
"Di-dika... apa yang kau lakukan?" Hana tergagap. Perlakuan Dika benar-benar membuatnya terkejut.
"Memelukmu." Balas Dika apa adanya. Dika mengelus rambut Hana yang sudah tergerai. Dika tak melepas pelukannya dan terus membelai lembut rambut panjang Hana.
Mendapatkan perlakuan lembut dari Dika membuat Hana tanpa sadar membalas pelukan dari pria yang juga dirindukannya selama tiga hari belakangan ini.
Hana dan Dika terbuai dengan pelukan mereka masing-masing. Kedua mata mereka pun terpejam menikmati hangatnya pelukan yang mereka lakukan. Cukup lama Hana dan Dika berpelukan hingga Dika pun melepas pelukannya.
"Di-dika..." Hana kembali tergagap. Wajahnya nampak mulai memerah menahan malu sebab sudah begitu terbuai dengan pelukan yang Dika berikan.
"Kenapa kau menjauhiku?" Tanya Dika. Menatap intens wajah cantik Hana.
"A-apa maksudmu?" Tanya Hana merasa bingung.
"Kenapa kau menjauhiku akhir-akhir ini?" Tanya Dika mengulang pertanyaannya.
Hana terdiam. Ia sungguh tidak menyangka jika Dika merasakan perubahan sikapnya.
"A-aku..." Hana tertunduk. Melihat tatapan dingin Dika benar-benar membuatnya tak bisa berlama-lama menatap mata Dika.
Dika mengkat dagu Hana hingga kini Hana kembali menatap manik matanya.
"Katakan." Ucapnya lagi dengan nada lembut.
"A-aku tidak ingin kau semakin terbawa pada status palsu yang aku berikan. Aku tidak ingin menjadi pengganggu hubunganmu dengan wanita mana pun. Aku sadar siapa aku dan aku tidak ingin membuatmu berlama-lama merasa tidak nyaman berada dalam hubungan palsu kita."
"Hubungan dengan wanita mana yang kau maksud?" Tanya Dika.
Hana mengalihkan pandangannya ke samping. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Dika. "Hubunganmu dengan Liza mungkin. Aku lihat kalian cukup cocok dan akrab akhir-akhir ini." Hana berbicara dengan santai namun berbeda dengan hatinya yang sedang bergemuruh saat ini.
Dika menatap wajah Hana dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Jangan pernah mengambil kesimpulan dengan pemikiranmu sendiri tanpa kau tahu kebenarannya." Tekan Dika.
Hana menolehkan wajahnya hingga kini pandangan keduanya beradu.
Hana tertegun. Kembali mengalihkan pandangannya ke samping. "Cemburu?" Hana tertawa hambar. "Untuk apa aku cemburu padanya? Yang benar saja." Jawab Hana tanpa menatap wajah Dika karena ia tidak ingin Dika mengetahui kebohongannya.
"Jangan salah paham atas apa yang kau lihat. Aku dan dia tidak sedekat itu." Ucap Dika.
"Tidak dekat bagaimana? Kau dan dia terlihat sangat dekat dan ... cocok." Timpal Hana.
"Dekat dengannya bukan berarti aku nyaman dengannya. Aku hanya menghargainya karena dia adalah anak dari teman kedua orang tuaku dan teman masa kecilku dulu. Tidak lebih dari itu." Jelas Dika tanpa diminta.
Hana tertegun. Kembali menatap wajah Dika. "Untuk apa kau menjelaskannya padaku. Jika kau memiliki hubungan lebih dengannya itu juga cukup bagus. Kalian pasangan yang serasi." Ucap Hana membohongi hatinya.
"Karena aku tidak ingin kau semakin larut dengan pemikiranmu sendiri."
"Dika..." Ucapan Hana melayang begitu saja di udara saat Dika kembali memeluk erat tubuhnya.
"Jangan lagi mencoba menjauhiku saat kau sudah berani masuk mengusik hidupku." Ucap Dika dengan lirih.
"Dika..."
"Kau sudah membuatku terikat dengan bayang-bayangmu. Dan aku tidak ingin kau hilang begitu saja setelah mengacaukan hati dan hidupku."
"Dika, a-aku..." Ucapan Hana terasa tersangkut di tenggorokan saat Dika kini menatap intens wajahnya.
"Aku mencintaimu." Ucap Dika lalu dengan perlahan memajukan wajahnya hingga mengikis jarak di antara mereka.
"Kau—" ucapan Hana terputus saat bibirnya sudah dibungkam lebih dulu dengan ciuman yang Dika berikan.
***
Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰