
Anak laki-laki dari Clarissa tertawa renyah menanggapi pertayaan grandmanya.
"ternyata ketahuan jika itu lukisan yang dibuat diatas kertas stiker kosong." Abi berbicara sambil melihat kembali lukisan yang dibuatnya diatas kertas stiker.
"apa ini kamu yang membuatnya nak?" tanya Ratih penasaran.
heehehhehe
"Abi hanya iseng saja melukisnya, ternyata hasilnya lumayan, jadi niat Abi mau ditempel ditoko baru Bunda. bagaimana pendapat kalian?" Abi mengakhiri ucapannya dengan kalimat pertanyaan.
"ini bukan lumayan lagi Abi lukisan ini memang bagus sekali." Ratih berucap sambil menatap kagum dengan lukisan yang dibuat Abi.
"terima kasih pujiannya Grandma kapan-kapan kita akan melukis bersama" ajak Abi sambil melirik Ratih dengan ekor mata kecilnya.
"lukisanmu jauh lebih baik dari lukisan grandma Abi, ohya jam brlerapa Ayah dan Bundamu sampai kemari?" tanya Ratih pada cucunya.
"mongkin sore grandma atau malam." sahut Abi.
Dirumah Defvan.
drat.....drat....
ponsel milik Defvan sedang berbunyi
tanpa menunggu lama Defvan segera mengangkat telpon dari salah seorang anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi rumah umi salamah.
Hallo ucap menyapa orang yang sedang disebrang telpon.
"hallo taun Devfan anak dari Clarissa bersama neneknya sudah kembali dari paris." sahut pelaki yang sedang berbicara melalui sambungan ponselnya.
"benarkan!" tanya Defvan untuk memastikan pendengarannya.
"ia tuan tapi tuan Yusuf berserta istirinya belum kembali." lanjut orang berbicara pada Defvan.
"tidak apa-apa, terimakasih joni kau teruslah awasi disana dan ikuti kemanapun anak kecil itu pergi." perintah Defvan.
"siap tuan" jawab joni
setelah mendengar jawaban orang suruhannya Defvan segera memarikan sambungan ponselnya.
baiklah nak besok aku akan mememuimu dan meminta sedikit rambutmu karna jika melakuakan tes menggunakan darah pasti akan sulit mendapatkannya.
keesokan paginya Defvan menghubungi bahannya yang terus mengawasi rumah Yusuf untuk menanyakan dimana sekarang keberadaan anak Clarissa itu.
setalah mendapatkan jawaban, tanpa menunggu lama Defvan segera menjalankan mobilnya kesebuah roko didekat rumah sakit swasta dikota yogyakarta.
berapa menit kemudian ia sudah sampai ditempat tujuannya.
Defvan keluar dari mobil hitam miliknya dan segera masuk keroko yang terlihat sepi dan baru saja selesai dironovasi.
Abi yang sedang menempel stiker didinding segera mendekati pintu karna melihat seseorang seperti ingin masuk.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Abi ramah.
kebetulan sekali anak ini yang menyapaku. ucap Defvan dalam hati.
"hey nak! namaku Defvan, kau anak dari istri dokter Yusuf benarkan?" tanya balik Defvan sambil tersenyum manis.
"Ya anda benar tuan." sahut Abi. "apa anda ada perlu dengan Ayah saya?" tanya Abi sopan.
"oh tidak aku hanya ingin mengucapkan terimaksih pada ibumu apa ibumu ada?" tanya Defvan serius sambil menatap Abi.
"Bunda dan Ayah mongkin malam ini beru kembali dari paris." sahut Abi sambil membalas tatapan Defvan.
"bagaimana jika kita mengobrol sebentar di cafe depan sambil menemani saya makan." ajak Defvan.
Abi berpikir sejenak taklama kemudian ia meminta Defvan untuk menunggunya sebentar untuk meminta ijin pada Gio.
Om Gio bisakah Abi kecafe yang ada didepan untuk sekedar mengobrol dengan orang yang sudah menyelamatkan Abi saat terjatuh dari panggung mini acara Resepsi pernikahan bunda?" tanya Abi dengan ekspresi wajah penuh harap.
Gio yang melihat wajah memohon Abi tersenyum.
"Baiklah tapi om harus menemui dulu orang yang yang ingin mengajakmu ke cafe itu." ucap Gio.
sesampainya didepan pintu Gio segera bertanya.
"ya benar saya hanya ingin mengajaknya mengobrol dan makan dicafe depan anda bisa mengawasinya dari sani." sahut Defvan sambil melirik Abi yang sedang tersenyum padanya.
"baiklah karna anda sudah menolong ponakan saya jadi sebagai rasa terakasih saya mengijinkan ponakan saya ikut dengan ada, jika sudah selesai segara kembalikan dia kemari!" perintah Gio tegas.
"Baiklah saya akan bertanggung jawab atas keamanan ponakan anda." sahut Defvan santai.
hmmmm. ucap Gio sambil melihat Abi yang sedang tersenyum begitu manis.
kedua lalu pergi setelah perpamitan pada Gio.
sesampainya disana Devfan segera memesan makanan dan minuman untuk menemani mereka mengobrol.
"apa ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Defvan.
"tidak sudah." cukup sahut Abi sambil melihat jalan.
"dari tadi kita belum saling kenal siapa namamu nak?" tanya Defvan sambil mengikuti arah pandangan Abi.
"namaku Abimanyu Alfarizi, Bundaku biasa memanggilku Abi." ucap Abi tanpa mengalihkan pandangannya melihat mobil berlalu lelang dijalan.
"namamu bagus, kenalkan namaku Defvan." ucap Defvan santai.
seorang pelayan datang menghapiri meja tempat Abi dan Defvan duduk meletakan minuman dan makanan yang mereka pesan.
"terimakasih." ucap Defvan datar
"sama-sama pak, silahkan dinikmaati." ucap pelayan cafe kemudian berlalu pergi.
"Ayo Abi makanlah yang banyak jika kurang kamu bisa menambahnya lagi, katalah tak perlu sungkan." ajak Defvan.
"iya." sahut Abi dengan mata berbinar mlihat banyak makanan didepannya ia sangat bersemangat.
Abi makan dengan lahap, melihat itu Defvan begitu senang.
saat Abi mengangkat gelas ingin minum gelas itu tiba-tiba saja pecah mengenai tangannya.
"Abi !!" seru Defvan kanget melihat ada kaca yang menecap dikulit Abi.
"Ayo kita obati segera."
"pelayan ini uangnya kembaliannya ambilah." ucap Defvan ia segera mengangkat tubuh kecil Abi dan membawanya kerumah sakit yang ada disamping roko milik Abi.
"suster tolong panggilkan dokter anak ini tertancap pecehan kaca." ucap Defvan dengan wajah panik
"ikuti saya." ucap suster yang mengenal pengusaha muda bernama Defvan itu.
setelah sampai ruang khusus pasien anak, dokter datang memeriksa Abi dan segera mencabut kaca yang menacap ditangan kanan Abi, lalu membersihkan lukanya.
kesempatam itu tak disia-saiakan oleh Defvan, ia meminta dokter itu mengambil sedikit simpel darah Abi untuk melakukan tes DNA dengannya.
sang dewi sedang berpihak padaku fikir Defvan sambil tersenyum senang.
tak...tak...tak.. suara seseorang mendekati Devfan.
"apa yang anda lakukan pada ponakan saya?" tanya Gio menatap tajam Defvan.
"maafkan aku kejadian ini murni karna kecelakan, aku sendiri tidak tau kenapa gelas itu bisa pecah" sahut Defvan.
"jujur aku juga tidak menginginkan Abi terluka walau itu hanya luka kecil." lanjut Defvan dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"apa aku harus percaya dengan ucapan anda tuan sebentar saja Abi bersama dengan anda sudah terluka bagaimana jika lama." Gio berbicara sambil menatap wajah Defvan yang terlihat sedih.
"katakanlah apa sebenarnya tujuan anda menemui ponakan saya?" tanya Gio tegas.
"aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat karna ia mirip denganku sewaktu kecil." sahut Defvan jujur
"omong kosong macam apa itu, cepat katakan apa tujuanmu." tanya Gio kembali dengan nada mulai meninggi.
Lihatlah ini ucap Defvan menyerahkan ponselnya.
Gio melihat foto anak kecil yang sama persis seperti wajah Abi dari mata hidung sampai badan anak itu benar-bener seperti satu buah dibelah menjadi dua.