
"Rasanya sungguh melelahkan." Dika menyandarkan punggungnya di sandaran sofa seraya memejamkan kedua matanya. Dari sejak siang ia pulang dari perusahaan sampai sore harinya, ia dan Hana disibukkan dengan mengurus kedua bayi kembar mereka yang terus ribut bagaikan tom dan jerry.
"Apa kau lelah?" Hana yang baru saja mendaratkan bokongnya di atas sofa pun bersuara.
Dika membuka kedua kelopak matanya. "Cukup lelah. Kau pasti juga lelah." Balas Dika.
"Hal ini sudah biasa aku rasakan." Ucap Hana lalu tersenyum. Dika menegakkan tubuhnya. Menatap wajah cantik istrinya dengan intens.
"Kau senang melakukannya?" Tanya Dika melihat senyuman tulus di wajah Hana.
"Ya. Walau lelah seharian menjaga Alan dan Alana yang sangat aktif, namun rasa lelah itu bisa hilang begitu saja saat melihat senyuman dan tawa di wajah mereka." Hana membayangkan wajah menggemaskan kedua buah hatinya saat tersenyum dan tertawa.
"Sayang..." Dika membawa tubuh Hana ke dalam dekapannya. "Aku tahu tidak mudah untuk kau menjadi seorang ibu. Maaf jika aku kurang memberikan perhatian dan semangat untukmu." Ucap Dika mengingat kesibukannya akhir-akhir ini.
"Tak masalah. Aku paham dengan kesibukanmu. Cukup kau berada di sampingku itu sudah cukup menjadi obat di saat lelahku." Balas Hana.
Tangan Dika semakin erat memeluk tubuh Hana. Semakin hari maka semakin bertambah pula rasa sayangnya pada istri dan anak-anaknya. Terlebih pada Hana. Wanita yang telah mengorbankan karirnya untuk mengurus kedua buah hatinya.
Ya, semenjak kelahiran Baby Alan dan Alana Hana memang memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurus sendiri kedua buah hatinya tanpa bantuan Baby sister. Walau Dika sering menawarkan pada Hana jasa Baby Sister karena tak tega melihat istrinya yang kewalahan menjaga kedua buah hatinya, namun Hana selalu menolak tawaran Dika. Terlebih ia merasa takut dengan berita yang beredar tentang efek buruk penggunaan Baby Sister.
Lagi pula menurut Hana selagi ia mampu ia tidak akan membiarkan kedua buah hatinya dirawat oleh orang lain. Saat ini Hana hanya ingin merawat kedua buah hatinya seorang diri dan menikmati peran menjadi seorang ibu.
"Jika kau sangat lelah dan membutuhkan bantuan dari orang lain maka kabari aku." Ucap Dika merujuk pada tawaran Baby Sister.
Dika hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Hana. Ia pun tak lagi memaksakan kehendaknya jika istrinya sendiri tak ingin. Lagi pula selama dua tahun merawat kedua buah hatinya Hana tak sekali pun melupakan kewajibannya sebagai istri untuk Dika. Setiap harinya Hana selalu menyempatkan membuatkan sarapan dan makan siang untuk diantar ke perusahaan Dika. Dan jika sore harinya Hana juga selalu menyempatkan membuatkan makanan untuk makan malam mereka walau peran Bu Sarni juga ada di setiap kegiatannya.
"Aku sangat mencintaimu istriku." Ucap Dika lalu memberikan kecupan singkat di bibir Hana.
Hana tersenyum mendengarnya. Ia pun membalas kecupan Dika yang berakhir dengan ciuman panas di antara mereka.
"Jika kau tidak lelah aku sangat ingin memakanmu saat ini." Ucap Dika dengan nafas yang terdengar naik turun.
"Benarkah begitu?" Tangan Hana meraba sesuatu yang menjadi pusat sensitif Dika.
"Sst-sayang..." Dika mencoba menjauhkan tangan Hana yang semakin nakal bekerja di titik sensitifnya.
"Aku ingin dimakan olehmu, Sayang." Ucap Hana dengan suara menggoda.
***
Lanjut? Berikan vote, komen, like dan hadiahnya dulu yuk.
Sambil menunggu BSM update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Takdir Setelah Perpisahanš¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.