Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Lebih baik seperti ini


"Uhuk." Makanan yang baru saja masuk di mulut Hana terasa tersangkut ditenggorokan setelah mendengar ucapan Dika.


"Ceroboh!" Umpat Dika. Menyerahkan segelas air putih miliknya ke hadapan Hana.


Hana buru-buru meminumnya walau mengetahui air minum itu adalah air bekas Dika. "Kau memintaku membayar semua ini nanti malam?" Tanya Hana sambil mengelus tenggorokannya.


"Ya." Balas Dika singkat.


"Aku harus membayarnya dengan apa? Lebih baik aku bayar sekarang saja." Ucap Hana. Selera makannya seketika hilang begitu saja karena mendengar ia harus mengganti biaya makannya siang ini.


"Aku tidak memintamu membayar dengan uang." Balas Dika.


"Lalu?" Kening Hana mengkerut.


Dika kembali pada mode diamnya dan kembali melanjutkan memakan makanan siangnya.


Dia ingin memintaku membayarnya dengan apa? Hana menatap Dika yang kini fokus menghabiskan makananya.


"Apa kau hanya ingin menatapku tanpa berniat menghabiskan makan siangmu?" Tegur Dika pada Hana yang terlihat melamun sambil menatapnya.


"Ti-tidak. Aku akan menghabiskan makan siangku." Hana kembali menyuapkan nasi beserta lauk ke dalam mulutnya dengan wajah kaku. Sungguh ia merasa malu karena ketahuan memperhatikan suaminya itu sejak tadi.


*


"Kita ingin kemana lagi?" Tanya Hana saat motor sudah kembali melaju di jalan raya.


"Diamlah dan lihat saja kemana aku akan membawamu pergi." Balas Dika lalu menambah kecepatan motornya. Hana pun sontak memeluk erat pinggang Dika hingga mengikis jarak di antara mereka.


Kecepatan motor Dika perlahan berkurang saat melewati kawasan persawahan. Hana meregangkan pelukannya di pinggang Dika. Matanya berbinar melihat hijaunya sawah yang memanjakan matanya.


"Indah sekali." Gumamnya lalu kembali memeluk erat pinggang Dika. Hana dibuat terkejut saat tangan Dika membelai tangannya yang kini bertaut di perutnya.


"Apa kau menyukainya?" Tanya Dika.


Hana mengangguk. "Aku sungguh menyukai pemandangan seperti ini." Balasnya.


Dika pun memberhentikan motor di pinggir sawah yang memperlihatkan hamparan sawah begitu luas di depannya.


"Ayo turun." Ucap Dika.


Hana mengangguk lalu turun dari atas motor diikuti Dika. "Sayang sekali aku lupa membawa ponselku. Rasanya aku sangat ingin memposting pemandangan ini." Keluh Hana dengan wajah cemberut.


"Pakailah." Dika menyodorkan ponselnya pada Hana.


"Kau ingin meminjamkan ponselmu untukku?" tanya Hana hati-hati.


Dika mengangguk membenarkan.


Senyuman lebar nampak terbit di wajah Hana. Hana tak menyia-nyiakan ponsel Dika yang kini telah beralih ke tangannya. Ia segera membuka aplikasi sosial media Dika lalu mencari efek yang bagus untuk mengambil video pemandangan sawah.


"Indah sekali." Gumam Hana sambil terus menggerakkan ponsel Dika mengambil video pemandangan sawah. "Sepertinya cuku bagus jika aku juga ikut dalam video ini." Hana pun membalikkan kamera hingga layar ponsel memperlihatkan wajahnya.


Senyuman manisnya terkembang. "Cantik sekali aku di sini." Pujinya melihat layar ponsel Dika. Setelah cukup mengabadikan pemandangan sawah dan menyimpan videonya di ponsel Dika, Hana pun berniat mengembalikan ponsel Dika. Namun niatnya ia urungkan saat mengingat ia belum mengambil fotonya sendiri di sini.


"Emh, Dika. Bisakah ku memfotokan aku di sini?" Tanya Hana dengan ragu.


Dika menggelengkan kepalanya.


Wajah Hana seketika cemberut. "Kenapa?" Tanyanya dengan wajah tertunduk.


Dika mengambil ponselnya dari tangan Hana lalu membuka kameranya. Mendekatkan tubuh Hana padanya lalu mengarahkan kamera depan ke wajahnya. "Lebih baik foto berdua seperti ini." Ucap Dika lalu mengambil foto selfie mereka berdua.


Deg


***


Lanjut? Ayuk berikan dukungannya dulu dengan cara vote, gift komen dan likenya di hari senin, ya🌹


Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_