
Suara tawa yang terdengar menggelegar mengisi percakapan empat orang pria dewasa yang kini berada di dalam ruangan kerja Dika. Empat orang pria dewasa yang tak lain adalah Gerry, William, Dika dan Calvin memang memutuskan untuk berkumpul di perusahaan Dika untuk menyambut kedatangan Calvin di Indonesia sore itu.
"Jadi saat ini Bianca tengah mendiamkanmu karena salah paham?" William tak henti mencecar Calvin dengan pertanyaan dan diakhiri dengan tawa mengejek.
Calvin menatap datar pada adik kandungnya itu. "Ya. Wanita yang pernah kau lihat di perusahaanku waktu itu tiba-tiba datang dan mengaku-ngaku memiliki seorang anak dariku." Balas Calvin.
William melipat bibirnya ke dalam. "Dan kau begitu bodoh tidak mencari bukti atas kebohongannya? Dan membiarkan Bianca salah paham kepadamu?" Tanya William.
"Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan. Aku sudah mencari buktinya dan akan berada di tanganku besok hari." Tekan Calvin.
"Lalu apa yang kau takutkan?" Sebelah alis tebal William terangkat.
"Aku hanya takut Bianca tidak percaya walau aku sudah mendapatkan buktinya." Calvin mengusap kasar rambutnya ke belakang. "Terlebih saat ini Bianca sudah dekat dengan persalinan. Aku takut dengan masalah ini membuatnya kepikiran terlalu berat dan membahayakan anak kami.
Wajah William seketika berubah tegang. Hampir saja ia melupakan jika saat ini kakak iparnya itu tengah mengandung dan akan melahirkan sebentar lagi.
"Semenjak hamil anak kedua kami, Bianca menjadi wanita yang sangat sensitif. Dia bahkan pernah menangis sepanjang malam hanya karena takut aku meninggalkannya."
Gerry dan William saling pandang. William pun memberikan isyarat mata pada Gerry untuk berbicara.
"Apa kau masih saja bersikap datar padanya tanpa menunjukkan sisi romantis?" Tanya Gerry.
Calvin menatap ke arah Gerry yang tengah menatapnya dengan intens. "Kau tahu betul sikapku tidak pernah berubah." Balas Calvin.
"Oh astaga..." Gerry mengusap wajahnya. "Pantas saja Bianca selalu menangis di depanmu. Itu karena dia tidak tahan dengan wajahmu yang selalu datar dan kaku. Tidak ubahnya seperti Dika." Seloroh Gerry.
Puk
"Hei! Apa yang kau lakukan!" Seru Gerry menatap sebal Dika.
"Kenapa kau membawa namaku di dalam percakapanmu dan Calvin?" Bukannya menjawab, Dika justru melemparkan pertanyaan.
"Itu karena kalian memiliki kesamaan yang hampir sama seluruhnya." Timpal William.
Puk
Lagi bantal sofa melayang namun kali ini di wajah William.
"Sudah aku katakan jangan membawa namaku!" Sembur Dika.
"Jika tidak membawa namamu lalu aku harus membawa nama siapa? William? Kan tidak mungkin. Karena jelas-jelas sikap kau dan Calvin itu sama. Sama-sama tidak tersentuh." Kesal Gerry.
Dika menatap malas kedua sahabatnya lalu memilih untuk diam dan membiarkan kedua sahabatnya kembali angkat mulut mengomentari sikap Calvin yang disangkutpautkan padanya.
"Jadi kau ingin kami membantumu untuk membuat Bianca percaya kepadamu begitu?" Tanya Gerry setelah Calvin membahas dengan jelas duduk permasalahan di antara mereka.
Calvin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku bukanlah orang yang mahir dalam meminta wanita untuk memaafkanku. Namun satu yang harus kalian yakini jika aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain Bianca." Jelas Calvin.
Gerry, Dika dan William saling pandang sebelum akhirnya mengangguk menyetujui. Lagi pula tanpa diminta mereka pasti akan membantu Calvin yang saat ini berada dalam masalah besar dimana sang istri yang tengah hamil besar tidak mempercayainya.
***
Lanjut? Votenya dulu yuk🤗