
Di dalam kamarnya Liza terlihat mengepalkan kedua tangannya saat mengingat bagaimana sikap hangat Dika pada Hana saat berada di depannya. "Aku yakin dan percaya jika pernikahan mereka terjadi bukan karena keinginan Dika walau sampai saat ini aku belum mendapatkan bukti yang sebenarnya." Geram Liza.
Darahnya selalu dibuat mendidih jika mengingat sikap Dika pada Hana jika di depannya. "Bagaimana bisa Dika bersikap hangat seperti itu sedangkan dia sudah sangat sakit hati dengan pengkhianatan wanita ja-lang itu dulu!" Liza dibuat tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya. Terlebih apa yang ia harapkan setelah perpisahan Hana dan Dika beberapa tahun lalu tak kunjung tercapai.
"Jika terus begitu aku akan sulit untuk mendapatkan Dika. Percuma saja aku bersusah payah merayu Mama dan Papa agar menginap di rumah Dika selama rumah kami direnovasi." Liza mengusap kasar rambutnya ke belakang.
Ia sungguh dibuat frustasi karena tidak ada satu kesempatan pun yang bisa membawanya dekat dengan Dika dan usahanya bisa berujung sia-sia. Selain Dika selalu berupaya menjarak darinya, waktunya pun sudah semakin singkat mengingat dalam seminggu ini dia sudah harus kembali ke rumah barunya.
"Hana... aku tidak akan membiarkanmu bahagia!" Ucapnya dengan tatapan berubah nyalang.
*
Pukul lima pagi Hana sudah disibukkan menyiapkan pakaian yang akan dipakai Dika untuk berangkat ke luar kota dan menyiapkan sarapan untuk Dika sebelum berangkat dengan dibantu Mama Puspa. Setelah memastikan semuanya telah siap, Hana pun kembali ke dalam kamar untuk melihat apakah Dika sudah selesai bersiap atau belum.
"Apa kau sudah siap?" Hana mendekati Dika yang tengah memasang jam tangan di pergelangan tangannya.
Dika mengangguk tanpa bersuara. Setelah selesai memakai jam di tangannya, Dika pun mengambil kopernya yang ia letakkan di samping ranjang. "Ayo keluar. Gerry sudah dalam perjalanan kemari." Ucap Dika.
Hana mengangguk lalu mengikuti langkah Dika keluar dari dalam kamarnya.
*
Tak lama setelah Dika memakan sarapan paginya, Gerry nampak masuk ke dalam rumah diikuti Asisten Jimmy di belakangnya.
Gerry tersenyum tipis. "Hai, Hana..." balas Gerry. Pandangan Gerry pun beralih pada Dika. "Apa kau sudah siap?" Tanya Gerry.
Dika mengangguk. "Ayo berangkat." Ajak Dika.
Gerry mengangguk. Ia pun segera berpamitan pada Mama Puspa dan Papa Indra yang baru saja turun dari lantai dua. Setelahnya mereka pun berjalan ke keluar dari rumah.
"Kau tidak ingin mencium kening istrimu sebelum berangkat?" Tanya Gerry saat Dika hendak masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada Mama Puspa dan Papa Indra.
Dika seketika menatap tajam pada Gerry.
"Gerry benar. Apa kau tidak ingin mencium kening istrimu lebih dulu?" Timpal Papa Indra.
Dika menghela nafasnya. Lalu berjalan mendekat kepada Hana yang terlihat gugup. "Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." Ucapnya lalu mengecup kening Hana seraya mengelus rambutnya.
Hana tertegun. Kedua bola matanya nampak berkaca-kaca mendapat perlakuan hangat dari Dika. Dika hendak membalikkan tubuhnya namun Hana sudah lebih dulu menahannya dengan memeluk erat tubuhnya.
"Hati-hati di jalan dan cepat kembali." Lirihnya sambil mempererat pelukannya. Air matanya mengalir begitu saja hingga membasahi baju kemeja yang dikenakan Dika.
Dika turut tertegun. Tangannya pun terulur mengelus punggung Hana lalu mengusap rambutnya. "Aku tidak akan lama." Balasnya yang turut terbawa suasana.
***