan sesajen.


Di altar itu Dewi teratai memperhatikan sebuah vidio didinding jelas terlihat Cincin yang di jatuhkan di tokonya adalah pemberian dari wanita yang bernama Cella dalam sebuah perkumpulan.


"Wanita-wanita yang menyekutukan Sang pencipta." gumam Risa.


Begitu selesai Dewi teratai mengunakan kekuatannya memberi pelajaran dengan orang yang ingin berbuat jahat dengan ibundanya serta Kaka laki-lakinya.


Kue kue yang ada didalam toko berjamur begitu pula bahan-bahannya rusak ada pula yang basi semua tak bisa digunakan apalagi di makan.


Roh Risa sudah kembali ke toko roti miliknya, ternyata roh sang putra sudah menunggu di tepi ranjang.


Putri teratai jaga emosimu jangan menyiksa Bunda tegur Abi.


"Maaf, Aku tidak akan mengulangi lagi asal tidak ada yang mengusik ketenanganku bertumbuh kembang." jawab Putri teratai emas melalui perantara Risa.


Walau tidak dijelaskan Abi tau apa yang dilakukan sang Adik. Dewi teratai emas tak ingin mengunakan lagi kekuatan hingga ia memilih mengajak roh Risa masuk kedalam badannya.


Risa terbangun perutnya sudah tidak lagi sakit perlahan bangkit berjalan menuju kamar mandi.


Di tempat berbeda Marcella memarahi seorang wanita yang ia utus untuk menyerap kekuatan teratai emas tidak berhasil cincin miliknya kembali tanpa hasil.


"Aku mempercayakan tugas itu untukmu." Mariana ucap Marcella membentak.


"aku sudah meninggalkan Cincin itu di toko kue milik Clarissa sesuai perintah Nyai, aku juga bertatap wajah langsung dengannya." Ungkap Mariana.


"jika kamu benar-benar melakukannya kenapa Cincin ini kembali ke altar pemujaan milikku?" Tanya Marcella sambil menatap wajah Mariana mencari kebohongan dimatanya.


"Aku tidak berbohong, Cincin itu benar-benar aku jatuhkan di toko kue milik Clarissa." jawab Marcella Jujur.


"jadi kau menuduhku berbohong." bentak Marcella.


"ti-tidak Nyai." sahut Mariana gugup.


"Lalu apa? jelaskan bagaimana hal ini bisa terjadi, apa ada orang yang melihat kau menjatuhkan Cincin berlian tersebut dan mengembalikannya kemari?"


"tidak ada orang lain di toko itu hanya kami berdua Aku sangat yakin jika perbuatan tidak ada yang melihat bahkan cctv sekalipun." jawab Mariana.


"Jagan mencoba mempermainkan Aku Mariana, menang merah yang terikat tangan dan lehermu dapat membunuhmu kapan saja." Ancam Marcella.


"Dia tidak berbohong Marcella, Cincin itu kembali karena dikembalikan oleh Dewi teratai Emas." ucap suara misterius yang hanya dapat di dengar oleh Marcella.


kurang ajar berani sekali anak itu, belum lahir saja sudah berani menantang aku. batin Marcella tersulut emosi.


Tunggu pembalasanku Dewi teratai, semua kesaktian yang kamu miliki harus menjadi milikku. batin Marcella menyeringai.


"Dasar tidak berguna pergi kamu dari sini. Tugas kecil begitu saja kau tidak becus mengerjakan." usir Marcella.


"maafkan Aku Nyai, aku berjanji akan membaut Clarissa datang kemari bersamaku dan menyerahkan dirinya padamu." rayu Mariana.


"Kau ingin Aku memberikanmu Kesempatan?, baiklah, tapi jika kau gagal nyawamu menjadi taruhannya." Ucap Marcella suara berubah menjadi suara nenek-nenek.


Mendengar itu Mariana bergetar ketakutan, ia tau jika suara Marcella berubah menjadi Nenek-nenek itu artinya ia tidak main-main jiwa iblisnya sedang bangkit.


Mariana beringsut mundur perlahan meninggalkan Marcella yang nampak menyeringai penuh Arti.


"Apa maksudmu?" Marcella bertanya.


"Apa kurang jelas ia ucapanku, dia gagal menjalankan tugasmu sedang wajahnya dikenali oleh Clarissa dia akan jadi ancaman bagi kita melenyapkan dia." perintah Nek Cella.


"Dia salah satu orang yang aku percaya." sahut Marcella.


"Lupakan dia, kau masih memiliki banyak pengikut yang lain, Jangan menjadi bodoh Marcella gunakan otakmu." ucap Nek Cella marah.


"menurut saja denganku. Kau harus mendapatkan kesaktian Dewi teratai emas baru ilmu setara dengan ilmu Putri Arum, ingat Marcella putri Arum itu bersatu dengan Raja jin jika kau lemah dengan mudah kau akan disingkirkan oleh mereka." ujar Nek Cella.


"Kau benar. menurutmu bagaimana agar aku bisa menguasai kesaktian Dewi teratai itu, kau punya saran" tanya Marcella.


"kau harus membuat Dewi teratai lemah cari tau kelemahannya." ucap Nek Cella berbicara dengan mulut Marcella sedangkan Marcella jiwanya terkunci dalam badannya.


"Bagaimana caranya siapa orang layak menerima tugas ini?" tanya Marcella.


"kau sendiri." sahut Nek cella dengan cepat.


"Aku?" ulang Marcella.


"Tentu saja Marcella jika orang lain bisa saja berhianat." jawab Nek Cella.


bagaimana caranya kata Marcella.


"bodoh sekali kamu, otakmu gunakan untuk berpikir." bentaknya.


Marcella kembali menguasai badannya.


Di pondok Al Azam Mars duduk termenung sambil menatap langit ditemani oleh Ustadz Akbar.


Zahra mengantarkan pisang goreng dan teh manis untuk Mars dan Ayahnya sambil tersenyum ia meletakan teh serta pisang goreng di Maja tempat duduk Mars serta Ayahnya.


terimakasih Zahra ucap Mars


"sama-sama om Mars." sahut Zahra sambil berlalu meninggalkan keduanya.


"Mars bagaimana penyelidikanmu?" tanya Ustadz Akbar.


"Willem memecat aku dari kantor Devan." sahut Mars dengan raut wajah datar.


"Memecatmu, apa alasannya?".


"Dia bilang aku bersikap sesuka hati di kantor datang dan pergi tak tepat waktu, serta berani mengambil keputusan sendiri tanpa perintah." cerita Mars.


"Apa semua yang ia tuduhkan memang benar?".


"hari itu aku datang memang terlambat karena aku harus mengunjungi makam keduanya orang tuaku, Devan dan Willem sudah tau itu dari dulu, dalam sebulan aku pasti akan berkunjung kemakam orang tuaku tepat di tanggal yang saat mereka meninggalkan aku." cerita Devan kemudian menarik nafasnya sebentar lalu melanjutkan ceritanya.


"sehari sebelumnya aku memang mengambil keputusan menemui rekan-rekan Bisnis Devan untuk mitting. itu aku lakukan semata-mata karena tak ingin mengecewakan beberapa investor yang kerjasama sama. Devan berkali-kali di telpon namun tak satupun di jawab untuk itulah aku megantikannya." ungkap Mars.


"Jagan bersedih Mars. percayalah semu ini adalah jalan yang Allah pilih untukmu. untuk masalah Willem kau tidak perlu merasa bersalah berlebihan kita akan pikirkan bersama cara mengungkap jati diri Willem." Ujar ustadz Akbar ramah sambil mengaduk air teh di meja depannya.


"Iya Ustadz, aku hanya memikirkan rumah peninggalan Kedua orang tuaku ikut di sita oleh Willem." Tandas Mars dengan raut wajah sedih.


"keterlaluan Willem ia semakin tak terkendali saja sahut." Ustadz Akbar.


'