
"Bagaimana?" Tanya Gerry saat Rania sudah kembali dari ranjang melihat keadaan Hana.
"Aman. Sekarang ayo bawa Dika masuk." Ucap Rania.
William dan Gerry mengangguk lalu membopong Dika ke arah ranjang. Dengan hati-hati mereka menidurkan Dika tepat di sampin Hana.
"Sekarang kau buka kancing bajunya!" Titah Gerry pada William.
"Kenapa tidak kau saja?" Protes William.
"Kau kan lebih dekat dengan Dika." Balas Gerry.
"Alasan saja!" Rutuk William lalu segera menanggalkan beberapa kancing baju Dika.
"Ayo keluar sebelum mereka bangun!" Titah Rania memasang wajah cemasnya.
"Tidak perlu cemas begitu sayang. Mereka akan tertidur pulas sampai besok pagi dan tidak akan terbangun dengan kondisi apa pun." Balas William.
"Apa itu benar?" Rania masih cemas.
"Tentu saja benar." Balas William meyakinkan.
"Sudahlah. Ayo keluar. Biarkan mereka melakukan testimoni tidur di ranjang yang sama sebelum halal beberapa hari lagi." Ajak Gerry.
William dan Rania mengangguk menyetujui. Sebelum benar-benar keluar dari kamar Hana, Rania kembali memastikan Hana tidur dengan nyaman di posisinya.
Semoga saja ide gila mereka berjalan dengan lancar. Ucap Rania dalam hati lalu dengan pelan menutup pintu kamar Hana.
*
"Dika, apa-apaan ini!" Suara Mama Puspa yang terdengar cukup nyaring hingga memekakkan telinga membuat Dika dan Hana yang masih tertidur pulas dalam posisi berpelukan terjaga.
"Dika...!!" Hana dibuat terkejut saat membuka matanya melihat wajah Dika yang kini tepat berada di depan dadanya.
Dika pun tak kalah terkejut. Ia pun sontak menjauhkan tubuhnya dari tubuh Hana.
"Dika!! Apa-apaan ini!" Seru Mama Puspa dengan suara yang lebih keras hingga kini perhatian Dika dan Hana teralihkan pada Mama Puspa yang kini menatap berang ke arah mereka.
"Dika, apa-apaan ini? Kenapa kau bisa tidur bersama seorang wanita yang belum menjadi istrimu di kamar ini!" Bentak Papa Indra yang berhasil membuat Dika terkesiap.
Dika mengalihkan pandangannya pada Hana yang kini tengah ketakutan sambil merapikan bajunya yang berantakan.
"Kenapa kau ada di dalam kamarku!" Bentak Dika pada Hana tanpa memperdulikan ucapan Papa Indra.
Hana menggelengkan kepalanya. "Ini kamarku." Balasnya dengan pelan. Tubuhnya nampak bergetar menahan rasa takutnya saat ini.
"Dika jawab pertanyaan Papa!" Bentak Papa Indra untuk yang kedua kalinya.
Dika menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Pandangannya pun jatuh pada William yang kini memasang wajah terkejutnya.
"Will, kenapa wanita ini ada di dalam kamarku?" Tanya Dika dengan tatapan tajamnya.
"Dika, kau salah. Ini adalah kamar Hana dan bukan kamarmu. Kamarmu berada di kamar nomor 306." Jelas William.
Wajah Dika nampak tegang setelah mendengar ucapan William.
"Rapikan pakaianmu Dika. Kau sungguh memalukan!" Bentak Mama Puspa dengan mata berkaca-kaca.
"Mama..." lirih Dika.
"Rapikan pakaianmu!" Bentak Papa Dika untuk ketiga kalinya.
Dika menurutinya. Ia dapat menangkap jika kedua orang tuanya benar-benar marah saat ini.
Agh sial! Kenapa aku bisa masuk ke dalam kamar Hana! Dika pun mengingat-ingat kejadian tadi malam namun ingatannya terhenti pada saat ia sudah keluar dari dalam lift dan berjalan menuju kamarnya.
"Rania..." Hana yang merasa ketakutan dan gugup pun memanggil Rania yang kini memasang wajah tak percaya ke arahnya.
"Hana..." lirih Rania lalu menggelengkan kepalanya.
***
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹