Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tiada pilihan lain


"Sebagai laki-laki kau tahu jelas dengan tanggung jawab bukan? Dan Papa harap kau melakukannya atas kesalahanmu saat ini." Tekan Papa Indra kemudian.


"Tapi bukan menikah sebagai jalan keluarnya Pah!" Dika masih berusaha menolak perintah Papanya.


"Apa kau tidak memikirkan efek buruk pada wanita itu nantinya? Dia pasti akan mendapatkan kecaman dari orang sekitarnya jika masalah ini tersebar luas nantinya." Papa Indra berusaha menggoyahkan pertahanan Dika.


Dan benar saja. Beberapa detik berlalu Dika nampak berpikir keras efek dari kejadian ini untuk kedepannya. Apa lagi ada orang lain yang mengetahui dirinya masuk ke kamar Hana yang belum berstatus sebagai istrinya.


"Papa benar, kau harus menikahinya atau kau jangan lagi menganggap Mama sebagai orang tuamu. Mama benar-benar malu memiliki anak yang tidak mau bertanggung jawab seperti dirimu." Ucap Mama Puspa tiba-tiba.


Dika memutar kepalanya ke belakang dan dibuat terkejut melihat Mama Puspa sudah duduk di sofa ruang kerja Papanya. Entah kapan Mamanya itu masuk ke dalam ruangan, apa pembicaraannya dan Papa Indra terlalu tegang hingga tak menyadari sosok ibunya masuk ke dalam ruangan?


"Sekarang pergilah. Pikirkan baik-baik ucapan Papa. Jika kau masih menganggap Papa dan Mama sebagai orang tuamu, maka nikahi dia secepatnya!" Titah Papa Indra dengan tegas.


Dika mengusap kasar wajahnya lalu bangkit dari kursi. Tanpa berucap satu kata pun lagi, Dika berjalan untuk keluar dari ruangan kerja Papa Indra.


"Dan ingat. Nikahi wanita itu dalam minggu ini." Ucap Mama Puspa tak kalah tegas hingga membuat langkah Dika terhenti. Dika menghela nafas panjang dan berusaha untuk tidak lagi membantah ucapan kedua orang tuanya karena ia sadar dengan kesalahannya yang sangat fatal kali ini.


"Apa kita tidak terlalu keterlaluan pada Dika, Pah?" Tanya Mama Puspa sambil berjalan ke arah meja suaminya.


Mama Puspa mengangguk menyetujui. "Lagi pula Mama tidak ingin Dika terlalu lama melajang. Umur kita sudah tua dan Mama sudah sangat menginginkan cucu dari Dika." Ucap Mama Puspa penuh harap.


*


"Sialan! Bagaimana bisa aku melakukan hal seceroboh itu tadi malam!" Dika nampak memukul stir mobil tak bersalah di depannya. Setelah keluar dari ruang kerja Papa Indra, Dika memang memutuskan untuk pulang ke apartemennya dan membatalkan niatnya yang ingin menginap di rumah orang tuanya.


Dika pun teringat pada kejadian tadi malam yang menurutnya ada kejanggalan. "Minuman itu... aku yakin ada seseorang yang ingin menjebakku!" gumam Dika. "William..." Dika pun teringat pada satu nama yang mulai dicurigainya.


Tak ingin larut dalam kecurigaannya, Dika pun segera melajukan mobilnya menuju apartemennya. Saat ini ia harus memikirkan cara agar kedua orang tuanya tak lagi marah padanya dan memikirkan cara agar keluar dari masalah yang sedang ia hadapi.


Tak berbeda jauh dengan Dika yang sedang frustasi akan masalahnya, Hana pun turut merasakan hal yang sama. Wanita itu kini nampak sedang gelisah di dalam apartemennya memikirkan akibat dari perbuatannya yang mungkin akan berefek pada pekerjaannya mengingat kedua orang tua Dika adalah orang yang cukup berpengaruh di kotanya.


***


Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹