
"Ada hubungan apa kau dengan Dokter Dika?" Tanta Gia tanpa menjawab pertanyaan Hana.
Kening Hana mengkerut. "Kenapa anda bertanya seperti itu?" Tanya Hana merasa bingung.
"Aku tidak memintamu untuk bertanya!" Cetus Gia.
Kening Hana semakin mengkerut. "Ada hubungan apa aku dengan Dokter Dika sepertinya itu bukan urusan anda." Balas Hana mencoba untuk tenang.
Gia berdecih. Ia tatap wajah Hana dengan tatapan tidak suka. "Tentu saja itu urusanku karena Dokter Dika adalah pria yang aku idamkan sejak dulu!" Cetus Gia.
Hana tertawa mendengarnya. Kini Hana sudah paham arah pembicaraan manusia rubah di depannya. "Sama sepertimu, aku juga mengidamkan Dika sejak dulu." Balas Hana tanpa menyebutkan Dokter pada Dika.
Tangan Gia terkepal. "Beraninya kau menjawab ucapanku!" Cetus Gia lalu mendorong bahu Hana dengan jari telunjuknya.
"Dokter Gia. Sepertinya anda mengganggu waktu saya untuk masuk ke toilet." Walau merasa geram namun Hana tetap mencoba tenang manusia rubah di depannya.
"Kau bilang kami mengganggumu?" Yuni tertawa. "Seharusnya kami yang berkata seperti itu. Karena sifat murahanmu membuat kami harus membuang waktu untuk memberi pelajaran untukmu!" Cetus Yuni.
"Atas dasar apa anda mengatakan saya murahan?" Wajah Hana berubah berang mendengar ucapan Yuni.
"Lalu kata apa yang pantas untuk wanita penggoda seperti dirimu?" Tantang Yuni.
Kedua tangan Hana terkepal. Ingin sekali ia melayangkan pukulannya ke wajah Yuni. Namun mengingat saat ini ia tengah mengandung membuatnya mengurungkan niatnya.
"Aku tahu kau pasti sudah menyerahkan tubuhmu pada Dokter Dika hingga Dokter Dika mau menerimamu menjadi pasanganny." Cibir Gia.
Hana tertawa. "Kau sudah seperti seorang peramal saja. Dan untungnya ramalanmu itu benar karena aku memang sudah menyerahkan tubuhku pada Dika." Balas Hana tanpa takut.
"Dasar wanita murahan!" Gia semakin geram mendengar ucapan Hana. Kedua tangannya pun terkepal erat dengan wajah merah padam.
"Ya. Aku memang murahan jika berada di dekatnya!" Cetus Hana.
"Kau..." Yuni yang sudah merasa geram pun mendorong tubuh Hana hingga membut Hana mundur beberapa langkah.
Hana memperhatikan sekitarnya. Melihat gerak-gerik Gia dan Yuni saat ini membuatnya menebak jika mereka akan berbuat buruk padanya.
Kenapa tidak ada orang sama sekali di sini? Ucap Hana dalam hati.
"Jika aku tidak mau?" Tantang Hana.
Gia tersenyum menyeringai. Tangannya pun bergerak cepat memutar tangan Hana ke belakang tubuhnya. Sedetik kemudin ia pun mendorong tubuh Hana hingga kening Hana menabrak dinding kamar mandi.
"Aw..." Hana meringis merasakan sakit pada keningnya.
"Jika kau tidak mau maka kau akan mendapatkan pelajaran yang lebih dari pada ini!" Ancam Gia.
"Aku tidak pernah takut dengan ancamanmu!" Balas Hana dengan tatapan yang sudah berubah berang.
"Yuni..." Gia menatap Yuni dengan tatapan memerintah.
Yuni mengangguk lalu mendekat pada Hana. "Jangan pernah berani melawan kami atau kau akan rasakan hal yang lebih berat dari pada ini!" Yuni pun turut mengambil sebelah tangan Hana lalu mendorong kuat tubuh Hana hingga membuat Hana jatuh ke lantai.
"Aw..." ringisan Hana terdengar lebih kuat dari pada sebelumnya karena saat ini bukan keningnya yang sakit melainkan perutnya.
"Ayo kita pergi!" Ajak Gia setelah menatap Hana dengan tersenyum mengejek.
Yuni mengangguk lalu keluar dari dalam kamar mandi mengikuti Gia. Tak lupa mereka pun mengunci pintu kamar mandi dari luar.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.