Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pemilik rumah sakit


"Sayang, apa kau masih tetap ingin berada di sini?" Tanya Hana sore itu saat mereka tengah duduk di balkon.


Dika menghentikan aktivitas tangannya yang sedang mengusap perut Hana. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau berniat mengusirku dari sini, hem?" Tanya Dika.


Hana menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu di rumah sakit?" Tanya Hana. Karena sudah hampir tiga hari Dika berada di rumah Mama Rita setelah kepulangannya dari rumah sakit dan Dika belum menunjukkan tanda-tanda ingin pulang untuk bekerja. "Kau akan mendapatkan surat peringatan jika libur terlalu lama." Lanjut Hana kemudian.


Dika tertawa kecil. "Apa kau takut aku dipecat dari rumah sakit?" Tanya Dika yang sudah menangkap maksud ucapan Hana.


Hana menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Aku yakin kau pergi tanpa memberikan surat izinmu lebih dulu." Ucap Hana.


"Bahkan jika aku libur satu tahun pun di rumah sakit tidak akan ada yang bisa memecatku." Balas Dika dengan datar.


"Apa? Kau jangan bercanda. Itu semua tidak mungkin." Hana menatap tak percaya pada Dika yang begitu percaya diri saat mengatakannya.


"Tidak ada yang tidak mungkin." Balas Dika. Tangannya pun kembali bekerja mengelus perut Hana dengan sayang.


"Kau sudah seperti pemilik rumah sakit saja." Seloroh Hana.


"Kau benar. Aku adalah pemilik rumah sakit itu." Balas Dika dengan santai.


"Apa?!" Hana seketika menahan tangan Dika yang masih mengelus perutnya. "Kau jangan bercanda!" Serunya.


"Apa kau pernah melihatku bercanda seperti ini sebelumnya?" Tanya Dika.


Hana menggeleng. "Jadi kau..." Hana tak dapat melanjutkan ucapannya.


"Ya. Rumah sakit tempatmu bekerja selama ini adalah milikku." Ucap Dika.


"Oh astaga..." Hana kembali menggeleng tak percaya. "Bagaimana bisa rumah sakit itu adalah milikmu?" Tanya Hana.


"Sudahlah tidak perlu membahasnya." Dika memilih tak ingin memperpanjang percakapan mereka karena ia tidak ingin setelah Hana mengetahui rumah sakit itu adalah milikinya akan membuat Hana kembali rendah diri.


"Tapi aku ingin membahasnya." Ucap Hana dengan bibir mengerucut.


Dika mengecup singkat bibir Hana yang mengerucut. "Tapi aku tidak ingin membahasnya." Balas Dika.


Dika tersenyum lalu mengusap gemas rambut istrinya. "Aku tidak ingin membahas hal yang bisa membuatmu berpikir yang tidak-tidak." Terang Dika.


"Tidak begitu. Bahkan saat ini aku sedang berpikir yang iya-iya." Balas Hana dengan senyum menggoda.


"A-apa?" Dika hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Hana.


Hana mengangguk dengan tersenyum malu-malu.


"Tunggulah di sini. Aku ingin membuatkan minuman untukmu." Ucap Dika lalu bangkit dari duduknya.


"Huh, baiklah." Balas Hana sambil menahan tawanya melihat wajah Dika yang memerah mendengar ucapannya.


Dika mengusap sebentar perut Hana lalu berlalu masuk ke dalam.


"Apakah kau sekaya itu Dika? Bahkan tempat ladang pencaharianku adalah milikmu juga?" Hana menghela nafas berat setelah kepergian Dika. Jujur saja saat ini ia semakin merasa kerdil berada di dekat Dika. Namun melihat betapa Dika tidak sedikit pun membedakan status sosial di antara mereka membuat hati Hana sedikit tenang.


"Pantas saja kau begitu mudah mengambil cuti untukku saat kita bulan madu kemarin." Hana pun mulai mengingat bagaimana dirinya begitu dimudahkan dalam mengambil cuti di rumah sakit tidak sama seperti beberapa tahun lalu sebelum menikah dengan Dika.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.