
"Dokter ingin memesan apa?" Tanya Fitri saat mereka telah duduk di salah satu meja yang berada tidak terlalu jauh dari pintu cafe.
"Tunggu sebentar." Balas Hana lalu melihat satu persatu menu yang menggugah seleranya. "Sepertinya ayam bakar madu cukup membuat moodku baik siang ini." Ucap Hana sambil membayangkan bentuk ayam bakar madu yang nantinya akan masuk ke dalam mulutnya.
Fitri tersenyum tipis lalu mengangguk menyetujui. "Apa Dokter ingin memesan yang lain lagi?" Tawar Fitri.
"Sup iga saja!" Timpal Arka.
Hana bertepuk tangan. "Kak Arka benar. Sup iga!" Sahut Hana.
Dan lagi Fitri tersenyum lalu menuliskan pesanan mereka di kertas pesanan. Setelah cukup menulis makanan dan minuman yang mereka inginkan, Fitri pun beranjak untuk memberika kertas pesanannya ke meja kasir.
"Kak Arka benar meminta izin suamiku tadi untuk pergi ke sini?" Tanya Hana pada Arka.
Arka menghentikan aktivitasnya yang sedang bermain ponsel. "Ya. Tadi aku sempat meminta izin pada Dika untuk mengajakmu makan siang bersama." Balas Arka.
"Lalu apa jawaban suamiku?" Tanya Hana yang cukup penasaran dengan reaksi Dika. Terlebih Hana tahu jika Dika cukup memendam rasa cemburu pada Arka.
"Awalnya dia nampak ragu. Namun setelah aku menjelaskan jika Fitri juga ikut akhirnya dia mengizinkannya." Terang Arka.
Hana mengangguk paham. Tak lama Fitri pun telah kembali ke meja mereka. "Dokter Hana, apa tadi Dokter melihat Dokter Gia dan Dokter Yuni masuk ke dalam resto ini?" Tanya Fitri setelah mendaratkan bokongnya di kursinya kembali.
Hana mengangkat kepalanya lalu menggeleng. "Tidak. Aku tidak ada melihat keberadaan mereka. Memangnya dimana kau melihat keberadaan mereka?" Tanya Hana kembali.
"Di sana." Fitri menunjuk salah satu meja yang berada tidak terlalu jauh dari mereka. "Namun setelah aku kembali dari kasir mereka tidak terlihat lagi." Jelas Fitri.
"Oh seperti itu. Ya sudah biarkan saja. Toh mereka juga berhak makan di tempat ini bukan?" Balas Hana tersenyum.
Fitri ikut tersenyum lalu mengangguk menyetujui ucapan Hana.
Beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan mereka pun telah tersaji di atas meja. Tanpa menunggu lama, Hana pun segera menyantap ayam bakar yang sejak tadi menggugah seleranya.
"Pelan-pelan, Hana. Tidak ada yang ingin merebut makananmu." Tegur Arka melihat Hana makan dengan terburu-buru.
Hana tersenyum lalu kembali melanjutkan memakan makannnya dengan lebih pelan. Setelah dua puluh menit menikmati santapan makan siang mereka, akhirnya makan siang mereka pun selesai.
"Apa Dokter ingin saya temani?" Tawar Fitri.
Hana menggeleng. "Tidak perlu. Lagi pula saya sudah dewasa dan tidak perlu ditemani lagi." Seloroh Hana.
Fitri tersenyum lalu menggangguk menyetujui. Setelahnya Hana pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Hai, Hana." Mendengar suara seorang wanita yang sangat dikenalinya membuat Hana yang hendak masuk ke dalam toilet menghentikan niatnya.
"Dokter Gia? Dokter Yuni?" Hana menampilkan senyum manisnya pada dokter seniornya.
Bukannya membalas senyuman Hana, Gia dan Yuni justru menatap Hana dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Hana yang menyadari maksud ekspresi kedua rekan kerjanya.
"Ada hubungan apa kau dengan Dokter Dika?" Tanta Gia tanpa menjawab pertanyaan Hana.
Kening Hana mengkerut. "Kenapa anda bertanya seperti itu?" Tanya Hana merasa bingung.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.