Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Siapa yang mendorongnya?


Dika semakin mendekatkan tubuhnya hingga Hana semakin memundurkan tubuhnya. Hana menutup kedua matanya erat merasa semakin takut melihat tatapann Dika


"Jangan berkata sembarangan atau kau akan tahu akibatnya." Ucap Dika di wajah Hana hingga Hana dapat merasakan hembusan nafas pria itu di wajahnya. Dika pun menjauhkan tubuhnya lalu kembali ke tempat duduknya.


Merasa Dika sudah jauh darinya, Hana pun membuka kedua matanya. Pandangan Hana langsung tertuju pada Dika yang kini telah kembali fokus pada ponsel di tangannya.


Hana tak lagi berani berbicara atau pun mencecar Dika karena takut akan ucapan terakhir Dika yang belum dapat ia pastikan maknanya.


Mendengar bel apartemennya berbunyi, Dika pun segera bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu.


"Apa Amel sudah datang?" Gumam Hana lalu bangkit dari duduknya. Hana pun turut mengikuti langkah Dika menuju pintu apartemennya.


"Amel." Hana tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu Hana? Apa kau sudah baik-baik saja?" tanya Amel.


"Aku sudah baik-baik saja."


"Agh syukurlah. Kau membuat jantungku hampir lepas saja." Amel mengelus dadanya. "Aku membawa baju ganti untukmu. Apa kau sudah mandi?" Tanya Amel.


Hana menggeleng. "Aku baru saja bangun." Jelasnya.


Amel mengangguk paham. "Kalau begitu mandilah. Dan pakai ini." Menyerahkan paper bag ke tangan Hana.


"Apa kau..." Hana nampak ragu menerima paper bag di tangan Amel.


"Aku sudah membawanya." Ucap Amel mengerti maksud Hana.


"Tunggulah sebentar. Aku mandi dulu." Pamit Hana yang diangguki oleh Amel.


"Dika, terimakasih sudah menjaga Hana." Amel menatap pada Dika dengan tersenyum.


Dika menggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Duduklah." Titahnya dengan datar lalu melangkahkan Kakinya menuju sofa.


Dua puluh menit menunggu Hana membersihkan tubuhnya, akhirnya Hana pun keluar dengan menggunakan pakaian yang Amel bawakan.


"Apa kau mau memakai bedak?" Tawar Amel melihat wajah Hana yang tidak terpoleskan apa pun.


Amel merogoh tas selempangnya lalu mengeluarkan ponsel Hana.


"Sepertinya ponselmu kehabisan daya. Aku tidak mengeceknya kemarin." Ucap Amel sambil memberikan ponsel Hana.


"Tak masalah. Aku bisa mengecasnya di rumah nanti." Balas Hana.


"Apa kau ingin pulang?" Tanya Amel.


Hana mengangguk sebagai jawaban. "Ayo pulang sekarang. Mama dan Papaku pasti sudah berada di rumah sekarang." Ajak Hana. Hana pun mengalihkan pandnagannya pada Dika yang kini tengah menatapnya.


"Aku pamit pulang. Walau pun kau menyebalkan namun aku tetap berterimakasih atas bantuanmu tadi malam." Ucap Hana sambil mengelurkan tangannya padq Dika.


Dika tak menerima uluran tangan Hana, ia lebih memilih menatap tangan Hana yang kini dekat dengan tubuhnya.


Melihat Dika tak berniat menerima uluran tangannya, Hana pun menarik kembali tangannya lalu mendengus.


"Sama-sama." Balas Dika setelah melihat wajah masam Hana.


*


"Hana, kenapa kau bisa tiba-tiba jatuh ke kolam tadi malam?" Tanya Amel setelah mereka keluar dari apartemen Dika.


"Aku tidak mengingatnya dengan jelas. Namun aku ingat sebelum jatuh aku merasakan jika ada yang mendorong tubuhku dari belakang hingga aku tercembur ke dalam kolam."


Amel menghentikan langkahnya. "Apa kau tahu siapa yang mendorongmu?" Tanya Amel.


Hana menggeleng. "Aku tidak melihat siapa-siapa saat aku meminta tolong. A-aku sungguh takut."


"Sudahlah, jangan memikirkannya lagi. Aku akan mencaritahu siapa yang mendorongmu dan akan membuat perhitungan pada orang yang berniat mencelakaimu!" Ucap Amel merasa geram setelah mendengar penjelasan Hana.


***


Lanjut?