
Keesokan harinya.
Hana, Amel dan Anin terlihat tengah terlibat dalam percakapan serius di ruang tamu rumah Hana pagi itu. Setelah menitipkan anak-anak mereka pada suami masing-masing, Amel dan Anin pun langsung mengajak Hana bercerita tentang apa yang dialami Hana beberapa hari yang lalu.
"Jadi mereka memang berniat mencelakaimu?" Suara Amel terdengar sangat nyaring setelah Hana menceritakan kejadian yang hampir membuatnya dan anaknya celaka saat di cafe beberapa hari yang lalu.
Hana mengangguk. "Aku juga tidak menyangka mereka sampai berniat buruk padaku hanya karna terobsesi dengan Dika." Balas Hana.
Amel dan Anin menghembuskan nafas kasar di udara. "Kau bukan seperti Hana yang dulu. Dimana letak sisi kebar-baranmu, Hana? Aku taku kau bukanlah wanita yang mudah ditindas!" Gerutu Amel merasa geram pada sikap sahabatnya saat ini yang terbilang berbeda jauh dengan sikapnya beberapa tahun yang lalu.
"Aku diam bukan berarti tidak berani untuk melawan. Aku hanya takut perlawananku nantinya justru akan membuat anakku celaka." Jelas Hana.
"Lalu bagaimana dengan Liza? Kau juga sangat lamban untuk melawannya." Timpal Anin.
Hana menarik nafas sesaat. "Aku hanya menghargainya sebagai anak dari sahabat Mama Puspa. Lagi pula aku tidak memiliki bukti cukup kuat untuk melawannya saat itu." Balas Hana.
Amel dan Anin saling pandang lalu menghembuskan nafas bersamaan. "Sudahlah... yang terpenting untuk saat ini dan selanjutnya jangan lagi kau merasa takut pada siapa pun. Kau tahu jelas jika Dika akan selalu menjadi tameng untukmu dan akan melindungimu dari hal apa pun itu." Ucap Amel tak ingin lagi menyalahkan kecerobohan Hana.
"Ya. Aku akan mengusahakannya." Balas Hana seadanya.
"Tapi apa Liza tidak ada lagi datang menemuimu untuk hanya sekedar mengganggumu?" Tanya Anin.
Hana menggeleng. "Semenjak hari itu aku tidak pernah lagi melihat keberadaannya." Balas Hana.
"Baguslah jika seperti itu. Semoga dia cepat sadar diri untuk tidak mengganggu sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya." Ucap Amel.
"Semoga saja." Balas Hana dan Anin bersamaan.
*
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus percaya pada Calvin atau percaya pada apa yang aku lihat?" Bianca mulai menangis sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit. Walau Calvin sudah menunjukkan bukti jika ia tidak pernah melakukan hal di luar batas dengan kekasihnya dulu, namun tetap saja hati Bianca terasa sakit melihat foto-foto kemesraan Calvin dengan mantan kekasihnya.
"Mom..." mendengar suara Cilla dari ambang pintu kamarnya membuat Bianca segera mengusap pipinya yang basah. Setelahnya Bianca pun menatap ke arah pintu lalu tersenyum pada putrinya. "Cilla... ada apa?" Tanya Bianca.
Cilla berjalan masuk ke dalam kamar lalu mendekat pada Bianca. "Mom menangis lagi?" Tanya Cilla tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
Bianca menggeleng. Jawaban yang sangat berbeda jauh dengan apa yang dilihat Cilla saat ini. "Mom jangan menangis... ingatlah Daddy hanya menyangi Mom, Cilla dan adik." Ucap Cilla bak orang dewasa.
Bianca tertegun mendengarnya. Rasa sedihnya pun berubah menjadi rasa bersalah karena kini Cilla putrinya pun sudah mengetahui permasalahan di antara mereka.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.