Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Ungkapan perasaan


"Gerry?" William tersenyum kaku menatap Gerry yang kini menatap tidak ramah kepadanya. "Sejak kapan kau berada di sini? Bukankah tadi kau pamit ke kamar mandi?" Tanya William berupaya mengalihkan pembicaraan.


"Cukup lama untuk mendengarmu membawa namaku dalam permasalahan Dika." Sindir Gerry.


"Sudahlah... kalian berdua itu sama saja. Sekarang ayo masuk ke dalam. Bukankah kalian ingin melihat keadaan Hana?" Ucap Mama Puspa yang tidak ingin kedua sahabat anaknya ribut karena hal sepele.


Gerry dan William mengangguk lalu mengikuti langkah Mama Puspa masuk ke dalam ruangan rawat Hana.


"Sayang... tapi aku tidak mau dirawat di sini." Suara Hana terdengar lesu saat mendengar ucapan Dika yang memintanya dirawat satu malam di rumah sakit untuk memastikan keadaan kedua bayinya baik-baik saja.


"Tidak ada bantahan, Sayang. Aku melakukan ini semua hanya untukmu dan anak-anak kita." Tutur Dika.


"Tapi..." Hana yang hendak kembali protes mengurungkan niatnya saat mendapatkan tatapan datar dari Dika. "Agh baiklah. Terserah kau saja." Ucap Hana pada akhirnya.


Dika tersenyum tipis lalu mengusap sayang rambut Hana. "Aku senang jika kau menurut seperti ini." Ucapnya lembut.


Hana hanya tersenyum membalas ucapan Dika walau dalam hatinya ia begitu dongkol.


"Kau lihat Dika? Sebentar lagi dia akan masuk ke dalam deretan Papa bucin." Ucap Gerry sedikit berbisik pada William.


"Jelas saja. Dia pasti ingin mengulang kebucinannya saat kuliah dulu dengan Hana setelah melewati salah paham yang berkepanjangan." Balas William yang turut berbisik.


Gerry mengangguk membenarkan. Gerry dan William pun kembali fokus mendengarkan percakapan Hana dan Dika yang kini sepertinya tidak menyadari kehadiran mereka karena terlalu fokus dalam pembicaraan mereka masing-masing.


*


Satu bulan berlalu.


"Aku menyukaimu." Ucap Arka pada Fitri tiba-tiba di taman rumah sakit siang itu.


"A-apa?" Mendengar ungkapan perasaan Arka membuat tubuh Fitri menegang dan wajahnya memucat. "Dokter jangan bercanda!" Fitri menepuk lengan Arka mencoba menghilangkan kegugupannya.


Deg


Jantung Fitri berdetak lebih cepat mendengar ucapan Arka yang terdengar serius di telinganya. Fitri terdiam dengan kepala tertunduk. Hati dan pemikirannya diliputi kebingungan untuk menjawab ungkapan perasaan Arka saat ini. Di satu sisi ia memang menaruh perasaan pada Arka. Namun di sisi lain ia sadar siapa dirinya dan siapa Arka.


"Sepertinya Dokter salah mengartikan perasaan Dokter pada saya." Ucap Fitri setelah cukup lama terdiam.


"Saya tidak pernah salah mengartikan perasaan saya. Kau tahu selama dua bulan terakhir ini saya selalu berusaha menerjemahkan apa yang ada di hati dan pemikiran saya hingga akhirnya saat ini saya sudah dapat menyimpulkannya." Balas Arka.


Fitri mengangkat kepalanya yang tertunduk. "Apa alasan Dokter bisa menyukai saya? Dokter tahu jelas siapa saya dan siapa Dokter." Ucap Fitri.


"Tidak ada alasan apa pun yang mendasari saya menyukaimu. Perasaan itu tumbuh begitu saja seiring seringnya pertemuan di antara kita. Aku rasa kau cukup paham jika mencintai sesorang tidak perlu memiliki sebuah alasan." Balas Arka.


"Saya paham. Tapi Dokter juga harus paham dan sadar derajat di antara kita. Saya rasa Dokter sudah paham kemana arah pembicaraan saya saat ini." Fitri tersenyum kaku walau hatinya saat ini menjerit.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.