
"Mama..." Dika mengangguk lalu mengarahkan pandangan pada Papa mertuanya yang sedang terbaring di atas ranjang.
Mama Rita melangkah dengan ragu dan tubuh bergetar mendekat ke arah ranjang. Sontak saja istri dan anak tiri dari Papa Rauf menjauh memberi ruang untuk Mama Rita.
"Rita... aku mohon maafkan kesalahan aku dan Rauf selama ini." Ucap istri dari Papa Rauf sambil terisak.
Mama Rita tak memperdulikan istri dari mantan suaminya itu dan lebih memilih menatap Papa Rauf yang kini sedang menatapnya.
"Ri-rita..." ucap Papa Rauf terbata.
Mama Rita semakin mendekatkan tubuhnya. Tiada kebencian yang ia bawa masuk ke dalam ruangan saat hatinya merasakan firasat buruk selama dalam perjalanan tadi.
"A-apa ada hal yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Tanya Mama Rita pelan dan sedikit terbata di telinga Papa Rauf.
"Ma-maaf." Ucap Papa Rauf terbata dan tidak jelas.
Tubuh Mama Rita menegang mendengarkan ungkapan maaf yang baru pertama kalinya ia dengar dari mulut pria yang sangat dicintainya itu sejak perselingkuhan yang ia lakukan beberapa tahun lalu.
Hembusan nafas Papa Rauf pun terdengar tak beraturan. Sekuat mungkin Mama Rita menahan air matanya agar tidak keluar melihat kondisi mantan suaminya yang sedang sekarat.
"Kak Rauf... aku sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf kepadaku. Aku sudah belajar melupakan rasa sakit dan pahit akibat perselingkuhanmu dan belajar menerima jalan yang sudah menjadi takdirku." Bisik Mama Rita di telinga Papa Rauf. Air mata yang sejak tadi Mama Rita tahan pun akhirnya tumpah sudah saat melihat reaksi dari tubuh Papa Rauf setelah mendengarkan ungkapan hatinya.
"Tiada dendam dan sakit yang kini aku rasakan. Aku sudah berdamai dengan keadaan dan menjalani hari-hariku dengan baik." Ucap Mama Rita dengan terisak.
"Ha-hana..." sebuah nama yang sejak tadi sulit terucap di bibir Papa Rauf pun akhirnya keluar.
"Maaf jika Hana belum bisa datang menemuimu." Ucap Mama Rita dengan pelan.
"Papah..." istri Papa Rauf mendekat ke arah ranjang saat melihat tubuh suaminya tiba-tiba kejang.
"Mama, Tante, maaf, silahkan keluar dulu." Ucap Dika dengan tegas. Dika beserta dokter yang menangani Papa Rauf pun mendekat untuk mengambil tindakan.
"Papah..." istri dan anak tiri Papa Rauf meraung memanggil nama Papa Rauf.
Sedangkan Mama Rita memilih untuk lebih dulu meninggalkan ruangan karena merasa tidak sanggup melihat keadaan Papa Rauf saat ini.
"Kak Rauf... aku mohon bertahanlah." Ucap Mama Rita seraya mengatupkan kedua tangannya. Air mata Mama Rita pun semakin mengalir dengan deras saat merasakan sesuatu yang buruk semakin dekat kepadanya.
Istri dan anak Papa Rauf yang baru keluar dari dalam ruangan ICU nampak menangis terisak sambil terus memanggil nama Papa Rauf.
"Papah... bertahanlah..." istri Papa Rauf semakin terisak saat berada di dalam pelukan anaknya.
Mama Rita memilih menjauh dari istri dan anak tiri Papa Rauf. Mama Rita tak henti memanjatkan doa selama menunggu dokter dan menantunya selesai memeriksa kondisi Papa Rauf.
Setelah beberapa menit menunggu, Dika pun keluar lebih dulu dari dalam ruangan diikuti seorang dokter lain di belakangnya.
"Dokter Dika... bagaimana keadaan suami saya?" Tanya istri Papa Rauf dengan berderai air mata.
***
Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yuk.
Sambil menunggu BSM update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Takdir Setelah Perpisahanš¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.