Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Dia pasti melihatnya


Wajah Hana kembali memucat. Membayangkan bagaimana ia tercebur ke dalam kolam renang membuat tubuhnya bergetar.


"Kau kenapa?" Tanya Dika yang dapat menangkap rasa takut Hana saat ini.


"A-aku..." Hana tak dapat menjawab. Ia hanya bisa melanjutkan ucapannya dengan menggelengkan kepalanya.


Melihat tubuh Hana yang semakin bergetar, Dika pun segera menyambar minuman yang ada di atas nakas lalu memberikannya pada Hana.


"Duduklah dan minumlah." ucap Dika dengan datar.


Hana menurutinya. Setelah meneguk air minum yang diberikan Dika hingga tandas, Hana pun menutup kedua matanya lalu menghela nafas panjang. "Terimakasih." Ucapnya menatap Dika setelah merasa sudah cukup tenang.


"Jangan mengingatnya jika kau takut." Ucap Dika tanpa membalas ucapan Hana. Walau pun tidak tahu arti dari rasa takut Hana, namun Dika bisa menebak jika Hana memiliki rasa trauma dengan air kolam.


Hana mengangguk. "Dimana Amel?" tanyanya sambil memperhatikan sekitar."


"Sebentar lagi dia akan datang."


"Memangnya dia kemana?" Tanya Hana merasa bingung.


"Dari pada kau banyak bertanya, lebih baik sekarang kau sarapan." Titah Dika merasa percuma saja menjelaskannya pada Hana.


Wajah takut Hana seketika berubah menjadi masam. "Kau belum menjawab pertanyaanku!" Cetus Hana tanpa mengiyakan ucapan Dika.


Dika menulikan telinganya. Kakinya pun segera melangkah keluar dari dalam kamar.


"Apa kau tuli? Kau belum menjawab pertanyaanku! Dimana Amel?" Hana yang masih penasaran bertanya kembali.


"Makanlah." Titah Dika dengan wajah dinginnya menunjuk sepiring nasi goreng di depannya.


Hana mengikuti arah pandangan Dika. "Kau yang memasaknya?" Tanya Hana namun tak mendapatkan jawaban dari Dika. Merasa darahnya semakin mendidih dengan diamnya Dika, Hana pun memilih untuk duduk di meja makan lalu mulai memakan nasi goreng di depannya.


Sedangkan Dika memilih untuk keluar dari dalam dapur setelah memastikan Hana memakan nasi goreng buatannya.


"Jika tidak mengingat dia telah menologku tadi malam, ingin sekali aku sumpal mulutnya itu dengan kaos kaki!" Gerutu Hana sambil mengunyah makanannya.


*


Di dalam kamarnya, Dika menatap pemandangan kota dari jendela kamarnya yang terbuka. Ingatannya pun melayang pada kejadian tadi malam bagaimana Hana dengan beraninya mencium bibirnya. Walau pun Hana hanya menempelkan bibirnya sana, namun Dika sudah dapat merasakan bagainana lembutnya bibir wanita itu.


"Dia benar-benar gila!" Gumam Dika sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit. Kelakuan Hana beberapa hari belakangan ini cukup membuat hidup tenangnya terusik. Bagaimana tidak, setiap harinya Dika selalu mendapat pertanyaan dari teman-temannya di kampus yang menanyakan kebenaran hubungannya dan Hana. Karena ia selalu diam tanpa berniat menjelaskan kebenaran hubungan mereka, menyebabkan teman-temannya selalu mempertanyakan hal yang sama setiap harinya. Dan kejadian tak terduga tadi malam, Dika tak bisa membayangkan kehebohan di kampusnya senin besok.


Di luar kamarnya, Hana yang sudah menghabiskan makanannya tiba-tiba terpekik menyadari saat ini ia tidak menggunakan pakaian dalam sama sekali.


"Aaa...Bagaimana ini. Kenapa Amel tidak memakaikan pakaian dalamku tadi malam?" Hana menutup dadanya dengan kedua tangannya. "Dika... Dika pasti melihat bagaimana bentukku jika tidak memakai pakaian dalam." Seru Hana. Bagaimana tidak, saat ini ia memakai kaos putih milik Dika yang sudah pasti menerawang dan menampilkan bentuk dalam tubuhnya.


"Tapi jika dia melihatnya, kenapa tadi wajahnya terlihat biasa-biasa saja?" Ucap Hana bertanya-tanya.


***


lanjut? Berikan komen, like dan votenya dulu yuk.