
"Masuklah." Ucap Dika tanpa memperdulikan ucapan Amel.
Lidah Amel berdecak. "Dasar kulkas dua belas pintu!" Rutuknya lalu masuk ke dalam mobil.
"Dia memang menyebalkan." Lirih Hana yang masih kuat untuk menjelekkan Dika.
Amel menolehkan wajahnya ke samping. "Kau ini sempat-sempatnya ikut menjelekkannya!" Ucap Amel lalu tertawa.
Hana turut tertawa. "Jika hanya untuk menjelekkannya saja tenagaku cukup kuat." Balas Hana.
Amel menggelengkan kepalanya. "Lebih baik sekarang kau diam atau dia akan memangsa kita." Bisik Amel sambil mengarahkan pandangan pada Dika yang kini tengah menatap mereka dari spion mobil.
Hana mengangguk paham lalu mengalihkan wajahnya keluar jendela.
*
"Bagaimana kau bisa tahu jalan ke rumah Hana? Bukankah kau belum pernah datang ke rumahnya sebelumnya?" Tanya Amel saat mereka sudah berada di depan teras rumah Hana.
"Itu tidak penting." Balas Dika dengan singkat.
Bibir Amel mengkerut. Rasanya ia cukup naik darah melihat sikap Dika akhir-akhir ini.
"Sudahlah. Ayo masuk!" Ajak Hana.
Dika dan Amel pun masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Hana.
"Ayo aku antarkan ke dalam kamarmu, Hana." Ucap Amel saat sudah berada di ruang tamu.
Hana mengangguk. Pandangannya beralih menatap Dika. "Terimakasih sudah mengantarkanku berobat dan pulang. Aku masuk ke dalam kamar dulu karna kepalaku sangat sakit." Pamit Hana.
Dika menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Pandangannya terus menatap punggung Hana hingga lenyap dari pandnagannya.
"Kelinci kecil itu lucu juga." Gumamnya. Kedua sudut bibirnya nampak tertarik saat melihat foto Hana yang terlihat sangat menggemaskan dengan kedua rambutnya yang dikepang.
Dika mengalihkan pandangan pada foto yang lainnya yang mulai menarik perhatiannya. Setiap foto yang menunjukkan tumbuh kembang Hana berhasil membuat bibirnya terus melengkung tanpa ia sadari.
Di tengah kesibukan Dika menatap banyaknya foto Hana yang terpajang, di dalam kamar Hana, Amel dan Hana tengah sibuk menceritakan kejadian yang terjadi di kampus mereka beberapa jam yang lalu.
"Menurutmu apa yang membuat Dika mau membelamu dan mengakuimu sebagai kekasihnya?" Tanya Amel yang sejak tadi merasa penasaran dengan sikap Dika.
Hana mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu. Kau tahu sendiri jika aku sudah berusaha tidak mengusik hidupnya akhir-akhir ini." Balas Hana.
Amel terdiam dan berpikir. "Sepertinya dugaanku tidak salah jika dia memiliki ketertarikan padamu, Hana." Ucap Amel kemudian.
Hana menggelengkan kepalanya. "Kau tidak usah bercanda. Dia dan Liza itu semakin dekat akhir-akhir ini. Jika dia memiliki ketertarikan padaku, tidak mungkin dia mau meladeni Liza bahkan sedekat itu." Terang Hana.
"Tapi kau tidak mungkin lupa bukan dengan tatapan Dika pada Liza tadi? Dika terlihat sangat murka saat mengetahui Liza menuduhmu di depan teman-teman kita." Amel masih bersikeras dengan pendapatnya.
Hana diam. Kepalanya yang sudah sakit semakin sakit akibat berpikir maksud sikap Dika kepadanya.
"Huh, entahlah. Aku sudah malas untuk berpikir." Balas Hana.
"Hahaha..." Amel tiba-tiba tertawa.
"Ada apa denganmu?" Tanya Hana merasa takut melihat tawa Amel secara tiba-tiba.
"Kau itu bodoh atau bagaimana, Hana? Melihat perhatian Dika padamu saat di rumah sakit saja orang-orang juga tahu jika Dika sangat mengkhawatirkanmu dan menyayangimu." Ucap Amel dengan tawa yang masih tersisa di bibirnya.
***
Lanjut? Berikan vote, komen dan likenya dulu yuk☺️