Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pria tidak normal


"Apa kau hanya ingin memandang minumannya tanpa meminumnya?" Tanya Dika saat menatap Hana yang hanya diam sambil menatap teh di depannya.


"Aku tidak bisa meminumnya karena teh ini belum tentu milikku." Balas Hana sedikit menyindir.


"Kau sudah bisa meminumnya karena teh itu sudah menjadi milikimu." Balas Dika tanpa menunjukkan reaksi apa-apas.


Hana menipiskan bibirnya. Menahan mulutnya agar tak mengeluarkan kata kasar pada Dika yang membuatnya sudah naik darah hanya melihat wajah datarnya saja.


Dika kembali memainkan ponselnya setelah menyuruh Hana meminum tehnya. Pria itu nampak tak perduli dengan wajah Hana yang saat ini tengah menatap sebal kepadanya.


"Dika..." Hana memanggil Dika hingga Dika mematikan layar ponselnya lalu menatap Hana.


Dika menarik sebelah alisnya ke atas tanpa bersuara.


Hana kembali dibuat geram. "Apa suaramu itu sangat mahal hingga kau tidak bisa hanya berkata sebatas ada apa?" Sindir Hana tak dapat menahan kekesalannya.


"Ada apa?" Balas Dika.


Bukannya menghilangkan kekesalannya, pertanyaan Dika justru membuat Hana kembali menggeram. Entah apa yang diinginkan Hana saat ini.


"Apa suaramu sangat mahal hingga kau sangat irit berbicara?" Hana masih berupaya mengeluarkan kekesalannya.


"Tidak."


Hana mengelus dadanya. "Oh seperti itu." Balasnya menatap ke samping.


Berbicara atau tidak dia benar-benar membuatku naik pitam! Rutuk hati Hana.


"Apa kau hanya ingin menanyakan itu saja?" Tanya Dika.


Hana menarik nafas sejenak. "Tidak. Aku ingin bertanya apa waktu kau membawaku ke apartemen pertama kalinya kau tidak melihat sesuatu yang aneh pada tubuhku saat aku memakai baju putih pemberianmu?" Tanya Hana.


"Memangnya aku melihat apa?" Dika balik bertanya.


Aku menyesal bertanya padanya!


Lupakan rasa malu pada batu sepertinya.


"Oh." Dika menganggukkan kepalanya.


"Oh? Jawabanmu sungguh tidak bermanfaat." Kepala Hana menggeleng. Tangannya mulai terkepal. Sudahlah malu, Dika pun tak menjawab pertanyaannya dengan benar.


"Apa kau ingin aku mengatakan jika aku melihat bagaimana bentuk dadamu yang kecil itu?" Tanya Dika dengan datar.


"Apa?!" Hana terbelalak. Menundukkan wajahnya menatap pada kedua dadanya yang nampak padat dan berisi. Tidak seperti yang Dika katakan.


"Berani sekali kau mengatakan dadaku kecil, huh?!" Sembur Hana kemudian.


"Memang seperti itu faktanya. Dadamu tidak membuatku tertarik melihatnya walau tidak terbungkus bra." Balas Dika masih tanpa ekspresi.


Hana tiba-tiba bangkit dari duduknya. Membusungkan dadanya ke depan seolah menunjukkan kelebihannya.


"Aku rasa matamu harus diperiksa. Kau mengatakan hal yang tidak masuk akal atas apa yang kau lihat." Sindir Hana.


"Aku berkata apa adanya." Balas Dika.


Hana meluruskan badannya. Percuma saja berucap pada pria seperti Dika yang sangat menguji kewarasannya. Hana kembali duduk di sofa saat melihat Dika kini menatap intens wajahnya.


"Hana... Hana... kau hampir melupakan jika pria di depanmu saat ini tidak normal atau tidak memiliki ketertarikan pada wanita. Mana mungkin dia tertarik melihat bagian tubuhmu yang bisa dibanggakan ini." Hana berucap pada dirinya sendiri namun cukup keras hingga Dika dapat mendengarnya. Entah mengapa ia berani berkata frontal seperti itu. Namun Hana benar-benar ingin menguji kenormalan Dika.


Dika masih tak menunjukkan ekspresi apapun. Namun ia bergerak bangkit dari duduknya lalu mendekati Hana.


"Apa kau perlu pembuktian jika aku adalah pria normal?" Tanya Dika sambil membungkukkan tubuhnya hingga kini wajahnya dan wajah Hana sangat dekat. Bahkan Hana dapat kembali merasakan hembusan hangat nafas pria itu.


***


Berikan dukungan untuk karya Shy yuk dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Terimakasih