
"Kau mengajakku hanya untuk membeli makanan untuk Comel?" Tanya Hana.
Dika mengangguk. "Ada apa?" Tanyanya menangkap perubahan wajah Hana.
"Aku kira kau ingin mengajakku kencan untuk pertama kalinya." Lirih Hana sangat pelan. Wajahnya nampak tak bersemangat.
"Kau mengatakan apa?" Tanya Dika yang tidak terlalu mendengar ucapan Hana.
Hana menggeleng. "Aku tidak mengatakan apa-apa." Dustanya.
Dika mengangguk. "Nanti malam aku akan menjemputmu." Ucap Dika.
"Baiklah. Aku akan menunggumu untuk datang." Balas Hana mencoba tersenyum. Menahan rasa dongkol di hatinya pada Dika.
Dasar kulkas tidak peka! Rutuknya dalam hati.
Pandangan Hana beralih menatap Amel yang baru saja masuk ke dalam kelas.
Amel yang sudah berada di depan Hana menatap Hana bingung. "Hana, kau tidak mengambil kursi untukku?" tanya Amel.
"Agh, ya. Aku belum mengambilkannya." Hana menolehkan kepalanya ke belakang. Mencari kursi yang masih kosong. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Hana pun bangkit. Menatap pada Dika yang kini menatapnya heran. "Dika, aku ke belakang dulu. Sampai jumpa nanti malam." Ucap Hana dengan tersenyum.
"Bukankah kau mau duduk di sini?" Tanya Dika dengan datar.
Hana menggeleng. "Sepertinya duduk di belakang bersama Amel lebih nyaman." Kilah Hana. Tidak mungkin aku mengatakan jika ingin mencakar wajahmu karena telah menghempaskan begitu saja harapanku untuk kencan. Lanjut Hana dalam hati.
"Ohh..." Dika mengangguk saja seolah tak mempermasalahkan pilihan Hana.
*
Hana menatap pantulan wajahnya di depan cermin dengan malas. "Kenapa aku dandan seperti ini? Dika hanya mengajakku membeli makan kucingnya bukan untuk berkencan." Lidah Hana berdecak. Sampai saat ini ia masih saja mengharapkan Dika mengajaknya pergi untuk kencan bukan untuk membeli makan kucingnya saja.
"Huh sudahlah. Memangnya apa yang aku harapkan dari pria batu es sepertinya." Kepala Hana menggeleng mengusir rasa keinginannya.
Tin
Tin
"Suara klakson motor?" Kening Hana mengkerut mendengar suara klakson motor dari luar rumahnya.
Tin
Tin
Hana pun bangkit. Berjalan cepat keluar dari dalam kamarnya untuk melihat siapakah gerangan orang di depan rumahnya.
"Dika?" Seru Hana menatap Dika yang kini duduk di atas sebuah motor matic yang hampir sama dengan miliknya.
Dika tersenyum tipis. Turun dari motornya lalu menghampiri Hana.
"Dika, kau membawa motor?" Tanya Hana yang cukup terkejut melihat kendaraan yang dibawa Dika.
Dika mengangguk. "Aku ingin membawamu menggunakan motor malam ini." Balas Dika dengan datar.
"A-apa?" Hana melongo tak percaya atas jawaban Dika.
"Kenapa nomor ponselmu tidak aktif?" Tanya Dika tanpa memperdulikan ekspresi Hana.
"Ponselku tadi kehabisan daya. Aku belum sempat menghidupkannya kembali setelah mengecasnya." Jelas Hana.
"Apa kau sudah siap?" tanya Dika. Memperhatikan penampilan Hana dari atas sampai bawah.
"Ya. Aku tinggal memakai sepatu. Kalau begitu tunggulah sebentar." Balas Hana lalu buru-buru masuk ke dalam rumahnya kembali.
Tak lama Hana pun telah kembali dengan memakai helm di kepalanya.
"Ayo berangkat!" Ajak Hana begitu bersemangat.
Dika mengangguk lalu jalan ke arah motornya diikuti Hana. Setelah memastikan Hana sudah duduk dengan nyaman di motornya, Dika pun mulai melajukan motornya.
"Aku sungguh tidak meyangka kau akan menjemputku menggunakan motor." Ucap Hana dengan senyum terkembang di pipinya.
Dika menatap ekspresi Hana dari kaca spion motor yang sengaja ia arahkan ke wajah Hana. "Apa kau senang?" Tanya Dika yang turut membesarkan suaranya.
Hana mengangguk cepat. "Aku sangat senang. Dengan begini aku bisa memelukmu sepuasnya." Seloroh Hana lalu tanpa malu memeluk erat pinggang Dika.
Dika menarik tipis kedua sudut bibirnya. "Aku memang melakukannya hanya untuk membuatmu senang." Balas Dika dengan suara yang tak lagi keras hingga Hana tak dapat mendengar jelas ucapannya.
***
Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰