Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Menjaga Mom dengan baik


"Dokter yakin tidak ingin menutup mulut mereka dengan mengatakan jika Dokter adalah istri dari Dokter Dika?" Tanya Fitri setelah mereka keluar dari kantin.


Hana mengangkat kedua bahunya. "Saat ini belum. Entahlah untuk beberapa hari ke depan." Balas Hana karena ia pun turut geram dituduh yang tidak-tidak dengan rekan kerjanya. Jika tidak mengingat saat ini ia tengah mengandung, Hana tak segan melawan mereka satu persatu.


"Sudahlah. Aku yakin Dika memiliki cara lain untuk mengungkapkan status kalian saat ini." Ucap Arka pada Hana.


Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka pun terus berjalan hingga sampai di depan ruangan kerja Hana. "Ingatlah untuk tidak memikirkan perkataan mereka." Pesan Arka pada Hana yang nampak terdiam sambil berpikir.


"Iya, Kak. Aku tidak memikirkan ucapan mereka." Balas Hana seraya tersenyum. Namun aku memikirkan cara agar membuat mulut mereka terbungkam. Lanjut Hana dalam hati.


Arka dan Fitri pun kemudia berpamitan untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Hana, setelah kepergian mereka memilih bersiap untuk pulang karena Dika akan menjemputnya dalam waktu beberapa menit lagi.


*


"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Dika yang sejak tadi memperhatikan wajah tidak bersahabat Hana sejak masuk ke dalam mobil.


"Wajahku tidak apa-apa." Balas Hana dengan singkat.


Dika menghela nafas. "Maksudku dengan hatimu. Kau pasti sedang memikirkan sesuatu." Jelas Dika.


Hana menolehkan wajah pada Dika. "Ya. Aku hanya memikirkan cara bagaimana berita tidak enak tentang diriku di rumah sakit itu cepat hilang." Ungkap Hana dengan jujur.


Dika mengangguk paham. "Tenanglah... dalam waktu satu minggu ini aku akan mengungkapkannya. Saat ini aku masih banyak pekerjaan di perusahaan yang membuat niatku mengungkapkannya tertunda." Jelas Dika.


"Kau ingin mengungkapkan pernikahan kita?" Suara Hana terdengar meninggi.


Dika menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Senyuman di wajah Hana pun merekah mendapatkan jawaban dari Dika. Tak lama lagi statusnya sebagai istri dari Dika akan terbongkar dan dengan itu bisa membuat mulut rekan kerjanya bungkam.


"Kau akan kembali ke perusahaan?" Tanya Hana.


"Ya. Ada pertemuan penting yang harus aku hadiri satu jam lagi." Balas Dika.


"Pertemuan dengan siapa?" Tanya Hana.


"Dengan Calvin Kakak kandung dari William."


"Apa? Ternyata selama ini William memiliki seorang Kakak?" Hana sedikit terkejut mendengarnya.


"Ya. Selama ini mereka tinggal di luar negeri. Dan kini Calvin beserta keluarganya memutuskan untuk menetap di Indonesia."


Hana mengangguk-angguk tanda mengerti. "Lalu kapan kau akan kembali ke rumah?" Tanya Hana mengingat Dika yang selalu pulang larut malam jika sibuk seperti saat ini.


"Aku akan mengusahakan pulang lebih awal. Tidak akan aku biarkan kau dan anak-anak kita terlalu lama menungguku pulang." Dika menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya lalu mengecup keningnya.


"Terimakasih, Daddy." Ucap Hana menirukan suara anak kecil.


Dika tersenyum lalu merendahkan tubuhnya hingga kini wajahnya tepat berada di depan perut Hana. "Anak-anak Daddy jangan rewel selama Daddy masih bekerja. Jaga Mommy kalian dengan baik." Ucap Dika lalu mencium perut Hana yang tertutupi pakaian.


Tangan Hana terulur mengusap rambut tebal Dika. "Terimakasih, Daddy. Kami tidak akan nakal dan akan menjaga Mom dengan baik."


***


Hayoo siapa yang sudah rindu Calvin dan Bianca?