Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Aku akan menikahimu


Karena mendapat panggilan operasi dadakan pagi itu, Dika pun terpaksa tidak bisa ikut menjemput orang tua Hana yang ia ketahui kita tinggal di luar kota. Setelah tiga jam berada di ruangan operasi, akhirnya Dika pun keluar dari ruangan operasi dengan senyuman tipis di bibirnya. Menyelamatkan nyawa pasien adalah prioritasnya dan kini ia berhasil melakukannya untuk yang ke sekian kalinya.


Dika terus berjalan diikuti seorang perawat di belakangnya. Langkah Dika terhenti pada saat matanya menangkap sosok wanita yang terus menghantui pemikirannya tengah bercanda tawa dengan asistennya setelah keluar dari ruangan kerjanya.


"Dia bisa tertawa di saat kepalaku hampir pecah memikirkan masalah kami!" Geram Dika dengan tangan terkepal.


"Apa anda berbicara sesuatu Dokter?" Tanya perawat yang mengikuti Dika.


Dika menolehkan kepalanya ke belakang dan tersadar jika ada perawat yang berjalan mengikutinya sejak tadi.


"Saya tidak berbicara apa-apa. Berjalanlah duluan, tidak usah menunggu saya." Titah Dika.


Perawat itu mengangguk lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Dika.


Setelah memastikan perawat yang mengikutinya berjalan menjauh, Dika pun segera melangkah menuju sosok yang sejak tadi sudah ia incar. Dika terus berjalan mengikuti Hana dan Fitri hingga ke lorong rumah sakit yang sepi.


"Ehem." Deheman Dika berhasil menghentikan langkah dan canda tawa Fitri dan Hana.


"Dokter Dika?" Ucap Fitri merasa terkejut melihat Dika.


"Bisa kau tinggalkan kami sebentar." Titah Dika pada Fitri.


Wajah Fitri nampak bingung. Fitri pun menatap Hana seolah meminta pendapat Hana.


"Ada urusan penting yang harus kami bahas." Terang Dika melihat kebingungan Fitri.


"Fitri... kau duluan saja. Aku akan menyusulmu setelah selesai dengan Dokter Dika." Ucap Hana memutuskan kebingungan Fitri.


"Baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu Dokter Hana, Dokter Dika." Pamit Fitri.


Suasana canggung pun mulai menyelimuti Hana saat Fitri sudah menjauh dari mereka.


Hana menatap wajah Dika yang kini terlihat tidak bersahabat.


Hana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau. Jika kau ingin berbicara katakan di sini saja." Tolak Hana.


"Kau..." Dika menggeram. Sebelah tangannya pun terangkat mencengkram lengan Hana namun tidak terlalu kuat hingga tak menyakiti Hana. "Apa kau ingin membuat berita baru dengan kita berbicara di tempat sepi seperti ini!" Cetus Dika.


Hana menggelengkan kepalanya. Belum sempat mulutnya terbuka untuk berbicara, tangannya sudah lebih dulu ditarik Dika.


"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri." Hana menghempaskan tangan Dika hingga terlepas dari lengannya.


Dika mendengus lalu berjalan lebih dulu diikuti oleh Hana.


Dia ingin berbicara apa lagi? Hana dibuat bingung dengan mantan kekasihnya itu. Belum hilang kebingungannya dengan apa yang ingin Dika bicarakan, kini Hana kembali dibuat bingung saat Dika membawanya masuk ke dalam ruangan khusus untuknya.


"Kenapa kau membawaku ke ruanganmu?" Tanya Hana saat sudah masuk ke dalam ruangan Dika.


Dika memutar tubuhnya ke belakang lalu menatap tajam pada Hana.


"Aku akan menikahimu." Ucap Dika tanpa basa-basi.


"Apa?" Hana dibuat terkejut mendengar ucapan Dika. "Untuk apa kau menikahiku?" Tanya Hana kemudian.


"Karena aku tidak ingin permasalahan yang terjadi pada kita beberapa hari yang lalu membuat repurtasi kelurgaku hancur nantinya." Balas Dika apa adanya.


"Aku tidak mau menikah denganmu." Tolak Hana dengan cepat. Ia memang masih mencintai Dika, namun ia tidak ingin Dika menikahinya hanya karena keterpaksaan. Lagi pula Hana masih mengingat dengan jelas tembok besar yang menjadi penghalang hubungan mereka.


***


Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹