
"Kenapa tidak boleh? Bukankah dalam surat perjanjian tertulis jika kita tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain?" Tanya Hana dengan bingung.
"Kau harus ingat jika aku bisa sewaktu-waktu merubah isi surat perjanjian itu." Tekan Dika. Lalu berjalan begitu saja meninggalkan Hana yang masih dibuat bingung dengan sikapnya.
"Dia itu aneh sekali." Hana menggelengkan kepala merasa bingung dengan perubahan sikap Dika yang mudah berubah-ubah.
Di balik tembok yang tidak terlalu jauh dari Hana berada, seseorang nampak bersembunyi saat Dika berjalan melewatinya.
"Dokter Hana? Bagaimana bisa Dokter Hana dan Dokter Dika pergi bersama?" Seseorang itu nampak bertanya-tanya seorang diri sambil menebak-nebak apa yang terjadi.
*
Hana terlihat keluar dari dalam ruangan pasiennya dengan senyum terkembang di kedua sudut bibirnya. Wajahnya nampak lega setelah memeriksa kondisi pasiennya yang terkena demam tinggi beberapa hari yang lalu sudah dalam keadaan normal kembali.
"Dokter Hana, ada seorang wanita yang datang mencari anda." Suara Fitri yang terdengar tiba-tiba di belakang tubuhnya membuat Hana terkejut lalu mengelus dadanya.
"Fitri, kau mengagetkanku!" Hana menepuk pelan lengan Fitri.
Fitri mengatupkan kedua tangannya tanda permohonan maaf namun bibirnya nampak menahan tawa. Entah mengapa ia sangat menyukai melihat Hana terkejut seperti itu.
"Wanita siapa yang kau maksud?" Hana berjalan diikuti Fitri di sampingnya.
"Nona yang beberapa bulan melahirkan di rumah sakit ini." Fitri mengingat-ingat siapa nama wanita yang ia maksud namun tak dapat mengingatnya.
"Siapa? Kau pikir hanya ada satu wanita yang melahirkan di rumah sakit ini?" Cetus Hana. Kepalanya menggeleng merasa tak habis pikir dengan ucapan Fitri.
"Lebih baik Dokter langsung melihatnya saja. Saya melupakan nama Nona itu." Fitri menggaruk keningnya yang tak gatal merutuki penyakit pelupanya.
Hana hanya menggelengkan kepalanya membalas ucapan Fitri. Kakinya terus melangkah hingga ia sampai di depan ruangan khusus untuknya.
"Hana..." Kyara bangkit dari duduknya lalu memeluk tubuh Hana barang sejenak.
"Apa kau sudah lama menungguku?" Hana menyematkan senyuman manisnya sebagai bentuk rasa senang akan kedatangan Kyara.
"Tidak, aku baru saja sampai." Balas Kyara ikut tersenyum.
Hana mengangguk paham lalu berjalan ke arah tempat duduknya.
"Ayo duduk dulu," Hana mendaratkan bokongnya di atas kursi kerjanya setelah meletakkan alat-alat pemeriksaannya di atas meja.
Kyara pun turut mendaratkan bokongnya di atas kursi kembali. "Apa kau sedang sibuk? Maaf jika aku mengganggu waktumu." Tutur Kyara.
Hana menggelengkan kepalanya. "Kau tidak mengganggu. Kebetulan aku sedang senggang. Tidak ada pasien yang harus aku periksa."
"Syukurlah.... oh iya, Hana, kedatanganku ke sini karena aku memiliki tujuan." Ucap Kyara.
"Tujuan? Tujuan apa, Kya?" Kening Hana mengkerut. "Lalu dimana kedua bayimu?" Tanya Hana kemudian setelah menyadari Kyara hanya membawa tubuhnya sendiri.
"Kedua bayiku ada di rumah bersama pengasuhnya. Dan tujuanku datang ke sini karena aku ingin memberikanmu tiket bulan madu." Kyara mengeluarkan sebuah tiket dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Hana.
"Tiket bulan madu?" Kening Hana mengkerut. Ia membaca setiap kata yang tertulis di tiket yang Kyara pegang. "Tiket bulan madu ke Bali?" Ucap Hana kemudian.
Kyara mengangguk membenarkan. "Tiket bulan madu ini adalah hadiah dari aku dan Gerry atas pernikahanmu dan Dika. Aku harap kau menerima tiket ini karena Dika telah menerima tiket yang diberikan Gerry untuknya." Tutur Kyara.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya dulu ya😊