
"Katakan ada apa dengan Papa Hana?" Tanya Dika. Melihat wajah Gerry yang terlihat tegang membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi.
"Bisa kita bicara di tempat lain saja?" Tanya Gerry. Posisi mereka yang kini berada di lobby membuat Gerry merasa tidak enak untuk membahas apa yang terjadi.
Dika mengangguk paham lalu berjalan ke arah ruangan yang berada tidak jauh dari mereka berdiri. Setelah masuk ke dalam ruangan Dika pun menutup pintu agar tidak ada yang mencuri dengar percakapan di antara mereka.
"Jadi bisa kau jelaskan ada apa ini?" Tanya Dika.
Gerry menghela nafasnya sesaat sebelum berbicara. "Saat dalam perjalanan menuju perusahaan tadi aku melihat kecelakaan tunggal." Ucap Gerry.
"Kecelakaan tunggal?" Tanya Dika. Otaknya pun mulai berpikir apa maksud ucapan Gerry saat ini.
"Ya. Dan kau tahu siapa yang terlibat dalam kecelakaan tunggal itu?" Tanya Gerry dengan wajah semakin tegang.
Wajah Dika pun turut tegang. "Apa maksudmu? Siapa yang terlibat dalam kecelakaan tungga itu?" Tanya Dika tak sabar.
"Papa mertuamu Dika. Papa dari Hana." Ucap Gerry sedikit pelan.
Deg
Jantung Dika berdetak begitu cepat mendengar informasi mengejutkan yang baru saja ia dengar. Pun dengan Gerry yang sampai saat ini masih merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya beberapa menit yang lalu. Walau sudah lama tidak melihat wajah Papa Hana namun Gerry masih mengingat jelas bagaimana wajah dari ayah mertua Dika itu.
"Aku sempat turun dari dalam mobil untuk melihat bagaimana keadaan korban yang dapat aku pastikan adalah Papa dari Hana." Gerry menjeda ucapannya sejenak. Sedangkan masih terdiam menunggu lanjutan ucapan Gerry. "Melihat kondisinya tadi aku tidak yakin mertuamu dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Gerry.
Dika menatap tajam pada Gerry. "Apa maksud ucapanmu? Katakan dengan jelas!" Tekan Dika.
"Baiklah. Terimakasih atas info yang kau berikan." Dika hendak keluar dari dalam ruangan namun tangan Gerry menahan pergerakannya.
"Bujuklah istrimu agar mau menemui Papanya. Bagaimana pun juga dia tetap ayah kandung dari Hana. Tidak ada mantan Ayah di dunia ini. Dan jangan sampai Hana menyesal karena lebih mementingkan egonya." Pesan Gerry mengingat betapa kerasnya Hana yang tidak ingin bertemu dengan Papanya lagi.
Dika mengangguk paham lalu melepas cekalan tangan Gerry di tangannya. Setelahnya ia pun berlari ke arah mobilnya yang masih terparkir di depan lobby karena tadi Gerry sempat menahan security yang ingin memarkirkan mobil Dika.
"Agh, sial!" Dika kembali turun dari dalam mobilnya saat mengingat sesuatu.
"Ada apa lagi?" Tanya Gerry melihat Dika kembali masuk ke dalam perusahaannya.
"Aku lupa mengabari asistenku untuk membatalkan rapat hari ini." Balas Dika cepat.
"Tidak perlu memikirkannya karena aku baru saja telah menghubungi asistenmu. Sekarang pergilah!" Titah Gerry.
"Terimakasih." Balas Dika lalu kembali berlari ke arah mobilnya.
Dalam perjalan pulang ke rumahnya Dika menyempatkan untuk menghubungi orang kepercayaannya di rumah sakit untuk menanyakan kebenaran informasi yang diberikan Gerry. Setelah mendapatkan jawaban yang sesuai dengan ucapan Gerry serta kondisi mertuanya yang tidak baik-baik saja membuat Dika menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumahnya.
***
Hai teman-teman setia BSM, tidak terasa ya sebentar lagi kita akan berpisah di cerita Hana dan Dika. Setelah ini kita akan masuk ke babak cerita Rey dan Ayura yang akan terbit di buku baru Shay ya...
Silahkan tinggalkan jejak komentar jika merasa masih ada yang kurang dari cerita ini ya🤗