Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Kita bisa tanpa Papa


"Pa-papa..." Hana menggeleng tak percaya. Hana menatap Mamanya yang kini tengah menangis tersedu-sedu lalu memeluknya. "Mama jangan menangis..." Hana mengelus punggung Mama Rita guna menenangkan Mamanya walau pun saat ini ia juga terluka.


"Maafkan Mama Hana... maafkan Mama karena tidak bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk kamu." Mama Rita tak kuasa menahan tangis di dalam pelukan Hana.


Hana menggeleng. "Mama tidak salah. Papalah yang bersalah. Hana tidak masalah tidak punya Papa. Hana cukup punya Mama yang selalu ada di sisi Hana. Kita bisa hidup berdua tanpa Papa, Ma." Hana semakin mengeratkan pelukannya.


Rasa bahagia yang Hana rasakan hari ini benar-benar lenyap begitu saja setelah mendengar perselingkuhan Papanya. Sosok ayah yang selama ini ia banggakan ternyata adalah sosok yang mengecewakan. Hana menghela nafas panjang. Pandangan jatuh pada banyaknya bingkisan yang kini memenuhi lantai kamarnya.


"Untuk apa gelar ini aku dapat? Seharusnya gelar ini untuk Mama dan Papa? Tapi apa? Di hari ini di saat aku meraih impianku sebagai seorang sarjana kedokteran, Mama dan Papa justru berpisah. Aku tidak membutuhkan ini semua." Hana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air mata mulai membasahi wajahnya kembali.


Keadaan ini benar-benar membuatnya terluka. Hana tak memperdulikan lagi ponselnya yang sudah mati sejak sore tadi. Saat ini hati dan pikirannya benar-benar kacau. Hana sendiri tidak tahu bagaimana menyembuhkan kekacauan di hidupnya mulai hari ini yang disebabkan oleh sosok cinta pertamanya.


*


"Mama... ayo makan." Hana menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk ke depan mulut Mama Rita.


Mama Rita menggeleng lemah. "Mama tidak berselera, Hana." Menatap Hana dengan wajah sendunya.


Hana menurunkan sendoknya. Kembali menatap Mamanya dengan wajah tersenyum. "Mama tidak boleh seperti ini. Mama harus makan. Jika Mama tidak makan maka Mama akan sakit. Hana benar-benar tidak sanggup melihat Mama bertambah sakit. Ayo kita makan, Ma. Jangan perlihatkan pada Papa jika Mama hancur setelah kepergiannya. Kita harus menunjukkan jika kita bisa tanpanya." Hana menggenggam erat tangan Mama Rita yang terkepal di atas meja.


Mama Rita menatap Hana dengan perasaan bersalahnya.


Mama Rita menangis dalam diam. Ia peluk putri sematawayangnya yang selama ini selalu menjadi sumber kekuatan untuknya untuk mempertahankan rumah tangganya dan untuk hidup.


"Mama sangat menyayangimu Hana... maafkan Mama..." Mama Rita membalas pelukan Hana lalu memberikan ciuman cukup lama di kening Hana.


"Sekarang kita makan, ya?" Tawar Hana.


Mama Rita mengangguk lemah. Walau pun tidak berselera, namun ia tetap menerima suapan dari putrinya. Bayangan perselingkuhan suami yang masih sangat dicintainya itu kembali berputar di benaknya hingga membuat air matanya kembali mengalir dengan deras.


Hari itu Hana memilih tidak menghidupkan ponselnya dan pergi ke kampus. Ia hanya ingin berada di samping Mamanya yang tengah terluka hatinya sama seperti dirinya.


"Mama harus ingat. Mulai saat ini lupakan Papa. Lupakan segala kenangan indah bersama Papa. Dan mulai saat ini ayo kita lewati hari yang baru berdua. Mama harus ingat ada Hana yang sangat menyayangi Mama." Hana mengecup kening Mama Rita.


Walau pun belum siap kehilangan Papa dan jauh dari Papa dengan cara seperti ini, namun aku harus siap. Aku harus menjadi penguat dan pelindung di hidup Mama. Biarkan saja Papa hilang dari hidupku asal jangan Mama. Hana menatap wajah wanita yang telah melahirkannya dengan air mata yang tanpa terasa sudah mengalir di kedua pipinya.


***


Lanjut lagi? Untuk lanjut ke bab berikutnya, ayo berikan dukungan teman-teman dulu yuk dengan cara like, komen dan votenya. Teman-teman juga bisa memberikan gift dalam bentuk poin loh🌹