Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Perintah Papa Indra


Dika memasuki rumah kedua orang tuanya dengan langkah lebar. Setelah dari rumah sakit untuk mengambil berkas-berkas yang ia perlukan dan pulang ke apartemen untuk membersihkan tubuhnya, Dika memang tak ingin membuang waktu lama untuk menemui kembali kedua orang tuanya di rumah.


"Dimana Mama dan Papa?" Tanya Dika pada seorang pelayannya.


"Tuan dan Nyonya masih berada di dalam kamarnya dan belum keluar sejak pulang tadi, Tuan." Jelasnya.


Dika mengangguk paham. "Terimakasih. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu." Ucapnya yang diangguki oleh pelayannya.


Sebelum menemui kedua orang tuanya yang saat ini masih berada di kamar, Dika menyempatkan lebih dulu masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan barang yang ia bawa dari apartemen.


Ketukan pintu yang terdengar cukup keras dari luar membuat Dika segera membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Dika pada pelayannya.


"Tuan Indra sudah menunggu anda di ruang kerjanya, Tuan." Ucap seorang pelayan.


Dika mengangguk paham. "Baiklah. Saya akan ke sana sekarang juga." Ucap Dika lalu menutup pintu kamarnya.


Suara pintu yang didorong dari luar oleh Dika membuat Papa Indra yang sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen di depannya mengalihkan pandangan pada Dika.


Dika terus melangkah masuk ke dalam ruang kerja Papanya tanpa memperdulikan tatapan Papa Indra saat ini yang sangat tidak ramah.


"Duduk!" Titah Papa Indra saat Dika sudah berada di dekatnya.


Dika menurutinya lalu duduk di depan Papa Indra.


"Papa, aku bisa menjelaskan kejadian yang terjadi. Itu semua tidak sesuai dengan apa yang Papa dan Mama pikirkan." Ucap Dika memulai pembicaraan.


Dika terdiam. Kondisinya yang tengah memeluk Hana dan bajunya yang berantakan pastilah membuat orang-orang berpikiran buruk padanya.


"Sekuat apa pun kau menjelaskan apa yang terjadi, orang tidak akan mudah mempercayaimu karena mereka akan lebih percaya pada apa yang mereka lihat, termasuk Papa." Tekan Papa Indra.


Hembusan nafas Dika kian melambat. Kali ini ia tidak lagi dapat membantah ucapan Papanya yang menurutnya benar adanya. Percuma saja ia menjelaskan panjang lebar tanpa bukti yang akan berujung dirinya sendiri yang disudutkan. Karena belum ada bukti kuat yang ia pegang saat ini.


"Kau benar-benar membuat Papa dan Mama kecewa, Dika. Di umurmu yang sudah menginjak kepala tiga beraninya kau berprilaku kotor seperti tadi. Sungguh mengecewakan." Papa Indra menatap putranya dengan tatapan penuh kekecewaaan. Dan Dika bisa menangkap ekspresi Papanya itu. Untuk pertama kalinya ia berprilaku buruk yang membuat kedua orang tuanya benar-benar kecewa.


"Lalu apa mau Papa?" tanya Dika.


Papa Indra menatap intens wajah putranya. "Nikahkan wanita itu!" Titah Papa Indra dengan tegas.


"Apa?" Dika dibuat terkejut mendengar permintaan Papanya. "Papa jangan berbicara konyol seperti ini!" Pungkas Dika.


"Konyol kau bilang?" Papa Indra menatap Dika berang. "Apa kau tidak memikirkan efek apa yang terjadi padamu tadi pagi pada rumah sakit? Bagaimana jika ada seseorang yang membocorkan kejadian memalukan tadi ke media dan akhirnya berimbas pada rumah sakit!"


"Tapi aku tidak melakukan apa-apa dengannya, Pa!" Balas Dika sedikit keras.


"Siapa yang tahu apa yang kau lakukan di dalam kamar dengan seorang wanita dari malam hingga pagi hari seperti tadi?" balas Papa Dika yang membuat Dika kembali terdiam.


***


Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹