Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Lembaran baru setelah hari itu


Jangan tanyakan bagaimana keadaan Hana setelah kepergian cinta pertamanya untuk mengejar impiannya waktu itu. Hancur, itu sudah pasti. Hatinya benar-benar hancur. Kekasih hatinya telah pergi dan entah kapan akan kembali. Kekasih hatinya pergi membawa kebencian untuk dirinya akibat kebohongan yang ia ciptakan sendiri.


Jika ditanya menyesal, Hana tidaklah menyesal. Ia tidak pernah sekali pun menyesali keputusan yang telah ia ambil. Karena menurutnya keputusan itu adalah keputusan yang tepat. Bagaimana tidak, jika ia tidak berpura-pura menyakiti Dika waktu itu, pastilah Dika masih tetap berada di tempat yang sama dengannya setelah Dika mengetahui masalah besar yang sedang dihadapinya waktu itu.


Hari-hari setelah kepergian Dika ia lewati dengan tangisan yang tiada henti. Tiga bulan setelah acara wisuda Dika, Hana dan Amel pun akhirnya diwisuda. Hari yang ia harapkan selama ini menjadi hari membahagiakan itu sirna begitu saja setelah kepergian Dika. Namun Hana tak berkecil hati, dengan kehadiran Mama dan kedua sahabatnya cukup menutupi luka di hatinya.


Walau pun sakit setelah kepergian kekasih hatinya, namun Hana terus berusaha bangkit dalam keterpurukannya. Ada sosok yang harus ia buat bahagia, siapa lagi jika bukan Mama Rita, Mama yang telah melahirkannya dengan mengorbankan hidup dan matinya.


Dua bulan setelah diwisuda, Hana dan Mama Rita pun memutuskan untuk menjual rumah mereka. Rumah yang menjadi saksi tumbuh dan kembangnya seorang gadis cantik bernama Hana. Bukan tanpa alasan Hana menyetujui menjual rumahnya, menurutnya jika ia dan Mama Rita terus tinggal di rumahnya, itu hanya akan membuat Mama Rita terus bersedih karena terus teringat kenangannya bersama papanya.


*


Hana menutup lembaran foto terakhir Dika yang tersimpan rapi di dalam buku hariannya. Kenangannya bersama Dika ia tulis dengan rapi dalam buku hariannya yang kini sudah hampir penuh. Hana meletakkan kembali buku hariannya ke dalam laci meja kerjanya.


Pandangan Hana menerawang jauh pada sosok pria yang begitu dicintainya. Siapa lagi pria itu jika bukan Dika. Nama Dika tidak pernah hilang di hati dan benaknya. Pria itu tetap memenangkan hatinya hingga sampai saat ini.


Enam tahun sudah setelah kepergian Dika mengejar impiannya di negeri orang. Dan selama itu pula Hana selalu menguatkan hati dan pemikirannya agar tidak mencaritahu bagaimana keadaan pria itu sampai saat ini.


"Hana, kau belum tidur?" Suara lembut Mama Rita membuat lamunan Hana buyar. Hana menolehkan wajahnya ke arah pintu dimana kepala Mamanya nampak menyembul di sana.


"Sebentar lagi Hana akan tidur. Kenapa Mama belum tidur?" Hana kembali bertanya.


"Mama baru saja menyelesaikan pekerjaan kantor yang Mama bawa pulang." Mama Rita masuk ke dalam kamar Hana lalu mendekati Hana. "Sebaiknya kau segera tidur agar kau tidak terlambat bekerja besok pagi." Tutur Mama Rita sambil mengelus bahu putrinya.


Hana mengangguk. "Hana akan tidur sebentar lagi." Hana menimpali tangan Mamanya dengan tangannya.


Mama Rita tersenyum. "Baiklah, kalau begitu Mama kembali ke kamar dulu." Pamit Mama Rita yang diangguki oleh Hana.


Hana menghela nafas panjang setelah pintu kamarnya kembali tertutup rapat. Ia pun bangkit dari kursi menuju ranjang. Ia sudah harus mengistirahatkan hati dan pemikirannya untuk menyambut esok hari untuk kembali bekerja di rumah sakit yang sudah tiga tahun terakhir ini menjadi tempat dirinya bekerja.


***