
Hana mengangkat wajahnya yang basah. Menatap pada wajah Dika yang nampak mencemaskan keadaannya. "Perduli apa kau terhadapku?" Hana menjauhkan tangkai payung di tangan Dika dari wajahnya hingga kini tubuhnya kembali basah terkena air hujan.
"Hana!" Dika menggeram. Kembali memayungkan tubuh Hana.
Hana kembali mencoba menjauhkan payung dari atas kepalanya namun Dika menahannya.
"Aku ingatkan kepadamu, Dika. Kau tidak perlu repot-repot memperdulikan keadaanku! Aku sudah dewasa dan aku tahu mana yang baik untuk diriku. Lagi pula kau hanya pacar bohongan yang aku ciptakan. Jadi jangan bersikap seolah-olah kau adalah kekasih sungguhanku!" Ucap Hana menatap tajam pada Dika.
Dika terdiam. Membalas tatapan Hana tak kalah tajam setelah Hana mengatakan hal yang membuat dadanya bergemuruh.
Melihat diamnya Dika, Hana pun menggunakakan kesempatan itu untuk memundurkan motornya.
"Kau ingin kemana? Hujan masih sangat deras dan kau bisa sakit! Ayo masuk ke dalam mobilku, aku akan mengantarkanmu pulang." Dika menahan lengan Hana.
Hana pun dengan kasar menghempaskan tangan Dika dari lengannya. "Kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan keadaanku!" Cetus Hana lalu menancap gas motornya hingga Dika tak dapat lagi menahannya.
Di bawah guyuran air hujan, Hana terus melajukan motornya walau tubuhnya sudah basah keseluruhan. Bayangan kejadian beberapa menit yang lalu bagaimana Dika terlihat begitu cemas dengan keadaannya selalu berputar menemai perjalanannya pulang.
"Kau tidak perlu berpura-pura perhatian jika hanya untuk membuatku terjatuh pada pesonamu." Hana tersenyum sinis. Tangannya pun semakin menambah laju kecepatan motornya saat guyuran hujan semakin deras membasahi tubuhnya.
Tak jauh dari motor Hana melaju, mobil milik Dika nampak mengikuti motor Hana.
"Wanita keras kepala! Bagaimana bisa dia tetap melanjutkan perjalanan sedangkan hujan sangat deras seperti ini!" Dika menggeram. Mencengkram erat kemudinya saat mengingat penolakan Hana dan bagaimana Hana memintanya untuk tidak lagi memeprhatikan dirinya.
Lima belas menit mengikuti Hana dari kejauhan, Dika pun menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Hana.
"Kau benar-benar keras kepala!" Dika menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak, selama dalam perjalanan tadi Hana nampak ngebut membawa motornya di tengah hujan deras tanpa memperdulikan keselamatannya. Untung saja wanita itu selamat sampai di rumahnya hingga Dika dapat menarik nafas lega.
Setelah memastikan Hana masuk ke dalam rumahnya, Dika pun melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan rumah Hana menuju apartemennya.
*
Pagi itu Hana berangkat ke kampus dengan kondisi tubuh tidak fit. Walau pun sudah merasakan jika tubuhnya terasa demam sejak tadi malam, namun Hana tetap memaksakan untuk masuk kuliah karena hari ini ada ujian yang harus ia ikuti.
"Hana, apa kau oke?" Tanya Amel saat melihat wajah pucat Hana.
Hana menganggukkan kepalanya. "Sedikit oke. Kepalaku sungguh sakit dan tubuhku terasa demam." Balas Hana lalu memeluk tubuhnya yang mulai kedinginan.
"Kenapa kau bisa demam?" Tanya Amel dengan wajah yang sudah berubah cemas.
"Hanya hujan-hujanan di jalan kemarin sore." Balas Hana apa adanya.
"Astaga Hana... apa kau tetap menerjang hujan lebat kemarin sore sampai di rumahmu?" Tanya Amel.
Hana menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Astaga, Hana... Hana..." Amel menggelengkan kepalanya. Merasa tak habis pikir dengan tindakan Hana.
Dari kursi depan, Dika yang sejak tadi mencuri dengar pembicaraan Amel dan Hana nampak menghela nafas panjang saat mengetahui efek keras kepala Hana membuatnya jadi sakit saat ini.
***
Lanjut?
Mohon berikan dukungan untuk karya shy dengan cara like, komen dan votenya. Teman-teman juga bisa memberi gift dalam bentuk poin🥰
Semakin banyak dukungannya, shy semakin semangat melanjutkan ceritanya. Hehe☺️