Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Siapa pria itu?


"Sepertinya besok aku sudah bisa pindah ke apartemen." Gumam Hana saat baru saja keluar dari dalam mobilnya pagi itu. Sebelum meninggalkan area parkiran, Hana menyempatkan menatap satu persatu mobil yang terparkir untuk mencari satu mobil yang mungkin saja miliki Dika. Melihat tidak adanya tanda-tanda yang ia dapat, Hana kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan area parkiran.


"Hana..." Suara seorang wanita yang sangat dikenalinya membuat Hana yang hendak masuk ke dalam lobby rumah sakit terhenti.


"Winda..." Hana melebarkan senyumannya melihat teman baiknya selama di rumah sakit.


"Kau sudah kembali masuk kerja?" Tanya Winda. Menggenggam tangan Hana dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


Hana mengangguk sambil terus melangkah. "Aku sudah masuk sejak kemarin." Balas Hana.


"Ooh... kenapa kau tidak mengabariku?" Cetus Winda.


"Untuk apa aku mengabarimu?" Balas Hana sambil tersenyum mengejek.


"Ish, kau ini menyebalkan sekali!" Gerutu Winda yang membuat Hana tertawa.


"Bukannya tidak mau mengabarimu, tapi aku tidak ingin mengganggumu yang sedang seminar." Terang Hana kemudian.


"Kau benar sekali. Ikut seminar kemarin membuatku tidak dapat melihat ponselku." Balas Winda.


"Aku sudah paham dengan itu." Balas Hana seraya tersenyum.


Hana dan Winda pun terus berjalan hingga sampai di depan ruangan Hana.


"Kalau begitu aku masuk dulu." Pamit Hana.


Winda mengangguk. "Jangan lupa mengajakku untuk ikut ke apartememu besok." Ucap Winda.


"Aman, aku akan mengabarimu jika aku jadi pindah besok hari."


*


"Siapa pria itu? Kenapa wajahnya seram sekali." Gumam Hana memperhatikan raut tak menyenangkan di wajah pria yang sedang berbicara dengan Dika.


"Hei... Kau sedang memperhatin siapa?" Tepukan di bahu Hana membuat Hana yang sedang memperhatikan Dika dari jauh terlonjak kaget.


Hana mengelus dadanya. "Kau mengagetkanku saja, Winda!" Sungutnya.


"Apa kau sedang memperhatikan Dokter tampan itu?" Goda Dokter Winda terkekeh kecil. "Kau ternyata termasuk salah satu penggemarnya, ya?" Godanya lagi.


"Sembarangan!" Hana menepuk bahu rekan kerjanya keras. "Aku hanya ingin memastikan dengan siapa dia berbicara. Karena baju pria itu terdapat banyak bercak darah!" Kilahnya menunjuk pada seorang pria yang tadi berbicara dengan Dika yang sudah hampir hilang dari pandangannya.


"Alasan saja..." Kepala Dokter Winda menggeleng beberapa kali. "Apa kau baru melihat Dokter Dika hari ini?" Tanya Winda.


Hana mengangguk berbohong. Sebenarnya aku sudah melihatnya sejak kemarin. Ucapnya dalam hati. "Dia dokter baru ya di sini?" Tanya Hana memastikan.


"Benar. Dokter Dika adalah dokter spesialis yang handal dari luar negeri yang pindah tugas ke sini. Dia baru saja masuk empat hari yang lalu saat kau cuti melahirkan." Balas Dokter Winda dengan tersenyum jenaka.


"Melahirkan kau bilang?!" Dokter Hana kembali menepuk bahu Dokter Winda. Rekan kerjanya ini sungguh menyebalkan. "Aku itu cuti sakit, WINDA!" tekannya.


Dokter Winda mengangguk. "Ya, itu maksudku!" Dokter Winda segera berlalu meninggalkan Hana yang masih bersungut di tempatnya. "Pukulannya keras juga!" Gerutu Winda mengelus bahunya yang terasa sakit. "Lebih baik aku segera menjauh dari pada bahuku akan tanggal sebentar lagi." Ucapnya semakin cepat berjalan menjauh dari Hana.


***


Lanjut? Komennya dulu yuk🌹