
"Apa Dika benar memiliki ketertarikan kepadaku?" Pertanyaan itu terus berputar di benak Hana setelah mendengar ucapan Amel beberapa hari yang lalu.
Hana menatap langit kamarnya dengan pandangan kosong. Ingatannya kembali berputar pada setiap kejadian yang ia lewati dengan Dika selama tiga semester belakangan ini.
"Dika..." seulas senyuman nampak terbit di bibir Hana saat mengingat wajah dingin Dika yang selalu membuatnya naik darah. "Di balik sikap dinginnya, Dika memiliki rasa simpati yang besar pada orang-orang di sekelilingnya." Gumam Hana mengingat betapa banyaknya kebaikan Dika kepada teman-temannya yang membutuhkan bantuannya dan juga kepadanya.
Malam semakin larut, Hana pun semakin larut dalam lamunannya tentang Dika hingga tanpa sadar kedua kelopak matanya pun mulai tertutup saat rasa kantuk yang teramat mulai menyerang matanya.
*
Pagi ini Hana lewati dengan senyuman merekah di bibirnya. Entah mengapa mood paginya terasa semakin membaik hanya karena mengingat wajah Dika. Hana melangkahkan kakinya semakin lebar dengan sedikit berlari agar cepat sampai ke dalam kelasnya. Rasanya ia sungguh tidak sabar melihat wajah Dika di dalam kelasnya setelah melihat mobil Dika sudah terparkir di parkiran kampus.
Saat sudah berada di ambang pintu Hana menghentikan langkahnya karena melihat Dika dan Liza nampak berbicara sangat akrab satu sama lain. Hal yang tidak pernah Hana lihat selama tiga semester ini.
Merasa ada seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu, Liza dan Dika pun menatap ke arah pintu dimana Hana nampak memperhatikan mereka.
"Hana..." Ucap Liza dengan tersenyum pada Hana.
Hana diam. Pandangannya kini terisi penuh pada wajah Dika yang sejak tadi sangat ingin dilihatnya namun kini membuatnya menyesal karena ingin melihat wajah itu.
Hana mengalihkan pandangannya ke samping. Entah mengapa hatinya terasa sakit melihat Dika begitu dekat dengan Liza. Bukankah wanita itu sudah tak lagi mengejar Dika sejak ia membuktikan hubungan palsu mereka? Namun apa yang ia lihat saat ini? Bahkan Dika yang biasanya acuh pada Liza pun nampak tersenyum pada Liza.
Hana melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas dengan lamban. Ia mengalihkan pandangannya ke samping seolah-olah sedang mencari kursi padahal tak ingin melihat keakraban Dika dan Liza.
"Apa kau tahu Dika, aku sangat terkejut saat mengetahui kau adalah teman pria masa kecilku dulu." Suara Liza terdengar cukup keras hingga telinga Hana dapat menangkap ucapannya.
"Setelah kepindahanmu ke kota ini, aku selalu merindukanmu setiap harinya. Aku selalu berharap kita akan bertemu kembali." Ucap Liza.
Hana menjatuhkan bokongnya dengan kasar di atas kursi hingga menimbulkan suara cukup keras.
Dika menolehkan kepalanya ke belakang. Hana pun buru-buru menatap ponselnya saat menyadari tatapan Dika.
"Setelah tadi malam aku mengetahui jika kau adalah teman masa kecilku, aku rasanya sungguh tidak sabar mengatakannya kepadamu." Ucap Liza. Suaranya masih terdengar cukup keras hingga Hana dapat mendengarnya.
Liza pun mengeluarkan sesuatu di dalam tas sandangnya. "Kau lihat ini? Ini adalah foto kita waktu kecil dulu? Sungguh imut sekali bukan?" Liza mengangkat beberapa lembar foto di tangannya ke wajah Dika.
"Kau masih menyimpannya?" Wajah Dika nampak terkejut melihat foto-foto kebersamaannya dan Liza masih tersimpan.
"Tentu saja. Aku tidak mungkin menghilangkan kenangan dari pria yang sangat aku sayangi." Balas Liza sambil tersenyum.
***
Lanjut?
Mohon berikan dukungan untuk karya shy dengan cara like, komen dan votenya. Teman-teman juga bisa memberi gift dalam bentuk poin🥰
Semakin banyak dukungannya, shy semakin semangat melanjutkan ceritanya. Hehe☺️